TRIBUNNEWS.COM JAKARTA -- Kasus kanker yang semakin banyak ditemukan pada usia produktif menjadi sorotan dalam pertemuan ilmiah bertema “Advancing Cancer Care in Indonesia” di Jakarta, Rabu (12/2).
Para pakar menilai dalam satu dekade terakhir terjadi tren pergeseran usia pasien kanker yang kian muda, bahkan sebagian berusia di bawah 30 tahun misalnya pada kasus kanker kolorektral.
“Dalam satu dekade terakhir, kami melihat tren usia penderita kanker kolorektral semakin muda. Banyak pasien yang kami tangani bahkan berusia di bawah 30 tahun,” ujar dokter subspesialis bedah digestif dr. Seno Budi Santoso dalam paparannya.
Dokter Seno mengungkap sejumlah faktor yang menyebabkan kondisi itu. Seperti faktor genetik hingga lingkungan serta gaya hidup.
“Konsumsi alkohol, minuman manis, rokok, serta asupan gula berlebihan menjadi faktor gaya hidup yang dapat memicu kanker. Ada faktor yang bisa dikendalikan, ada juga yang tidak,” jelasnya.
Ia lalu mengingatkan, masyarakat untuk mewaspadai perubahan pola buang air besar sebagai salah satu gejala kanker saluran cerna.
Misalnya rutinitas buang air besar (BAB) semakin sering bisa 3 – 5 kali sehari hingga keluhan BAB yang berdarah.
“Jadi gejala itu yang harus diperhatikan, diwaspadai dan segera periksa ke dokter,” ungkap dokter di RS EMC Pulomas ini.
Dari sisi kanker payudara, konsultan bedah onkologi di RS EMC Alam Sutera ini Denni Joko Purwanto menyebut, secara global, angka kejadian kanker payudara di negara-negara maju lebih tinggi daripada di negara berkembang.
Namun, tingkat keganasan penyakit justru relatif lebih tinggi di negara-negara Asia dan berkembang, termasuk Indonesia.
“Ada banyak faktor, misalnya gene profiling dan gaya hidup,” ujar dia.
Ia memaparkan, dulu perempuan menikah di usia lebih muda, memiliki banyak anak, dan menyusui lebih lama.
Namun sekarang banyak perempuan menempuh pendidikan lebih tinggi, bekerja, menunda kehamilan, dan masa menyusuinya lebih singkat.
Kondisi tersebut berdampak pada paparan hormon estrogen dalam tubuh.
“Misalnya karena menstruasi datang lebih awal dan menopause terjadi lebih lambat maka risiko kanker payudara dapat meningkat. Itu juga salah satu faktor dalam peningkatan tren kanker payudara,” kata dr. Denni.
Meski demikian, ia menegaskan kanker payudara merupakan penyakit multifaktorial yang dipengaruhi kombinasi faktor genetik, hormonal, lingkungan, serta gaya hidup.
"Penting untuk deteksi dini dan peningkatan kesadaran masyarakat. Pemeriksaan rutin dan kewaspadaan terhadap perubahan pada payudara menjadi langkah penting untuk menemukan penyakit pada stadium awal, sehingga peluang kesembuhan lebih besar," pesannya.
Melalui forum ilmiah yang digelar digelar EMC Healthcare dan dihadiri lebih dari 100 dokter ini, diharapkan menjadi wadah memperbarui wawasan terhadap perkembangan penanganan kanker di Indonesia.
Baca juga: 106 Ribu Pasien Penyakit Berat Kembali Tercover BPJS PBI, dari Pasien Jantung hingga Kanker
Seminar ini juga dihadiri dokter spesialis kedokteran nuklir dari RS EMC Graha Kedoya, Junan Imaniar Pribadi. Kegiatan yang rutin digelar ini bersifat gratis dan memberikan Satuan Kredit Profesi (SKP) bagi para peserta yang hadir.