Pakar: AS Perlu Beli Ratusan Jet Tempur Generasi Keenam agar Siap Hadapi Pertempuran Lawan China
Wahyu Gilang Putranto February 13, 2026 03:29 AM


TRIBUNNEWS.COM – Angkatan Udara AS akan membutuhkan lebih banyak pesawat pembom dan jet tempur generasi berikutnya untuk berperang melawan China, menurut argumen mantan pilot dan pakar kekuatan udara dalam laporan baru yang dikutip Business Insider.

Dalam makalah kebijakan Mitchell Institute for Aerospace Studies yang diterbitkan pekan ini, para pakar menyebut Angkatan Udara AS perlu membeli lebih banyak pesawat pembom B-21 Raider dan jet tempur F-47 yang baru dan akan datang dibandingkan dengan jumlah yang saat ini direncanakan.

Jumlah unit yang tidak mencukupi dapat memaksa Angkatan Udara AS beroperasi secara konservatif, yang berpotensi memberi China keunggulan dalam pertempuran semacam itu.

Laporan tersebut menyatakan bahwa jaringan anti-akses dan penolakan wilayah China, bersama dengan kondisi geografisnya, menciptakan tempat perlindungan dari mana sistem pertahanan udara dan rudalnya dapat menembak.

Kekuatan tembak yang tersedia bagi pasukan China di dalam tempat perlindungan ini dapat menimbulkan ancaman bagi pasukan AS, sehingga menghancurkannya menjadi sangat penting bagi operasi militer AS.

“Persediaan pesawat pembom dan jet tempur siluman Angkatan Udara memiliki kemampuan bertahan hidup yang dibutuhkan untuk menembus wilayah dengan kepadatan ancaman tinggi, tetapi kekurangan kapasitas sorti yang cukup untuk konflik dengan China,” tulis penulis laporan Heather Penney dan pensiunan kolonel Angkatan Udara Mark Gunzinger.

MISI PENGEBOMAN - Pesawat pengebom (bomber) B-2 militer Amerika Serikat (AS). Tujuh pesawat ini dilibatkan saat AS memutuskan membantu Israel dalam perangnya melawan Iran dengan mengebom tiga fasilitas nuklir Teheran pada Sabtu (21/6/2025) malam atau Minggu (22/6/2025) dini hari.
MISI PENGEBOMAN - Pesawat pengebom (bomber) B-2 militer Amerika Serikat (AS). Tujuh pesawat ini dilibatkan saat AS memutuskan membantu Israel dalam perangnya melawan Iran dengan mengebom tiga fasilitas nuklir Teheran pada Sabtu (21/6/2025) malam atau Minggu (22/6/2025) dini hari. (khaberni/tangkap layar)

Para penulis mengusulkan agar Angkatan Udara AS mengerahkan setidaknya 200 pesawat B-21 dan 300 pesawat F-47, atau kira-kira dua kali lipat dari rencana Angkatan Udara saat ini.

Angkatan Udara AS telah menyatakan akan membeli setidaknya 185 pesawat F-47 yang dikembangkan Boeing dan sedikitnya 100 pesawat B-21 yang diproduksi Northrop Grumman.

Para penulis juga merekomendasikan peningkatan pengadaan pesawat tempur generasi kelima F-35 Lightning II Joint Strike Fighter buatan Lockheed Martin serta pesawat tempur canggih F-15EX Eagle II buatan Boeing.

Dalam sebuah acara virtual yang membahas laporan tersebut, Penney, mantan pilot F-16, mengatakan konflik masa lalu di Korea dan Vietnam, serta perang Rusia yang sedang berlangsung di Ukraina, telah menunjukkan bahwa tanpa menghancurkan pangkalan dan tempat perlindungan musuh, militer dapat terjebak dalam perang gesekan, yakni kehilangan personel dan sumber daya secara bertahap dengan sedikit pergerakan di medan tempur.

