Menelusuri Asal Usul Goa Putri Dayang Merindu di OKU, Jejak Kutukan Serunting Sakti Si Pahit Lidah
Welly Hadinata February 12, 2026 07:27 PM

Penulis Naskah : Novianti, Mahasiswa Semester VI Fakultas Dakwah dan Komunikasi Prodi Jurnalistik UIN Raden Fatah Palembang

SRIPOKU.COM, OKU – Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU), Sumatera Selatan, dikenal memiliki beragam destinasi wisata alam dan sejarah.

Salah satu yang paling populer adalah Goa Putri di Desa Padang Bindu, yang menyimpan legenda turun-temurun tentang kutukan Serunting Sakti, atau yang dikenal sebagai Si Pahit Lidah.

Berdasarkan data pemerintah daerah, OKU memiliki lebih dari 40 objek wisata, di antaranya Air Terjun Kambas, Air Panas Gemuhak, Batu Lesung Bintang, serta Goa Putri yang menjadi primadona wisatawan lokal maupun luar daerah.

Goa Putri memiliki kedalaman sekitar 150 meter, dengan tinggi mencapai 20 meter dan lebar sekitar 20–30 meter.

Di dalamnya mengalir sungai yang menambah suasana sejuk dan alami.

Legenda Dayang Merindu

Menurut cerita rakyat yang berkembang di masyarakat, Goa Putri berkaitan dengan kisah Dayang Merindu, seorang putri yang disebut sebagai selir Prabu Amir Rasyid, penguasa Kerajaan Ogan pada masa lampau.

Suatu pagi, Dayang Merindu mandi di Muara Sungai Semuhun. Saat itu, melintas seorang pengembara sakti bernama Serunting Sakti atau Si Pahit Lidah.

Konon, karena merasa tidak disapa, ia tersinggung dan mengucapkan kutukan.

“Sombong sekali putri ini, diam seperti batu,” demikian legenda menyebutkan.

Ucapan tersebut dipercaya membuat Dayang Merindu berubah menjadi batu.

Tak berhenti di situ, ketika Serunting Sakti melintasi desa sang putri yang tampak sepi karena penduduknya sedang ke ladang, ia kembali berucap, “Betapa sepinya desa ini, seperti gua saja.” Konon, desa tersebut kemudian berubah menjadi goa.

Jejak Cerita di Dalam Goa

Pegiat sejarah Palembang, Mang Dayat, menyebut Goa Putri menyimpan banyak bentuk batuan unik yang dikaitkan dengan legenda tersebut.

“Diyakini bahwa sungai di dalam goa merupakan tempat pemandian Putri Dayang Merindu. Warga sekitar percaya airnya bisa membuat awet muda, sehingga tak jarang pengunjung mandi atau sekadar membasuh muka di sana,” ujarnya melalui kanal YouTube pribadinya Mang Dayat, Kamis (12/2/2026).

Di dalam goa terdapat batuan yang menyerupai singgasana, tempat peristirahatan, pedapuran (tempat memasak), hingga pembaringan yang diyakini sebagai wujud Dayang Merindu. Di bawahnya mengalir Sungai Semuhun yang jernih.

Pada bagian ujung terdapat lorong bernama Goa Penjagaan. Di sudutnya terlihat lubang serta bongkahan batu menyerupai dua ekor harimau, yang dipercaya sebagai penjaga saat sang putri mandi.

Warisan Budaya dan Wisata

Kini, Goa Putri tak hanya menjadi destinasi wisata alam, tetapi juga simbol kekayaan cerita rakyat Sumatera Selatan.

Keindahan stalaktit dan stalagmit berpadu dengan kisah legenda yang terus hidup di tengah masyarakat.

Legenda Si Pahit Lidah menjadi bagian penting dari khazanah budaya Sumatera Selatan, yang memperkaya identitas lokal sekaligus menarik minat wisatawan untuk menelusuri jejak sejarah dan mitos yang menyertainya.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.