TRIBUNNEWS.COM - Militer Israel menggelar serangkaian latihan perang di wilayah Laut Merah dan Laut Mediterania dengan melibatkan angkatan laut, udara, dan pasukan darat, mulai Kamis (12/2/2026).
Latihan ini dilakukan di tengah meningkatnya ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat serta bertambahnya kehadiran militer AS di kawasan Timur Tengah.
Mengutip laporan Anadolu, latihan digelar dua kali secara terpisah sebagai bagian dari kesiapan menghadapi kemungkinan eskalasi konflik di kawasan.
Adapun latihan pertama berlangsung di wilayah selatan Israel, tepatnya di sekitar Eilat dan Lembah Arava di kawasan Laut Merah. Sementara latihan kedua dilakukan di Laut Mediterania dengan fokus pada pertahanan maritim.
Pelaksanaan latihan di wilayah Eilat dan Lembah Arava didasari oleh pertimbangan geografis dan tingkat kerawanan kawasan tersebut.
Wilayah selatan Israel dinilai sebagai salah satu titik sensitif karena berbatasan dengan jalur strategis yang berdekatan dengan Yordania, Laut Merah, serta akses menuju kawasan yang berpotensi menjadi jalur ancaman dari kelompok bersenjata di wilayah regional.
Dalam skenario latihan, militer mempersiapkan kemungkinan serangan rudal yang menargetkan kota Eilat dan sekitarnya, termasuk kawasan wisata dan infrastruktur vital.
Selain itu, latihan juga mensimulasikan potensi infiltrasi lintas batas melalui darat maupun laut, termasuk kemungkinan serangan maritim dari arah Laut Merah.
Langkah ini dilakukan untuk memastikan kesiapan pasukan dalam menghadapi skenario darurat yang dapat terjadi secara cepat dan bersamaan.
Sedangkan latihan yang digelar di Laut Mediterania difokuskan pada penguatan sistem pertahanan terhadap ancaman di wilayah perairan ekonomi Israel.
Kawasan ini memiliki nilai strategis karena menjadi lokasi berbagai aset penting, seperti platform gas lepas pantai, jalur distribusi energi, serta pelabuhan utama yang mendukung aktivitas ekonomi nasional.
Baca juga: Di Balik Layar Pertemuan 3 Jam Trump dan Netanyahu: Ketakutan Israel akan Rudal Iran Kian Menjadi
Melalui latihan tersebut, angkatan laut Israel mensimulasikan berbagai ancaman multi-dimensi, mulai dari serangan bawah laut, ancaman di permukaan laut, hingga serangan dari udara.
Kegiatan ini melibatkan kapal perang, kapal selam, pasukan khusus angkatan laut, serta dukungan dari angkatan udara yang beroperasi secara terpadu.
Pihak militer tidak merinci durasi latihan maupun detail operasional, namun kabarnya latihan ini melibatkan berbagai elemen militer.
Termasuk kapal selam, kapal rudal, pasukan khusus angkatan laut, serta dukungan pesawat tempur dari angkatan udara yang beroperasi secara terpadu.
Penggelaran latihan di dua wilayah berbeda mencerminkan upaya Israel untuk meningkatkan kesiapan menghadapi potensi ancaman dari berbagai arah secara simultan.
Langkah ini juga dipandang sebagai respons terhadap dinamika keamanan regional yang semakin tidak menentu, termasuk ketegangan terkait program nuklir Iran, negosiasi yang masih berlangsung antara Teheran dan Washington.
Serta peningkatan kehadiran militer AS di Timur Tengah yang dikhawatirkan dapat meningkatkan risiko salah perhitungan atau eskalasi konflik yang lebih luas.
Israel, sebagai sekutu utama Amerika Serikat di kawasan dan salah satu negara yang paling vokal menentang program nuklir Iran, berupaya memastikan kesiapan militernya jika situasi memburuk.
Meskipun latihan tersebut tidak secara resmi dikaitkan dengan skenario konflik langsung antara Iran dan AS, penguatan kesiapan tempur dipandang sebagai langkah pencegahan untuk menghadapi kemungkinan dampak regional.
Termasuk serangan melalui kelompok proksi atau gangguan terhadap jalur perdagangan dan infrastruktur strategis.
Dengan memperkuat kesiapan di wilayah selatan dan perairan strategisnya, Israel berupaya memastikan perlindungan terhadap wilayah perbatasan, jalur perdagangan, serta aset energi nasional di tengah situasi geopolitik yang terus berkembang.
(Tribunnews.com / Namira)