TRIBUNNEWS.COM, PAPUA - Pesawat perintis milik PT Smart Air Aviation ditembak kelompok bersenjata sesaat setelah mendarat di Lapangan Terbang Korowai Batu, Kabupaten Boven Digoel, Papua Selatan, Rabu (11/2/2026).
Dalam insiden penembakan tersebut, pilot dan kopilot meninggal dunia setelah dikejar dan dieksekusi, sementara 13 penumpang dilaporkan selamat.
Identitas kedua korban meninggal yakni Capten Egon Irawan dan Capten Baskoro.
Sementara itu, dari potongan video yang dilihat Tribun, akibat diterjang peluru, badan pesawat jenis Cessna Caravan dengan registrasi PK-SNR itu terlihat berlubang pada beberapa bagian.
Hampir semua jendela pesawat terlihat pecah. Pada bagian sayap pesawat bercat putih dan hitam yang masih parkir di tengah landasan itu juga terlihat bolong karena ditembak.
Cairan diduga bahan bakar menetes pada bagian sayap sebelah kiri.
Baca juga: Alasan Keamanan, Wapres Gibran Batal Kunjungi Yahukimo Papua Pegunungan
Sebelumnya Orang nomor dua di Indonesia, Wapres Gibran Rakabuming Raka juga sempat mendapatkan ancaman.
Secara terang-terangan, ancaman itu datang dari Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) yang bakal menembak pesawat yang mengangkut Gibran dan rombongannya saat kunjungan kerja di Papua pada awal Januari 2026.
Atas pertimbangan keamanan, Gibran batal melakukan kunjungan ke Kabupaten Yahukimo, Papua Pegunungan pada Rabu (14/1/2026).
Semula Yahukimo masuk dalam agenda kunjungan kerja Wapres Gibran usai meninjau Pasar Potikelek dan SMA Negeri 1 Wamena.
Komandan Operasi TPNPB Kodap XVI Yahukimo, Mayor Kopitua Heluka dari Medan perang di Yahukimo pada Selasa, 13 Januari 2026, mengatakan pasukan TPNPB Kodap XVI Yahukimo di bawah pimpinan Akar Heluka telah melakukan penembakan terhadap sebuah pesawat sipil yang ditumpangi oleh aparat militer yang telah memasuki wilayah perang di Yahukimo.
Mayor Kopitua Heluka juga melaporkan bahwa penembakan pesawat kemarin, sebagai peringatan keras kepada Wakil Presiden, Gibran Rakabuming Raka untuk tidak memasuki wilayah perang di Yahukimo.
“Jika melanggar maka kami TPNPB Kodap XVI Yahukimo siap menembak rombongan Wakil Presiden, Gibran Rakabuming Raka dan rombongannya,” ujar dia melalui siaran pers yang diterima Tribun-Papua.com.
Manajemen Markas Pusat KOMNAS TPNPB menegaskan kepada Presiden Prabowo Subianto, Wakilnya Gibran Rakabuming Raka dan kabinetnya agar menyelesaikan dahulu sengketa politik di Tanah Papua antara orang Papua dengan pemerintah Indonesia.
“Jika tidak, maka TPNPB di 36 Komando Daerah Pertahanan di seluruh tanah Papua siap menggagalkan seluruh pembangunan di atas tanah Papua,” ujarnya.
Ia berpesan kepada Rakyat Papua dari Sorong hingga Samarai untuk tidak memberikan tanah adat kepada negara kolonial Indonesia demi pembangunan lahan sawit, padi dan pembangunan pos militer Indonesia.
Kelompok yang menuntut kemerdekaan dari Indonesia itu, menilai kebijakan sawit, padi dan militerisasi akan mengancam kehidupan masyarakat adat, sebab akan disusul penangkapan, penembakan dan pembunuhan bagi orang Papua yang dilakukan oleh aparat militer Indonesia.
Berdasarkan informasi sementara yang diperoleh Tribun-Papua.com, Wapres Gibran dijadwalkan mengunjungi masyarakat di Dekai, Kabupaten Yahukimo, Papua Pegunungan menggunakan pesawat.
Wapres direncanakan berangkat menggunakan pesawat dari Bandara Wamena di Kabupaten Jayawijaya ke Dekai di Yahukimo. Waktu penerbangan dari Wamena-Dekai 35 menit, lebih cepat dibanding lewat jalan darat menggunakan mobil dengan akses jalan yang tidak semulus di Kota Jayapura.
Yahukimo merupakan satu dari 8 kabupaten di Provinsi Papua Pegunungan. Yahukimo bukan satu-satunya basis TPNPB di Pegunungan Papua sebab mereka juga tersebar di Kabupaten Nduga, Lanny Jaya, Tolikara serta Yalimo.
Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka batal melakukan kunjungan ke Kabupaten Yahukimo, Papua Pegunungan, Rabu (14/1/2026). Pembatalan tersebut dilakukan atas pertimbangan keamanan
Pangdam XVII/Cenderawasih selaku Komandan Satgas Pengamanan VVIP, Mayjen TNI Amrin Ibrahim, mengatakan dirinya telah menyarankan kepada Wapres untuk menunda kunjungan ke Yahukimo setelah mencermati situasi keamanan di wilayah tersebut.
“Saya selaku Komandan Satuan Tugas Pengamanan VVIP, karena melihat pertimbangan keamanan di Yahukimo sampai dengan pagi ini, saya menyarankan kepada Bapak Wakil Presiden untuk tidak melakukan kunjungan ke Yahukimo,” ujar Amrin di Pangkalan Udara Manuhua, Biak, Papua.
Mayjen TNI Amrin menjelaskan, berdasarkan laporan intelijen yang diterima, terdapat pergerakan dari kelompok-kelompok tidak bertanggung jawab yang berpotensi mengganggu keamanan kunjungan Wakil Presiden.
Namun demikian, ia tidak merinci secara detail kelompok maupun bentuk potensi gangguan yang dimaksud.
“Dari pertimbangan intelijen kami melihat ada gerakan-gerakan dari kelompok-kelompok yang tidak bertanggung jawab di sana yang menurut pertimbangan kami untuk keamanan VVIP tentunya sangat tidak memungkinkan,” jelasnya.
Ia menambahkan, keputusan tersebut diambil semata-mata demi keselamatan Wakil Presiden, meskipun Gibran disebut sangat ingin berkunjung ke Yahukimo.
“Sehingga saya selaku Komandan Satgas Keamanan menyarankan kepada beliau untuk tidak berkunjung, padahal beliau sangat ingin untuk berkunjung ke Yahukimo,” imbuhnya.
Menurut Amrin, Wapres memiliki keinginan kuat untuk menyapa masyarakat Yahukimo sekaligus melihat langsung perkembangan pembangunan yang dilakukan pemerintah pusat dan daerah di wilayah tersebut.
“Wapres sangat ingin berkunjung ke Yahukimo, menyapa masyarakat dan melihat pembangunan-pembangunan yang sudah dilaksanakan oleh pemerintah daerah maupun pemerintah pusat,” pungkasnya.
Komandan Operasi Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat (TPNB) atau KKB Komando Daerah Pertahanan (Kodap) XVI Yahukimo, Mayor Kopi Tua Heluka, melayangkan ancaman kepada Gibran.
Ia akan menembak Gibran dan rombongannya jika berkunjung ke Yahukimo.
"Jika melanggar, maka kami TPNPB Kodap XVI Yahukimo siap menembak Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka dan rombongannya," katanya, dilansir Tribun-Papua.com, Rabu (14/1/2026).
Mayor Kopi Tua Heluka memiliki nama asli Penihas Heluka.
Ia adalah pentolan KKB di wilayah Yahukimo.
Dari informasi yang beredar, Kopi Tua pernah menjadi mahasiswa.
Saat Tribunnews.com mengetikkan nama Penihas Heluka di Pangkalan Data Pendidikan Tinggi (PDDikti), ia tercatat sebagai mahasiswa berstatus non-aktif di Universitas Sam Ratulangi Manado, Sulawesi Utara.
Ia masuk pada 2018, sebagai mahasiswa di Fakultas Kehutanan.
Namun, pada 2019, Kopi Tua disebutkan bergabung dengan KKB.
Baca juga: DPR Desak Pemerintah Usut Tuntas Serangan KKB Tewaskan Dua Pilot Smart Air
Dilansir Tri Brata News, ia pernah terlibat kasus pembunuhan terhadap seorang anggota polisi bernama Pratu Eka Johan Kaize pada November 2022.
Kopi Tua pun diamankan pada 19 Mei 2023 di Kota Jayapura.
Pada 7 Februari 2024, ia dinyatakan bersalah oleh Pengadilan Negeri Wamena (PN Wamena) Kelas II A, atas pembunuhan berencana terhadap Pratu Eka dan dijatuhi vonis hukuman 13 tahun penjara.
Saat dijatuhi vonis, Kopi Tua masih berumur 23 tahun.
Ia lantas ditahan di Lapas Kelas IIB Wamena. Namun, pada 25 Februari 2025, Kopi Tua melarikan diri bersama lima narapidana (napi) lainnya.
Insiden ini bermula ketika tahanan lapas sedang beraktivitas di lapangan dalam sekitar pukul 15.00 WIT.
