TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Kunjungan Wakil Presiden Indonesia, Gibran Rakabuming Raka ke Bali penuh dengan hal-hal unik mulai dari belanja hingga dengarkan uneg-uneg.
Gibran diketahui tengah berada di Bali dengan melakukan beberapa kunjungan ke beberapa lokasi termasuk ke salah satu pasar terbesar di Bali yakni pasar Badung.
Saat di pasar Badung, Gibran sempat bertanya ke beberapa pedagang bahkan sempat membeli beberapa bumbu masakan seperti cabai rawit.
Bahkan salah seorang pedagang cabai langsung mengeluhkan naiknya harga cabai kepada Wapres Gibran.
"Apa Bu yang naik?" tanya Gibran kepada pedagang itu.
"Naik cabainya Rp85 ribu sekarang," jawab pedagang langsung kepada Wapres.
Wapres Gibran pun dengan serius menanggapi keluhan pedagang tingginya harga cabai sekarang dan menanyakan kepada Walikota Denpasar apa saja yang disubsidi oleh pemerintah untuk menanggulangi naiknya harga cabai.
Salah satu pedagang Erawati, mengaku bahwa Wapres diwakili ajudannya membeli bawang merah, bawang putih dan cabai rawit.
"Ada (Wapres belanja). Beli bawang merah, bawang putih dan cabai rawit,”
“Aku dikasih amplop lalu saya beri setengah kilo (bawang merah), setengah kilo (bawang putih), setengah kilo (cabai rawit)," ujarnya dengan ekspresi sumringah.
Sementara itu, pedagang daging sapi, Made Suarti, menyampaikan rasa terima kasih kepada Wapres Gibran telah mengunjungi Pasar Badung.
"Senang ketemu bapak Wapres langsung. Terimakasih sudah datang ke pasar melihat rakyat di bawah. Semoga kedepannya lebih bagus," ujar Made Suarti dengan sumringah.
Ia menyebutkan bahwa harga daging sapi per kilo saat ini stabil di angka Rp120 ribu namun pembeli mengalami penurunan karena faktor musim hujan.
Usai dari Pasar Badung, Gibran dan rombongan melanjutkan agenda selanjutnya bertemu dengan pelaku usaha sektor pariwisata di Politeknik Pariwisata Bali.
Di sana Wapres Gibran bersilaturahmi dengan pelaku usaha sektor pariwisata mendengarkan langsung permasalahan atau isu-isu terkini tentang pariwisata di Pulau Dewata.
Pertemuan digelar secara tertutup dari awak media dan Wapres Gibran pun meninggalkan Poltekpar Bali tanpa memberikan keterangan apapun kepada awak media.
Turut hadir dalam pertemuan tersebut Menteri Pariwisata (Menpar) Widiyanti Putri Wardhana, Wakil Menteri Pariwisata (Wamenpar) Ni Luh Enik Ermawati atau yang lebih dikenal sebagai Ni Luh Puspa, Gubernur Bali I Wayan Koster, Bupati Badung I Wayan Adi Arnawa.
Menpar Widiyanti menyampaikan bahwa dalam pertemuan tadi sejumlah isu krusial dan isu-isu pariwisata disampaikan langsung pelaku pariwisata Bali kepada Wapres Gibran.
“Ada isu-isu yang krusial seperti sampah, kemudian juga mengenai isu keselamatan, juga mengenai air kemudian juga mengenai infrastruktur dan juga izin online,”
“Dan juga isu-isu pariwisata lainnya,” ujar Menpar Widiyanti, Sabtu 13 Februari 2026 usai mengikuti pertemuan dengan Wapres Gibran di Poltekpar Bali.
Tentang isu-isu pariwisata yang dimaksud adalah mengenai mahalnya harga tiket pesawat domestik saat ini seperti rute Jakarta ke Bali.
Menanggapi hal itu Kemenpar akan berkoordinasi dengan Kementerian/Lembaga terkait membahas masalah mahalnya tiket pesawat agar nantinya dapat turun tidak hanya saat momen-momen tertentu.
“Jadi kita akan koordinasi kembali bagaimana tiket pesawat ini secara permanen (harga tiket pesawat turun), kami sudah memberikan diskon-diskon situasional liburan seperti Nataru, Lebaran,”
“Harus dibuat solusi bagaimana kita bisa memberikan diskon itu secara permanen,” imbuh Menpar Widiyanti.
Mengenai permasalahan sampah di Bali pihaknya mengatakan bahwa pemerintah pusat akan membantu dengan membangun fasilitas Waste to Energy atau Pengolahan Sampah Menjadi Energi Listrik (PSEL).
Mantan Ketua PHRI Bali sekaligus tokoh senior industri pariwisata Bali, Gede Wiratha, membenarkan bahwa harga tiket pesawat domestik di Indonesia mahal atau tinggi dibanding negara lain.
Ia pun berharap saat libur Lebaran nanti harga tiket pesawat bisa lebih murah dibandingkan sebelumnya sehingga banyak wisatawan domestik liburan ke Bali.
Dan penurunan harga tiket pesawat tidak hanya saat periode liburan saja tetapi berlanjut seterusnya.
“Terobosannya Bu Menteri (Menpar) itu menganulir yang namanya diskon khusus untuk Lebaran. Sehingga tiket ke Bali nanti murah sekali dari Jawa, dari Jakarta,”
“Ini yang 20 tahun terakhir tidak pernah diperhatikan oleh Kementerian,”
“Sekarang Kementerian Pariwisata meminta kepada Menteri Keuangan agar PPN dan sebagainya itu diturunkan dan dihapuskan,” tutur Gede Wiratha.(*)