Batasan Aman Puasa Ramadan untuk Penderita Diabetes
Anita K Wardhani February 12, 2026 03:32 PM

 

 

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Aisyah Nursyamsi

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Menjelang bulan Ramadan, banyak penderita diabetes tetap bertekad menjalankan ibadah puasa. 

Di Indonesia, fenomena ini sangat umum terjadi. 

Baca juga: 4 Rekomendasi Minuman Diabetes Berdasarkan Cara Kerja di Tubuh dan Dampaknya

Namun di balik semangat tersebut, ada risiko kesehatan yang perlu dipahami agar puasa tetap aman.

Dokter spesialis penyakit dalam dr. Helmi Fakhruddin, Sp.PD mengungkapkan sebagian besar pasien diabetes di Indonesia tetap berpartisipasi dalam puasa Ramadan. 

“Menurut beberapa studi yang dilakukan di Indonesia maupun di luar negeri terutama di Indonesia, memang untuk Indonesia sendiri 9 dari 10 pasien diabetes pada saat bulan Ramadan biasanya menjalankan dan ikut berpartisipasi dalam puasa Ramadhan,” ujarnya pada talkshow kesehatan virtual yang diselenggarakan oleh Kementerian Kesehatan, Kamis (12/2/2026). 

Meski demikian, puasa pada penderita diabetes bukan tanpa risiko. 

Perubahan pola makan dan jadwal minum obat selama Ramadan dapat memicu gangguan keseimbangan gula darah.


Risiko Hipoglikemia saat Penderita Diabetes Berpuasa

Lebih lanjut dr. Helmi menjelaskan, salah satu risiko utama adalah meningkatnya kejadian hipoglikemia atau gula darah rendah. 

Kondisi ini bisa berbahaya jika tidak segera ditangani.

“Angka kejadian hipoglikemi pada pasien diabetes di bulan Ramadhan itu sangat meningkat. Bisa sampai 7,5 kali lebih,” kata dr. Helmi.

Selain hipoglikemia, pasien juga berisiko mengalami hiperglikemia, dehidrasi, kenaikan berat badan, trombosis, hingga komplikasi lain. 

Karena itu, dokter menekankan pentingnya evaluasi medis sebelum memutuskan berpuasa.

Menurutnya, tenaga kesehatan memiliki peran besar dalam membantu pasien diabetes menjalani Ramadhan secara aman. 

Tidak semua pasien memiliki kondisi yang sama, sehingga pendekatannya harus bersifat individual.

Penilaian Risiko Jadi Kunci Aman Puasa

Untuk menentukan apakah pasien diabetes boleh berpuasa, dokter menggunakan sistem stratifikasi risiko dari International Diabetes Federation. 

Sistem ini membagi pasien ke dalam kategori risiko rendah, sedang, dan tinggi.

“Jadi, sebetulnya nggak semua pasien aman, ya. Jadi, memang ada penilaian resiko tersendiri,” jelas dr. Helmi.

Pasien dengan risiko rendah umumnya masih diperbolehkan berpuasa. Risiko sedang dapat berpuasa dengan pemantauan lebih ketat. 

Sementara pasien dengan risiko tinggi tidak direkomendasikan berpuasa karena peluang terjadinya komplikasi sangat besar.

Penilaian risiko dilakukan sebelum Ramadhan dengan melihat berbagai faktor penting. 

Dokter akan mengevaluasi kepatuhan pasien minum obat, pemahaman tentang penyakit, serta kontrol gula darah seperti HbA1c dan gula darah puasa.

Selain itu, riwayat hipoglikemia dalam beberapa bulan terakhir, jenis terapi yang digunakan, baik insulin maupun obat oral.

Serta adanya komplikasi seperti trombosis atau infeksi juga menjadi pertimbangan. Kondisi komorbid seperti gagal ginjal, gagal jantung, usia pasien, hingga kemampuan melakukan self-monitoring ikut dinilai.

Semua faktor tersebut dihitung menggunakan sistem scoring dari International Diabetes Federation untuk menentukan kategori risiko pasien.

Konsultasi Sebelum Ramadan

Dengan banyaknya faktor yang memengaruhi keamanan puasa, konsultasi medis sebelum Ramadhan menjadi langkah krusial bagi penderita diabetes. 

Evaluasi ini membantu dokter memberikan rekomendasi yang paling sesuai dengan kondisi pasien.

Pendekatan yang tepat memungkinkan pasien menjalankan ibadah dengan lebih tenang sekaligus menjaga kesehatan. 

Bagi penderita diabetes, puasa bukan sekadar menahan lapar dan haus, tetapi juga tentang memahami batas tubuh dan memprioritaskan keselamatan.

Dengan penilaian risiko yang akurat dan pendampingan tenaga medis, puasa Ramadhan dapat dijalani secara lebih mindful, aman, dan bertanggung jawab.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.