TRIBUNNEWS.COM, DIY - TNI Angkatan Udara (AU) terus menggenjot pencetakan para prajurit yang mempunyai kemampuan penerbang atau pilot pesawat untuk memenuhi kebutuhan.
Salah satunya adalah bekerja sama dengan merekrut lulusan Politeknik Penerbangan Indonesia Curug (PPIC).
Instruktur penerbang Skadron Pendidikan (Skadik) 104, Mayor Pnb Rachmat YS. Ariyo mengatakan kerja sama itu juga membantu para alumni PPI Curug untuk mendapat jam terbang.
"Kerja sama awal ya antara TNI AU dengan sekolah penerbang. Karena saya tanya juga mereka, jadi mereka itu setelah lulus dari (PPI) Curug belum tentu jadi penerbang," kata Rachmat saat ditemui di komplek Lanud Adisutjipto, Daerah Istimewa Yogyakarta, Kamis (12/2/2026).
Saat ini, sudah ada sembilan alumni PPI Curug yang sudah bergabung dan mendapat pangkat Letda Pnb.
Mereka tengah digembleng di Sekolah Penerbang (Sekbang) tepatnya di Skadik 104 yang merupakan bagian dari Wingdik 100/Terbang.
Rachmat pun mengatakan pihaknya sudah menyiapkan kurikulum kepada sembilan calon pilot TNI AU tersebut.
“(Penyesuaian) Lebih ke kurikulum. Kurikulumnya. Jadi karena ada perubahan dia (alumni PPI Curug) lebih pendek ya (waktunya). Jadi kita menyesuaikan kurikulum apa saja sih pelajaran yang dibutuhkan yang belum mereka dapatkan,” jelasnya.
Meski kurikulumnya tak jauh berbeda, namun pendidikan para alumni PPI Curug ini lebih singkat karena telah memiliki pengalaman jam terbang.
“Iya 3 bulan. Karena dia sudah punya jam terbang. Nanti kalau kelamaan kan bosan juga yang namanya jenuh ya, kok dapetnya ini lagi ini lagi,” tutur dia.
Baca juga: Rencana Pengiriman Pasukan ke Gaza: TNI AU Siapkan Korpasgat, Tapi Tak Ada Pilot
Secara teknis, pendidikan khusus bagi perwira PPI Curug hanya tinggal menyesuaikan lantaran telah memiliki Private Pilot License (PPL) dan Commercial Pilot License (CPL) sebagai pilot.
"Untuk cara kerjanya sama. Di darat kita menggunakan rudder, di udara menggunakan stick. Namun, setiap pesawat itu punya karakteristik masing-masing, tombolnya berbeda-beda. Jadi kenapa sih mereka harus standarisasi? Karena pesawat yang digunakan itu berbeda,” terangnya.
Meski masuk dalam penjurusan fixed wing, namun para alumni PPI Curug ini dipersiapkan untuk menjadi pilot pesawat angkut, bukan penerbang pesawat tempur atau helikopter.
Pertimbangannya yakni karena faktor fisiologis yang sudah berbeda apabila dicetak sebagai penerbang di luar pesawat angkut.
“Jadi G (gaya gravitasi)-nya otak saya kan biasanya straight and level ya, bawa presiden, bawa menteri, pejabat-pejabat tinggi."
"Terus saya harus terbang lagi aerobatik, di mana saya harus menahan daya tahan G terus saya harus mengikuti arah pesawat, untuk loop nih, roll, gitu masih muntah,” ungkapnya.
Meski rekrutmen sempat dibuka secara umum, namun Rachmat menegaskan seleksi tetap dilakukan secara ketat.
“Jadi kami punya intuisi ya si anak ini atau siswa ini apakah bisa menjadi seorang penerbang. Karena kan kami dituntut harus disiplin terkait prosedur dan kami bisa didirect lah, diperintah. Nah kalau kami nggak bisa, itu kelihatan,” tuturnya.
“Karena kami dilatih untuk berperang sebenarnya kan. Di saat kondisi apa pun ya kami harus siap. Harapannya, kalau tempur dia eject (aman). Kalau kami kan sebagai seorang pilot gimana caranya kami ditching mau forced landing, kami adalah orang yang paling terakhir dari pesawat,” sambungnya.
Untuk informasi, jebolan PPI Curug ini resmi dilantik oleh Panglima TNI Jenderal TNI Agus Subiyanto pada 29 Januari 2026 untuk nantinya menjadi bagian dari penerbang TNI AU setelah melewati masa pendidikan.