TRIBUNJABAR.ID, SUBANG – Tragedi kelam kembali menyelimuti Kabupaten Subang.
Sebanyak delapan warga Subang Kota kehilangan nyawa akibat keracunan minuman keras (miras) oplosan jenis gembling.
Pesta maut tersebut diketahui berlangsung selama dua hari berturut-turut, mulai dari kawasan terbuka hingga berpindah ke tempat hiburan malam.
Hingga Kamis (12/2/2026), selain delapan korban jiwa, dua korban lainnya masih dalam kondisi kritis dan menjalani perawatan intensif di IGD RSUD Subang.
Petaka bermula pada Minggu malam sekitar pukul 20.00 WIB.
Baca juga: BREAKING NEWS Pesta Miras Oplosan Berujung Maut di Subang, 8 Orang Tewas, 2 Kritis
Para korban berkumpul di kawasan Atelir, Subang Kota, untuk menenggak miras jenis gembling yang dicampur dengan serbuk minuman energi.
Pesta tidak berhenti di sana.
Sekitar pukul 22.00 WIB, rombongan berpindah lokasi ke Cafe 88 Society untuk menghadiri acara grand opening.
Di tempat ini, konsumsi miras semakin tak terkendali setelah mereka membeli pasokan tambahan yang didapat dari kawasan di depan Bimbel Ganesha Operation (GO).
Meski hari sudah berganti hari, "pesta maut" ini dilaporkan terus berlanjut.
Setelah melewati dini hari di kafe, para korban masih melanjutkan konsumsi miras hingga Senin siang.
Totalitas konsumsi miras selama hampir 20 jam tersebut akhirnya berdampak fatal.
Memasuki Senin malam, satu per satu dari mereka mulai merasakan gejala keracunan hebat, mulai dari mual, muntah, hingga sesak napas.
Para korban pun dilarikan ke RSUD Ciereng dan RS PTPN Subang secara bertahap.
Paparan zat berbahaya dari miras oplosan tersebut merusak organ tubuh korban dengan cepat.
Hingga Rabu (11/2) malam, delapan orang dinyatakan meninggal dunia, yakni:
Kasatpoldam Subang, Filbert Gunadi, menyatakan pihaknya sedang mendalami asal-usul miras "Gembling" ilegal tersebut.
Polisi kini tengah memburu penjual yang menyuplai minuman mematikan itu kepada para korban.
"Kami fokus pada penelusuran pihak yang menjual miras ilegal ini."
"Operasi pengawasan akan diperketat agar tragedi serupa yang pernah menelan 12 korban di tahun 2023 tidak terulang lagi," tegas Filbert.
(*)