Kisah Driver Ojol di Manado Terjebak Tawuran Antar Kelompok Saat Antar Pesanan, Takut Sekali
Alpen Martinus February 12, 2026 06:22 AM

TRIBUNMANADO.CO.ID,MANADO – Kota Manado, Sulawesi Utara, belakangan banyak kejadian tawuran antar kelompok.

Baik kelompok warga hingga siswa, membuat petugas harus kerja ekstra.

Hampir setiap malam ada saja laporan tawuran antar warga yang meresahkan.

Baca juga: Kronologi Seorang Anggota Brimob Kena Panah Wayer Saat Pengamanan Tawuran di Sindulang Manado

Sebabkan warga enggan untuk keluar malam hari.

Peristiwa tersebut disebut masih kerap terjadi di sejumlah wilayah yang dianggap sebagai titik rawan, terutama pada malam hari.

Beberapa lokasi bahkan terkesan sudah menjadi arena bentrok bagi kelompok tertentu. 

Kondisi ini menimbulkan kecemasan di tengah masyarakat yang merasa keamanan belum sepenuhnya terjamin.

Mateos, warga Ranotana, Kecamatan Wanea, mengungkapkan keresahannya. 

Ia menilai situasi Kota Manado belakangan ini tidak dalam keadaan baik.

“Menurut saya, Kota Manado saat ini tidak baik-baik saja. Banyak aksi tawuran kerap terjadi di berbagai tempat,” ujarnya saat diwawancarai di area Jalan Sam Ratulangi, Ranotana, Rabu (11/2/2026) malam.

Ia mengatakan, hampir setiap pekan selalu ada kabar mengenai aksi serupa. 

Menurutnya, hal tersebut seolah-olah mulai dianggap biasa, padahal dampaknya sangat meresahkan masyarakat.

Mateos juga menyoroti citra Manado yang selama ini dikenal sebagai kota religi. 

Ia berharap aksi-aksi kekerasan tersebut tidak merusak nama baik yang telah dibangun bertahun-tahun.

“Jangan sampai mereka merusak nama baik tersebut yang sudah dibangun selama bertahun-tahun,” pungkasnya.

Meski demikian, ia tetap mengapresiasi kinerja kepolisian yang dinilai terus berupaya mengamankan dan membubarkan setiap aksi tawuran yang terjadi.

Hal senada juga disampaikan Rocky, seorang pengemudi ojek online (ojol). 

Ia mengaku pernah mengalami langsung situasi mencekam saat sedang bekerja pada malam hari.

Saat itu, Rocky tengah mengantarkan pesanan makanan costumer yang dipesan via aplikasi.

“Pas saya tiba di lokasi, tawuran pecah. Saya waktu itu langsung bersembunyi di rumah warga, takut sekali,” katanya sambil memperagakan gestur ketakutannya.

Menurutnya, malam tersebut menjadi salah satu pengalaman terburuk selama bekerja sebagai driver ojol. 

Ia menyebut, bukan hanya dirinya yang merasakan ketakutan, tetapi juga rekan-rekan sesama pengemudi.

Mereka mengaku sering merasa waswas ketika menerima order pada malam hari, terutama di wilayah yang dikenal rawan bentrok.

“Saya takut bang, apalagi sudah berkeluarga, ingat anak istri di rumah,” ungkapnya.

Rocky berharap aksi tawuran yang masih terjadi dapat segera dihentikan, agar masyarakat bisa kembali beraktivitas dengan aman dan nyaman di Tanah Nyiur Melambai. (PET)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.