Sekretaris ABPEDNAS Bangka Barat Sebut Genteng Lebih Tahan Lama, Tapi Biaya Jadi Kendala
Ardhina Trisila Sakti February 13, 2026 09:03 PM

BANGKAPOS.COM, BANGKA -- Program gentengisasi yang digagas Presiden RI Prabowo Subianto, dinilai memiliki banyak manfaat, terutama dari sisi kenyamanan hunian. 

Atap genteng dianggap lebih adem, alami, serta lebih tahan lama dibandingkan seng maupun asbes.

Sekretaris DPC, Asosiasi Badan Permusyawaratan Desa Nasional (ABPEDNAS) Bangka Barat, Suwandi mendukung apabila program tersebut direalisasikan. 

Menurutnya, genteng secara kualitas memang lebih baik. Tetapi biaya pemasangannya relatif lebih tinggi karena membutuhkan rangka kayu, ring balok, serta kuda-kuda yang kuat sebagai dudukan.

“Kalau genteng memang bagus, adem. Tapi biayanya lebih besar dibanding asbes atau seng, karena perlu kayu ring dan kuda-kuda yang lebih kuat. Harga genteng sekitar Rp 3.000 sampai Rp 4.000 per keping, yang membuat mahal itu di rangkanya,” kata Suwandi kepada Bangkapos.com, Jumat (13/2/2026).

Ia menjelaskan, saat ini penggunaan atap rumah di desa masih didominasi asbes dan seng karena pertimbangan biaya.

Sementara rumah yang menggunakan genteng jumlahnya masih sangat sedikit, dibandingkan dua jenis atap tersebut.

"Termasuk di desa kami, yang menggunakan genteng sedikit, banyaknya asbes dan seng," katanya.

Menurutnya, jika program gentengisasi ingin berjalan efektif di lapangan, perlu adanya aturan turunan yang jelas. 

Serta dukungan konkret dari pemerintah, terutama dalam bentuk bantuan pembiayaan atau stimulus bagi masyarakat.

“Perlu support pemerintah dalam hal biaya. Kalau ada program bantuan, tentu masyarakat akan lebih mudah beralih ke genteng. Selain membuat rumah lebih sejuk, ini juga bisa menghidupkan kembali usaha genteng di desa-desa,” tutupnya.

Ia berharap, kebijakan tersebut tidak hanya menjadi wacana, tetapi benar-benar disiapkan skema teknisnya agar manfaatnya dapat dirasakan masyarakat secara luas.

(Bangkapos.com/Riki Pratama)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.