Ketika hujan turun sekitar pukul 15.09 WIT, tujuh napi diketahui berhasil menjebol pahar pertama di sisi kiri lapas menggunakan tang potong.
Dikutip dari Tribun-Papua.com, mereka lantas memanjat pagar kedua menggunakan tali sepanjang satu meter, untuk melarikan diri.
Satu dari tujuh napi berhasil diamankan, sedangkan enam lainnya sukses melarikan diri, termasuk Kopi Tua.
Pada Oktober 2025, kelompok Kopi Tua dan Egianus Kogoya terlibat baku tembak internal.
Konflik itu terjadi di wilayah Yahukimo, dengan masing-masing anggota banyak yang tewas.
Konflik tersebut dipicu tuduhan Egianus yang mengatakan Kopi Tua tidak adil dalam membagikan logistik dan bantuan senjata dari simpatisan.
Sementara, Kopi Tua menuding Egianus tidak disiplin dan sering memerintahkan anak buahnya tanpa koordinasi.
Kepala Polres Boven Digoel Ajun Komisaris Besar Wisnu Perdana Putra membenarkan peristiwa penyerangan terhadap pesawat bernomor registrasi PK-SNR yang terbang dari Tanah Merah.
"Sekitar pukul 13.00 WIT kami mendapat informasi bahwa pilot dan co pilot ditemukan tewas," kata Wisnu Perdana ketika dikonfirmasi, Rabu siang.
Menurutnya, pesawat sempat mendarat sekitar pukul 11.00 WIT sebelum tiba-tiba dihujani tembakan oleh pelaku.
Dalam situasi darurat, awak pesawat bersama penumpang melarikan diri ke hutan untuk menyelamatkan diri.
Namun, pilot dan kopilot diduga menjadi target utama.
Keduanya dikejar, ditangkap, lalu dibawa kembali ke lapangan terbang sebelum akhirnya ditemukan tewas sekitar pukul 13.00 WIT.
Sementara itu, seluruh penumpang yang merupakan warga lokal dilaporkan tidak mengalami kekerasan fisik.
Hingga kini, pesawat masih berada di landasan pacu dan aparat keamanan terus berkoordinasi untuk penanganan lebih lanjut.
Peristiwa ini kembali menyoroti kerentanan penerbangan perintis di pedalaman Papua, yang selama ini menjadi tumpuan utama mobilitas warga dan distribusi logistik.
Yance Bemonop.
Limu Gurik.
Yanduk Kogoya.
Turis Magai.
Emira Wonda.
Kiris (bayi).
Dua Lima Kogoya.
Inantinus Kahipka.
Irfan Kahipka.
Samuel Jitmau.
Pania Mialika.
Topius Kogoya.
Tialongga Kogoya.
Danpos Tanah Merah Mendapatkan informasi dari Fandi UPBU Bandara Tanah Merah bahwa pesawat Smart Air PK-SNR saat landing di Bandara Koroway Batu di tembaki di indikasi oleh OPM.
Satgas Pasgat mendapatkan informasi bahwa pilot dan co pilot sudah meninggal dunia dikarenakan luka tembak.
Jarak Bandara Korowai Batu dr Pos Bandara Oksibil Satgas Pasgat sekitar 76 KM.
Jarak Bandara Korowai Batu dr Pos Tanah Merah Satgas Pasgat sekitar 100 KM.
Jarak Bandara Korowai Batu dari Pos Yahukimo Satgas Pasgat sekitar 70 KM.
Wakapolda Papua Brigjen Pol Faizal Ramadhani mengatakan pihaknya tengah menyelidiki kasus penembakan pesawat Smart Air PK-SNR.
Faizal mengatakan kepolisian masih terus menyelidiki siapa pelaku penembakan pesawat.
“Untuk pelaku masih terus kami dalami, dan kami akan sampaikan jika sudah ada hasil penyelidikan,” ujar Faizal.
Baca juga: Fakta-Fakta Penembakan Pesawat Smart Air di Boven Digul, Pelaku Melepaskan Tembakan dari Hutan
Faizal juga mengungkapkan Polda Papua akan mengirim pasukan untuk mengevakuasi jenazah pilot dan kopilot pesawat Smart Air.
Jenazah keduanya dibiarkan di landasan pacu dan areal rerumputan setelah ditembak oleh pelaku.
"Sore tadi kita sudah terbangkan pasukan dari Yahukimo ke Boven Digoel dan besok mereka akan lanjut ke Korowai untuk memantau situasi guna pelaksanaan evakuasi terhadap kedua korban,” katanya.
Jika memungkinkan, tim evakuasi akan dikirim ke lokasi kejadian pada besok pagi, Kamis (12/2/2026).
(tribun network/thf/Tribunnews.com/TribunPapua.com)