Ramai BGSi Disebut Jual Data Genomik Warga +62, Menkes Ungkap Faktanya
GH News February 12, 2026 08:09 PM
Jakarta -

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin memastikan program Biomedical and Genome Science Initiative (BGSi) tidak akan membocorkan data genetik masyarakat Indonesia ke luar negeri. Justru, menurutnya, dengan penguatan laboratorium dan penyimpanan terpusat di dalam negeri, pengawasan menjadi lebih ketat.

"Justru selama ini sudah banyak lab ambil data genomik, dilakukannya di luar negeri. Dengan kita lakukan ini di lab dalam negeri, justru datanya nggak keluar sekarang," tegas Menkes kepada wartawan, Kamis (12/2/2026).

Ia menjelaskan, dengan undang-undang terbaru, seluruh data genom wajib disimpan di server Kementerian Kesehatan (Kemenkes). "Dan itu karena ada satu tempat akan jauh lebih gampang dikontrol dibandingkan dengan sekarang," ujarnya.

Menurut Menkes, sistem keamanan yang digunakan merupakan sistem keamanan negara. "Kalau pertanyaannya sistem keamanannya gimana? Ya ini sudah sistem keamanannya negara lah yang kita pakai," tambahnya.

Dorong Precision Health Treatment

Program ini bermula dari seminar yang digerakkan untuk meningkatkan riset genomik, agar diagnosis dan pengobatan menjadi jauh lebih presisi. Konsep ini dikenal sebagai precision health treatment.

"Dengan teknologi ini, pemeriksaan kita akan menjadi jauh lebih bagus, lebih presisi, lebih personalized. Kemudian pengobatannya juga akan jauh lebih baik, lebih presisi, lebih personalized," jelas Menkes.

Ia memberi contoh sederhana. Selama ini, seseorang yang batuk cenderung langsung minum obat umum seperti parasetamol. Padahal, penyebab batuk bisa bermacam-macam.

"Dengan tes ini kita bisa tahu, oh batuknya ini batuk tipe yang 9. Kalau batuk tipe 9 obatnya mesti obat ini, karena itu langsung cocok sehingga sembuh," katanya.

Kemajuan ini dimungkinkan karena biaya pemeriksaan genom kini jauh lebih murah dibanding sebelumnya. Tubuh manusia memiliki sekitar 3 miliar pasangan DNA. Ketika seseorang sakit, bisa terjadi perubahan atau mutasi pada bagian tertentu. Untuk memahaminya, dibutuhkan perbandingan data dalam jumlah besar antara orang sehat dan sakit.

"Dulu nggak bisa dilakukan karena mahal. Sekarang harga memori dan prosesnya sudah murah, bisa kita lakukan," ujarnya.

Target 400 Ribu Sampel di 2030

Saat ini, jumlah sampel genom yang telah dikumpulkan sekitar 17 ribu. Tahun lalu berkisar 16.000-18.000. Tahun ini ditargetkan mencapai 100 ribu, dengan target kumulatif 400 ribu pada 2030.

"Sekarang 12.500 ya. Kita mau naikin kalau bisa ke 25 ribu, ke 50 ribu per tahun dan ke 100 ribu per tahun. Jadi targetnya di tahun 2030, 400 ribu," jelas Menkes.

Ia menambahkan, inisiatif ini tidak hanya untuk kesehatan manusia, tetapi juga berpotensi dikembangkan di bidang pertanian dan hewan.

Ke depan, akan dibentuk konsorsium riset yang melibatkan Kementerian Kesehatan, para profesor di perguruan tinggi, serta peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). Setidaknya ada tiga penyakit yang akan menjadi fokus awal, yakni stroke, jantung, dan kanker payudara.

"Itu harapannya bisa menjadi satu pilot untuk bagaimana Indonesia juga bisa maju melalui genome sequencing ini," ujarnya.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.