Laporan Wartawan Tribun Gayo Romadani | Aceh Tengah
TribunGayo.com, TAKENGON – Kisah haru seorang guru honorer di pedalaman Aceh Tengah viral dan menyentuh hati banyak orang.
Ia adalah Ety Yulyani, guru yang mengabdi di wilayah Kemukiman Pameu, Kecamatan Rusip Antara, Kabupaten Aceh Tengah.
Ety menjadi sorotan publik saat Pelantikan Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) Paruh Waktu yang digelar di Lapangan Musara Alun, Takengon.
Di hadapan pimpinan daerah penghasil kopi Gayo, Ety tak kuasa menahan tangis ketika menceritakan pengalamannya tidur di Masjid demi tidak terlambat mengikuti pelantikan.
Pada Kamis (12/2/2026), Ety Yulyani bersama suami dan putri kecilnya mendatangi Kantor BKPSDM Aceh Tengah untuk mengambil Surat Keputusan (SK) PPPK Paruh Waktu.
Baca juga: Harapan Samaniar yang Diangkat PPPK Paruh Waktu Setelah 30 Tahun Mengabdi: Kami Ingin Penuh Waktu
Dengan penuh semangat, mereka menempuh perjalanan panjang dari Pameu menuju Takengon yang memakan waktu lebih dari tiga jam.
Perjalanan tersebut tidak mudah. Selain jarak yang jauh, akses jalan belum sepenuhnya pulih pascabencana banjir dan longsor yang melanda Aceh Tengah pada akhir November 2025 lalu.
Ety mengungkapkan, ia tidak memiliki keluarga di Takengon. Keterbatasan ekonomi membuatnya tak sanggup menyewa hotel atau penginapan. Karena itu, Masjid menjadi pilihan satu-satunya untuk bermalam.
"Saya tidak punya saudara di sini. Saya pilih Masjid karena itu rumah Ibadah kita, bisa Shalat tepat waktu juga,” ujar Ety kepada TribunGayo.com, Kamis (12/2/2026).
Ety dan keluarganya tiba di Masjid sekitar pukul 22.00 WIB, sementara keluarga dari daerah lain masih dalam perjalanan untuk menyaksikan momen bersejarah pelantikan tersebut.
Ety Yulyani dikenal sebagai sosok pahlawan tanpa tanda jasa. Sejak 2015, ia mengabdikan diri sebagai guru demi mencerdaskan anak-anak di pelosok Aceh Tengah.
Baca juga: Bupati Aceh Tengah Haili Yoga Lantik 3.242 PPPK Paruh Waktu
Selama lebih dari 10 tahun, ia hanya menerima gaji Rp 200.000 per bulan.
Ironisnya, dari jumlah tersebut masih ada potongan apabila ia sakit atau berhalangan hadir mengajar.
"Gaji Rp 200.000 per bulan. Kalau saya sakit atau izin, gaji dipotong lagi. Kadang saya hanya terima Rp 100.000,” tuturnya.
Ety mengakui, penghasilan tersebut jelas tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup. Namun, ia tetap bertahan dan mengajar dengan penuh keikhlasan demi masa depan anak-anak di desa terpencil.
Ia menyebut, dukungan sang suami menjadi kekuatan utama selama bertahun-tahun mengabdi.
"Ada kerja sampingan. Suami saya juga mendukung, dia kerja kebun, kadang ambil kerja ke rumah orang,” jelas Ety.
Bagi Ety Yulyani, menjadi pahlawan tanpa tanda jasa bukanlah soal besaran gaji.
Ia mengabdi untuk negeri dengan harapan masa depan yang lebih cerah, baik bagi keluarganya maupun bagi para siswa yang ia didik selama ini. (*)