Pertanyaan:
“Dok. Karena banyaknya kayak tren makan jajanan rebusan rebus-rebusan ini, Dok (umbi-umbian, jagung, dan sebaginya).
Nah, banyak orang tuh kayak mengurangi nasi putih, Dok.
Nah, ini apakah juga berpengaruh juga nanti ke gula darah seperti itu, Dokter?”
(Pertanyaan dari jurnalis TribunHealth.com, dalam Talk Show Healthy Talk “Peran Deteksi Dini dalam Menurunkan Risiko Stroke” yang tayang di YouTube TribunHealth.com dan Tribunnews pada Sabtu, 31 Januari 2026)
Jawaban Dokter Spesialis Neurologi RSUD Bung Karno Surakarta, dr. Galuh Candrasari, Sp.N:
“Iya, harusnya iya.
Kalau nasi putih itu kan termasuk karbohidratnya yang termasuk yang sederhana ya, Mbak ya.
Tapi kalau misalnya yang umbi-umbian itu kan karbohidratnya lebih kompleks lagi.
Perbedaannya gini, kalau misalnya karbohidratnya kompleks itu naiknya enggak terlalu tajam.
Jadi paling naik lama, turun lama.
Tapi kalau misalnya gula-gula putih, nasi putih itu kan dia langsung naiknya tajam, turunnya tajam juga.
Nah, yang bahayanya itu yang di sini.
Kalau ketika naik tajam, turun tajam itu nanti faktor risikonya jadi gulanya lebih tinggi ya…
Dan itu padahal itu kan ke faktor risiko stroke.
Jadi kalau misalnya kalau sekarang trennya itu umbi-umbian itu malah bagus, itu nanti kan jadi enggak terlalu ada sugar spike gitu kan ya.
Akhirnya faktor risiko strokenya pasti lebih turun lagi itu.”
Simak penjelasan lengkapnya dalam tayangan berikut:
Stroke terjadi ketika pasokan darah ke otak terganggu atau berkurang akibat penyumbatan (stroke iskemik) atau pecahnya pembuluh darah (stroke hemoragik).
Tanpa oksigen dan nutrisi yang dibawa darah, sel-sel otak dapat mulai mati hanya dalam hitungan menit.
Kondisi ini merupakan penyebab utama kecacatan jangka panjang dan kematian di berbagai belahan dunia.
Baca juga: Dokter Fiki, Apakah Faktor Stres Bisa jadi Pemicu Serangan Stroke?
Masyarakat dihimbau untuk mengenali tanda-tanda awal stroke secara cepat melalui akronim ‘segera ke RS’
Faktor risiko stroke seperti hipertensi, diabetes, dan kolesterol tinggi dapat dikelola melalui pola hidup sehat (diet rendah garam, olahraga rutin, dan tidak merokok).
Mengingat stroke adalah kondisi kritis, penanganan medis dalam "golden period" (kurang dari 4,5 jam sejak gejala muncul) sangat menentukan peluang pemulihan pasien.
(TribunHealth.com)