Dalam konflik dengan China, AS kemungkinan akan menghadapi pertahanan udara yang lebih canggih dibandingkan yang dihadapinya dalam Operasi Midnight Hammer tahun lalu melawan Iran atau Operasi Absolute Resolve awal tahun ini melawan Venezuela.

Baca juga: China Larang Gagang Pintu Tersembunyi di Mobil Listrik, Akankah Tesla Mengikuti?

Tanpa cadangan pesawat yang lebih besar, kata Penney, taktik Angkatan Udara AS untuk menargetkan tempat perlindungan China kemungkinan harus dibuat kurang agresif guna menghindari risiko yang tidak perlu terhadap armada yang terbatas.

Pesawat B-21 saat ini masih berada pada tahap produksi awal tingkat rendah.

Pengiriman yang dilakukan sejauh ini hanya berupa pesawat uji, bukan pesawat operasional.

Sementara itu, kontrak desain dan pengembangan jet tempur F-47 baru diberikan tahun lalu.

Baik B-21 maupun F-47 diperkirakan belum akan beroperasi dalam jumlah signifikan selama beberapa tahun ke depan.

Sementara itu, Angkatan Udara AS masih bergantung pada pesawat pembom yang lebih tua, meskipun masih mumpuni, seperti B-52 Stratofortress, B-1 Lancer, dan B-2 Spirit.

Mitchell Institute menyebut peningkatan anggaran setidaknya 40 miliar dolar AS per tahun dapat mendukung tingkat pengadaan yang lebih tinggi, sekaligus akuisisi pesawat tempur kolaboratif tanpa awak, atau drone.

Menurut pejabat Angkatan Udara, drone tidak akan menggantikan pesawat berawak, melainkan melengkapinya.

Sejumlah penilaian menunjukkan bahwa armada Angkatan Udara AS saat ini merupakan yang terkecil, tertua, dan paling tidak siap tempur dalam beberapa dekade terakhir.

Secara jumlah, inventaris pesawat tempur, pembom, serta pesawat intelijen, pengawasan, dan pengintaian saat ini hanya sebagian kecil dari kekuatannya pada era Perang Dingin.

Pada saat yang sama, para ahli menyoroti bahwa Angkatan Udara menghadapi tekanan yang meningkat akibat konflik dan misi yang terus berlangsung.

Sebuah laporan Kantor Akuntabilitas Pemerintah AS pada 2024 menyebutkan bahwa penempatan pasukan secara berkelanjutan telah mengurangi kesiapan Angkatan Udara AS, baik dari sisi personel, peralatan, maupun pesawat.

Lembaga pengawas tersebut menemukan bahwa Angkatan Udara tengah berupaya memperbaiki masalah ini, tetapi permintaan terhadap kekuatan tersebut masih melampaui kapasitasnya.

Hubungan AS-China

Mengutip gao.gov, dalam beberapa tahun terakhir, ketegangan antara Amerika Serikat dan China telah menghadirkan tantangan baru, terutama di bidang ekonomi dan pertahanan.

China merupakan mitra dagang penting bagi Amerika Serikat, namun juga menjadi pesaing utamanya.

Praktik ekonomi China yang dinilai merugikan dan tidak adil, dipandang menimbulkan risiko terhadap kepentingan ekonomi AS.

Baca juga: Rusia Bantu Modernisasi Militer China, Kini Justru Jadi Pesaing Global

Untuk mengurangi risiko tersebut, pemerintah AS menerapkan berbagai kebijakan, seperti kontrol ekspor, tarif, dan pembatasan impor lainnya.

Lembaga-lembaga federal AS juga telah mengidentifikasi munculnya isu-isu baru yang mengancam keamanan nasional, termasuk perkembangan teknologi dan senjata dwiguna China.

Melalui modernisasi dan investasi militernya, China dinilai memiliki kemampuan untuk menantang akses AS di wilayah udara, ruang angkasa, dunia maya, dan maritim.

(Tribunnews.com, Tiara Shelavie)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.