TRIBUNPEKANBARU.COM, SIAK - Brand pariwisata “Siak The Truly Malay” telah lama mengakar dan menjadi identitas pariwisata Kabupaten Siak, baik di tingkat regional Riau maupun nasional.
Gaungnya semakin menguat ketika masuk nominasi kategori Brand Pariwisata Terpopuler dalam ajang Anugerah Pesona Indonesia (API) 2021.
Saat itu, Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Siak diemban oleh Fauzi Azni, kini menjabat sebagai Asisten I Setdakab Siak.
Fauzi masih mengingat betul momen ketika brand tersebut berhasil menembus enam besar nasional. Ia bahkan aktif mengajak masyarakat Siak untuk memberikan dukungan melalui voting daring.
“Brand ini sebelumnya sudah ada. Jadi saya waktu itu meneruskan saja, dan akhirnya masuk nominasi API,” kata Fauzi Azni saat dikonfirmasi, Jumat (13/2/2026).
Menurut Fauzi, keberhasilan masuk nominasi merupakan hasil konsistensi promosi dan penguatan identitas Melayu yang telah dibangun sejak lama.
Meski tidak keluar sebagai pemenang karena kalah dalam perolehan suara, ia menilai pencapaian tersebut tetap membawa dampak positif terhadap pengenalan Siak di tingkat nasional.
“Waktu itu momentumnya baik, jadi kita terus promosikan. Kalau sekarang tentu mana yang terbaik menurut pimpinan, saya ikut saja,” ujarnya.
Baca juga: Wabup Siak Ingin Ubah Tagline Siak The Truly Malay, Padahal Sudah Mempunyai Hak Cipta
Baca juga: Tergelitik karena Bahasa Inggris, Wabup Siak Usulkan Pergantian Tagline Siak The Truly Malay
Walaupun tidak meraih posisi puncak, “Siak The Truly Malay” tetap memperoleh eksposur nasional yang signifikan. Tagline tersebut bahkan telah terdaftar secara resmi di Kementerian Hukum dan HAM sebagai bagian dari identitas daerah.
Belakangan, brand tersebut kembali menjadi perbincangan publik setelah pernyataan Wakil Bupati Siak, Syamsurizal, dalam Simposium Siak sebagai Pusat Kebudayaan Melayu yang digelar 10 Februari 2026 di Balairung Datuk Empat Suku.
Dalam forum tersebut, Syamsurizal mengaku tergelitik dengan penggunaan bahasa Inggris dalam tagline tersebut. Dengan alasan itu ia mengusulkan agar diganti menjadi bahasa Indonesia Siak Melayu Sebenarnya.
“Tagline yang disampaikan tadi itu menggelitik saya. Siak The Truly Malay. Kenapa kita menggunakan bahasa Inggris, padahal kita Melayu?” ujarnya di hadapan peserta simposium.
Ia juga menyebut nama Syamsuar, yang dikenal sebagai pencetus brand tersebut saat menjabat Bupati Siak. Menurut Syamsurizal, penggunaan bahasa Indonesia yang berakar dari bahasa Melayu dinilai lebih merepresentasikan jati diri daerah.
“Bahasa Indonesia berasal dari bahasa Melayu. Kenapa tidak kita ganti saja dengan tagline Siak Melayu Sebenarnya?” katanya.
Pernyataan itu memicu perdebatan publik, terlebih disampaikan di hadapan Syamsuar sendiri. Sebagian masyarakat menilai wacana tersebut sarat nuansa simbolik, mengingat “Siak The Truly Malay” telah lama menjadi identitas resmi dan bahkan sudah terdaftar secara hukum.
Selain itu, publik juga mengingat bahwa pada periode awal peluncuran brand tersebut, Syamsurizal masih menjabat sebagai anggota DPRD Siak. Hal itu memunculkan asumsi bahwa ia tentu mengetahui kedudukan dan legalitas tagline tersebut dalam dokumen resmi pemerintah daerah.
Kini, wacana perubahan tagline tidak hanya menjadi diskursus bahasa, tetapi juga menyentuh aspek historis, identitas budaya, serta kesinambungan kebijakan pariwisata daerah.
(Tribunpekanbaru.com/mayonal putra)