Viral Guru PPPK di Jember Telanjangi Siswa SD Gara-gara Uang Rp75 Ribu Hilang, Kunci Ruang Kelas
Fadhila Rahma February 12, 2026 12:27 PM

SRIPOKU.COM - Viral seorang oknum guru wali kelas V di SDN Jelbuk 02, Kecamatan Jelbuk, berinisial FT bertindak berlebihan dengan memaksa siswa melepas pakaian karena uang Rp75 ribu hilang.

Guru berstatus PPPK itu kini harus mempertanggungjawabkan aksinya yang nekat menelanjangi puluhan siswa hanya demi mencari uang yang hilang tersebut.

Peristiwa tersebut terjadi pada Jumat (6/2/2026) sekitar pukul 08.30 WIB dan terekam dalam video yang kemudian viral di media sosial.

Kronologi Kejadian
 
Berdasarkan informasi yang dihimpun, FT mengaku kehilangan uang sebesar Rp 75 ribu dalam pecahan baru pada hari kejadian. Sebelumnya, ia juga mengaku kehilangan Rp 200 ribu, Senin (2/2/2026).

Atas kejadian itu, FT memanggil 22 murid kelas V dan memeriksa tas mereka satu per satu. Karena uang tidak ditemukan, pemeriksaan berlanjut hingga pukul 11.00 WIB dengan menggeledah tubuh murid.

Selama proses tersebut, murid lain dilarang melihat. Namun, beberapa siswa dari kelas lain disebut sempat menyaksikan kejadian itu secara diam-diam.

Menurut keterangan wali murid, FT diduga meminta murid laki-laki melepas seluruh pakaian tanpa mengenakan singlet dan celana dalam, sementara murid perempuan diminta membuka pakaian hingga hanya mengenakan singlet dan celana dalam.

Penggeledahan baru dilakukan terhadap enam murid sebelum akhirnya diketahui oleh para wali murid.

Baca juga: Menkes Bongkar Data Tak Tepat Sasaran, Ribuan Orang Kaya Masuk Daftar PBI BPJS Kesehatan Rapikan

Wali Murid Dobrak Kelas
 
Seorang wali murid yang enggan disebutkan namanya mengatakan, kecurigaan muncul karena anak-anak tidak pulang hingga siang hari.

“Itu karena sampai Jumat siang anak tidak pulang. Akhirnya beberapa wali murid datang ke sekolah untuk mengecek keberadaan anaknya,” ujarnya, Senin (9/2/2026).

Informasi awal diperoleh dari siswa kelas VI yang melihat kejadian tersebut. Karena pintu kelas terkunci, para wali murid akhirnya mendobrak pintu.

“Karena posisi pintu kelas ditutup, akhirnya ibu-ibu mendobrak dan melihat kondisi anak-anak,” lanjutnya.
Ia mengungkapkan, anaknya mengalami trauma dan menolak berangkat sekolah keesokan harinya.

“Besoknya dari puluhan siswa itu, hanya enam anak yang berangkat. Itu pun karena ditelpon guru. Yang lain tidak mau,” katanya.

Minta Guru Dikeluarkan

Para wali murid sempat menyusun petisi untuk disampaikan ke Dinas Pendidikan Jember agar FT dikeluarkan dari sekolah. Namun, sebelum petisi dikirim, pihak dinas datang ke sekolah, Minggu (8/2/2026) untuk melakukan mediasi.

“Kami diminta tanda tangan perjanjian agar tidak bicara ke wartawan selama kasus ini ditangani,” ungkap wali murid tersebut.

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala SDN Jelbuk 02, Arif Rahman, menolak memberikan keterangan rinci.

“Silakan semua HP ditaruh di meja dulu, supaya tidak menimbulkan kesalahpahaman,” katanya.

Ia mengataka  kasus tersebut telah ditangani Dinas Pendidikan Jember.

“Saya serahkan semua ke diknas,” ujarnya singkat.

Reaksi Dispendik

Dinas Pendidikan (Dispendik) Kabupaten Jember, Jawa Timur, menarik non aktifkan sementara guru siswa SDN Jelbuk 02, Kecamatan Jelbuk, yang menelanjangi siswa karena uangnya hilang. 

Selain itu Dispendik juga memberikan pendampingan psikologis atau trauma healing kepada siswa. 

Kepala Dispendik Jember, Arief Tjahjono, mengatakan pendampingan dilakukan untuk memastikan kondisi psikologis siswa kembali stabil dan proses belajar mengajar dapat berjalan normal.

“Bersama KPAI kami melakukan trauma healing terhadap adik-adik siswa, supaya mereka tidak mengalami trauma yang mendalam,” ujar Arief, Selasa (10/2/2026).

Ia menjelaskan, langkah tersebut diambil karena sehari setelah insiden terjadi, sebagian siswa sempat merasa takut untuk kembali mengikuti kegiatan belajar di sekolah.

“Sebagian masuk, sebagian tidak. Maka dari itu kami lakukan trauma healing untuk meyakinkan bahwa proses belajar mengajar bisa berjalan sesuai relnya kembali,” jelasnya.

Ditarik Sementara
 
Selain pendampingan kepada siswa, Dispendik Jember juga menarik sementara guru berinisial FT dari SDN Jelbuk 02 untuk menjalani pembinaan di kantor Dispendik.

“Supaya suasana di sekolah benar-benar reda dan tidak menimbulkan konflik lanjutan, serta menghindari hal-hal yang tidak kami inginkan,” kata Arief.

Selama masa pembinaan, Dispendik Jember berkoordinasi dengan satuan pendidikan dasar negeri lainnya untuk menyiapkan penugasan baru bagi guru tersebut.

“Supaya beliau bisa kami pindahkan ke tempat lain dan siswa serta wali murid bisa kembali menjalani proses belajar mengajar dengan baik,” imbuhnya.

Berdasarkan hasil pemeriksaan etik internal, Arief mengungkapkan tindakan tidak pantas tersebut dipicu oleh kondisi emosional guru yang dinilai tidak stabil saat kejadian berlangsung.

“Yang bersangkutan terlalu reaksioner akibat kehilangan uang, termasuk uang mahar pemberian suaminya. Kondisinya juga kurang optimal saat itu,” ungkapnya.

Ia menambahkan, guru tersebut telah menyadari kesalahannya dan menyatakan komitmen untuk tidak mengulangi perbuatannya.

Insiden tersebut, lanjut Arief, bermula dari seringnya guru kehilangan uang di kelas, hingga akhirnya bereaksi berlebihan saat kehilangan terakhir terjadi.

“Peristiwa itu menjadi kesalahan fatal beliau,” ujarnya.

Saat kejadian berlangsung, tidak ada guru lain yang mengetahui secara langsung. Informasi awal justru datang dari wali murid setelah muncul keributan di lingkungan sekolah.

“Karena ada keributan, sebagian wali kelas berusaha meredam sampai akhirnya diketahui dan menjadi perhatian,” tambahnya.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.