TRIBUNNEWS.COM – Temu Berdaya hadir tak hanya sebagai wadah bagi relawan perempuan, tetapi juga berkembang menjadi ruang aman perempuan yang menggabungkan aksi sosial, pemberdayaan UMKM hingga edukasi masalah sosial dan kesehatan perempuan.
Temu Berdaya merupakan komunitas volunteer khusus perempuan yang sekaligus menjadi ruang aman bagi perempuan.
Di Temu Berdaya, para relawan diajak untuk berbagi, bersosialisasi, serta menjadi lebih berdaya di masyarakat.
Komunitas ini aktif menyelenggarakan berbagai kegiatan sosial, mulai dari aksi di panti asuhan, yayasan disabilitas, hingga panti jompo, di berbagai kota di Indonesia.
Seperti pada 18 Januari 2026 lalu, Temu Berdaya juga baru saja mengadakan kegiatan di Panti Lanjut Usia Aisyiyah Solo.
Founder Temu Berdaya, Natasha Sharla Kirana (21), menyebut komunitas ini didirikan sebagai bentuk kepedulian terhadap menurunnya empati sosial di tengah kesibukan hidup generasi muda.
“Saya ingin perempuan Indonesia tetap memiliki dan tidak kehilangan sisi empati serta kepedulian sosialnya, di tengah kesibukan dan tuntutan hidup,” ujar Sharla saat diwawancarai Tribunnews.com, Senin (12/1/2026).
Menurutnya, perempuan membutuhkan ruang khusus yang aman untuk saling menguatkan.
“Saya merasa, penting adanya ruang untuk saling menguatkan, bukan saling menjatuhkan,” tambahnya.
Penamaan Temu Berdaya sendiri memiliki filosofi yang kuat.
Sharla menyebut setiap pertemuan memiliki makna dan tujuan.
“Aku percaya setiap pertemuan itu tidak pernah kebetulan. Kata ‘Temu’ berarti ruang untuk saling bertemu, berbagi cerita, dan belajar, lalu kata ‘Berdaya’ berarti setelah pulang dari ruang itu, kita membawa kekuatan baru, lebih sadar, lebih percaya diri, dan lebih berani melangkah,” jelasnya.
Baca juga: Ruang Aman Perempuan yang Mengubah Akhir Pekan, Cerita Relawan di Balik Gerakan Temu Berdaya
Salah satu program unggulan Temu Berdaya adalah Ruang Aman Perempuan, yaitu ruang khusus bagi perempuan untuk berkeluh kesah, berbagi cerita, dan saling mendukung dalam suasana yang aman dan suportif.
Program ini tidak hanya berupa sesi berbagi cerita biasa, tetapi juga difasilitasi oleh psikolog klinis, serta dilengkapi dengan sesi journaling dan sharing circle.
“Biasanya kami memfasilitasi dengan psikolog klinis,” ungkap Sharla.
Selain itu, Temu Berdaya juga memiliki program pemberdayaan UMKM perempuan, yaitu Sunday Market.
Program ini digabungkan dengan kegiatan Ruang Aman Perempuan, berupa bazar UMKM karya perempuan Indonesia yang bersifat gratis dan terbuka untuk umum.
Baca juga: Temu Berdaya, Wadah Relawan Perempuan yang Terinspirasi dari Perjalanan di Banda Neira
Sunday Market biasanya dikemas dengan aktivitas seperti Pilates atau Yoga di pagi hari, lalu dilanjutkan dengan sesi journaling dan diskusi tematik.
Tema yang diangkat pun beragam, biasanya tetap akan berfokus seputar perempuan.
Selain fokus pada pemberdayaan perempuan dan UMKM, Temu Berdaya juga aktif mengangkat isu-isu sosial, seperti kekerasan seksual, anti pelecehan seksual, dan kesehatan reproduksi wanita.
“Kita tidak hanya menebar kebaikan, tapi juga memberikan edukasi tentang pentingnya menjaga kesehatan reproduksi wanita,” kata Sharla.
Bagi pendiri Temu Berdaya, komunitas ini menjadi rumah untuk tumbuh bersama.
“Bagi saya, Temu Berdaya bukan sekadar komunitas, tapi rumah untuk bertumbuh bersama, menyatukan berbagai karakter dan kesibukan tentu tidak mudah, tapi justru di situ kami belajar saling memahami dan menguatkan,” ujarnya.
Salah satu Tim Temu Berdaya, Adimas (25) menyebutkan bahwa komunitas ini dikhususkan untuk perempuan karena agar para relawan perempuan bisa lebih bebas berekspresi ketika menjalankan aksi sosialnya.
Baca juga: Tahun Baru 2026 Dirayakan dengan Doa Lintas Agama dan Donasi untuk Warga Terdampak Bencana Sumatera
"Para relawan di Temu Berdaya perempuan, jadi mereka bisa lebih bebas berekspresi karena sama-sama perempuan," ucapnya saat ditemui Tribunnews, Minggu (18/1/2026).
Relawan Temu Berdaya berasal dari berbagai latar belakang dengan rentang usia.
Kegiatan sosial yang digelar Temu Berdaya ini juga berbeda-beda, mulai dari panti jompo, panti asuhan, hingga lingkungan masyarakat di berbagai kota di Indonesia.
Adimas menyebut, setiap relawan yang bergabung di Temu Berdaya akan diberikan arahan khusus 3 hari sebelumnya.
Para relawan akan diberikan gambaran dan penjelasan mengenai acara yang diselenggarakan Temu Berdaya.
"Setiap relawan akan di-briefing H-3 sebelum acara, dilakukan secara daring, untuk dijelaskan rundown acara," paparnya.
Seluruh biaya administrasi pendaftaran relawan, nantinya juga akan didonasikan untuk kegiatan sosial di komunitas Temu Berdaya.
(Tribunnews.com/Oktavia WW)