TRIBUNJAKARTA.COM, KRAMAT JATI - Harga daging sapi di Pasar Kramat Jati, Kecamatan Kramat Jati Jakarta Timur melonjak menjelang Tahun Baru Imlek 2577 Kongzili dan bulan Ramadan 1447 Hijriah.
Pedagang daging sapi, Jodi (60) mengatakan harga daging sapi yang biasanya Rp125 ribu per kilogram kini dalam satu pekan terakhir melonjak menjadi Rp140 ribu.
"Naiknya perlahan, awalnya sempat Rp130 ribu terus sekarang sudah Rp140 ribu. Sudah ada sekitar satu minggu terakhir naik," kata Jodi di Pasar Kramat Jati, Jakarta Timur, Kamis (12/2/2025).
Menurut pedagang kenaikan harga sudah terjadi sejak mereka mendapat pasokan daging dari rumah pemotongan hewan (RPH), sehingga mereka tak mengetahui pasti penyebab kenaikan.
Harga ini diprediksi masih dapat melonjak hingga mendekati hari raya Idulfitri mendatang, karena berkaca pada tahun-tahun sebelumnya kenaikan terjadi secara berkelanjutan.
"Kayaknya mendekati Idulfitri nanti pasti ada kenaikan lagi. Karena pas tahun sebelumnya saja harga pas lebaran itu Rp150 ribu, ini mungkin bisa lebih dari harga sekarang," ujar Jodi.
Akibat kenaikan harga ini para pedagang daging sapi di Pasar Kramat Jati mengalami penurunan omzet, karena banyak pembeli yang mengurangi jumlah belanjaan.
Pedagang daging lainnya, Jahra (56) menuturkan berharap pemerintah segera mengambil langkah untuk menurunkan dan menjaga harga agar tidak membebani masyarakat.
"Sekarang pembeli yang biasanya belanja 2-3 kilogram paling cuma beli 1 kilogram. Mungkin karena banyak yang mau berhemat untuk kebutuhan mudik dan lainnya," tutur Jodi.
Di sisi lain, Perumda Dharma Jaya memastikan ketersediaan stok daging sapi dan ayam dalam kondisi aman menjelang Ramadan hingga Idulfitri 2026.
BUMD milik Pemprov DKI Jakarta itu bahkan menyiapkan tambahan pasokan sapi impor untuk mengantisipasi lonjakan kebutuhan masyarakat saat bulan puasa dan Lebaran.
Direktur Utama Perumda Dharma Jaya, Raditya Endra Budiman, mengatakan saat ini stok daging sapi yang tersedia mencapai 1.246 ton dan daging ayam sebanyak 435 ton.
Selain itu, terdapat 1.594 ekor sapi hidup yang siap dipotong sesuai kebutuhan pasar.
“Insya Allah akhir Februari ini akan datang lagi sekitar 500 sampai 600 ekor sapi dari Australia. Itu akan menjadi tambahan stok untuk Jakarta. Bahkan jika diperlukan, kami masih memiliki cadangan sekitar 1.000 ekor lagi untuk membantu stabilisasi harga,” kata Raditya dalam Balkoters, Rabu (11/2/2026).
Raditya menjelaskan, kebutuhan daging di Jakarta tergolong besar. Dalam setahun, kebutuhan daging sapi mencapai sekitar 73.100 ton, sedangkan ayam menembus 182.230 ton.
Dari sisi konsumsi per kapita, daging sapi berada di kisaran 2,3 hingga 5 kilogram per orang per tahun, sementara ayam sekitar 11 kilogram per orang per tahun.
Menurutnya, peningkatan kebutuhan biasanya terjadi menjelang dan selama Ramadan. Meski masyarakat berpuasa, konsumsi daging justru cenderung meningkat, terutama dari sektor hotel, restoran, dan kafe (horeka).
“Kalau dilihat dari statistik, penggunaan terbesar itu ada di sektor horeka. Restoran saat berbuka puasa hampir selalu penuh. Itu sebabnya kebutuhan tetap tinggi dan sudah kami perhitungkan dalam perencanaan stok,” katanya.
Sebagai perusahaan daerah yang tak semata berorientasi keuntungan, Dharma Jaya berkomitmen menjaga harga tetap terjangkau.
Untuk daging sapi paha belakang premium, harga jual berada di kisaran Rp 135.000 per kilogram, lebih rendah dibandingkan sejumlah kompetitor yang mencapai Rp 139.500 hingga Rp 140.000 per kilogram.
“Untuk beberapa jenis potongan lain bahkan bisa lebih rendah lagi. Prinsipnya, kami ingin memberikan harga terbaik bagi masyarakat Jakarta,” ucapnya.
Untuk mendukung stabilitas pasokan, Dharma Jaya juga memperkuat infrastruktur penyimpanan. Saat ini tersedia fasilitas cold storage berkapasitas 800 ton di Cakung, Jakarta Timur.
Ke depan, kapasitas tersebut akan ditingkatkan melalui pembangunan gudang pendingin baru berkapasitas 5.000 ton sebagai bagian dari program jangka panjang ketahanan pangan.
Raditya menambahkan, stabilisasi harga dan pasokan dilakukan melalui koordinasi dengan dinas terkait, importir, dan pelaku usaha lainnya.
“Di bawah arahan dinas, kami berkoordinasi dengan berbagai pihak agar pasokan tetap berjalan dan harga bisa dikendalikan. Prinsipnya, kami siap mendukung stabilitas pangan di Jakarta,” tandasnya.
Sementara itu, Sekretaris Daerah (Sekda) DKI Jakarta Uus Kuswanto memastikan stok daging sapi aman hingga Idulfitri 2026.
Menurutnya, berdasarkan laporan Asisten Perekonomian dan Keuangan kepada Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung, ketersediaan daging sapi diperkirakan cukup sampai Lebaran.
“Untuk stok daging sapi, insyaallah aman. Ketersediaannya diperkirakan cukup sampai selesai Idulfitri,” kata Uus.
Ia memaparkan, menjelang Ramadan, kebutuhan pangan memang meningkat. Telur ayam diperkirakan naik 7,5 persen, disusul daging sapi dan kerbau sebesar 3,57 persen.
Adapun menjelang Idulfitri, lonjakan lebih tinggi terjadi pada telur ayam yang meningkat 17,20 persen dan daging ayam 10,77 persen.
Perumda Dharma Jaya sendiri melaporkan ketersediaan daging sapi sebanyak 1.246 ton, daging ayam 435 ton, ikan kembung 547 ton, serta sapi hidup sekitar 1.010 ekor.
Kepala Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan dan Pertanian (KPKP) DKI Jakarta Hasudungan A Sidabalok menambahkan, penguatan pasokan protein hewani bertujuan menjaga stabilitas harga di pasaran.
Menurutnya, harga daging sapi, ayam potong, dan telur ayam sejauh ini relatif stabil berkat upaya pengendalian dari pemerintah pusat dan daerah.
Selain menjaga stok reguler, Dharma Jaya juga terlibat dalam program pangan murah bersubsidi.
Melalui program tersebut, masyarakat penerima manfaat dapat membeli enam komoditas pangan, termasuk daging ayam dan daging sapi, dengan harga di bawah pasar.
“Ini bagian dari intervensi pemerintah agar daya beli masyarakat tetap terjaga,” pungkasnya.