Laporan Reporter Tribun Jogja Christi Mahatma Wardhani
TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Mahasiswa Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta mengikuti program magang internasional di Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Astana Kazakhstan.
Julia Syifa Az-Zahra merupakan mahasiswi Sastra Inggris Fakultas Adab dan Ilmu Budaya UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, yang membawa nilai keilmuan dan kebudayaan Indonesia ke jantung diplomasi internasional di Kazakhstan.
Ia mengikuti program magang internasional tersebut pada 6 November 2025. Selama tiga bulan, ia mengikuti sistem rotasi di empat fungsi utama KBRI Astana. Mulai dari penerangan, sosial, dan budaya, administrasi, protokol, konsuler, dan pelindungan WNI, hingga fungsi ekonomi, politik, dan digital.
“Pola kerja lintas fungsi ini memberi saya gambaran utuh tentang bagaimana diplomasi Indonesia dijalankan dari balik layar,” katanya, Kamis (12/2/2026).
Dalam kesempatan tersebut, Zahra membawakan Tari Persembahan Melayu dari Sumatera sebagai representasi diplomasi budaya Indonesia. Ia melakukan latihan intensif selama beberapa pekan, mengingat dirinya bukan seorang penari.
Menari di hadapan para tamu internasional menjadi momen yang paling berkesan.
Bagi mahasiswa angkatan 2022 ini, magang internasional bukan sekadar pengalaman profesional, melainkan ruang pembentukan karakter dan kesadaran kebangsaan. Ia menyadari bahwa akar budaya tetap menjadi pijakan dan tempat kembali.
“Diplomasi modern tidak hanya berlangsung di meja perundingan, tetapi juga melalui seni, olahraga, dan relasi antarmanusia. Melalui berbagai agenda resmi (yang ia ikuti), saya belajar bahwa semangat kebangsaan tetap hidup meski jauh dari Tanah Air,” ujarnya.
Tentu ada tantangan yang dihadapi, seperti adaptasi di institusi diplomatik dengan standar profesionalisme tinggi, keterbatasan bahasa Rusia, hingga cuaca ekstrem Kazakhstan. Namun, hal itu justru membuat dia belajar disiplin, keberanian, dan kesiapan menghadapi realitas kerja global.
Latar belakang pendidikan pun cukup membantu dalam menjalani program magang internasional tersebut. Dari kampus, ia mendapat kemampuan berpikir kritis, keterampilan menulis, analisis teks, hingga kepekaan sosial dan budaya.
Kemampuan itu sangat menunjang tugas-tugasnya, baik dalam penyusunan laporan, komunikasi tertulis, maupun produksi konten komunikasi publik di lingkungan kedutaan.
“Selain kemampuan akademik, nilai-nilai yang ditanamkan selama perkuliahan, seperti sikap reflektif, terbuka, dan adaptif, menjadi fondasi penting bagi saya dalam menghadapi lingkungan kerja lintas budaya,” ujarnya.
Ia menambahkan kampus memiliki peran signifikan dalam mempersiapkan mahasiswa menghadapi dunia global.
“Proses pembelajaran tidak berhenti pada transfer pengetahuan, tetapi mendorong mahasiswa berpandangan luas dan berani mengambil peluang internasional. Dukungan dosen serta ekosistem akademik yang inklusif menjadi ruang aman untuk bertumbuh dan melangkah lebih jauh,” pungkasnya. (maw)