TRIBUNJATIM.COM - Bangunan sederhana menyimpan kisah tentang perjuangan pendirinya agar bisa melanjutkan dedikasi untuk pendidikan.
Bangunan sederhana itu berada di sudut Perum Larangan Mega Asri, Kecamatan Candi, Kabupaten Sidoarjo.
Berdiri sebuah bangunan menyimpan kisah tentang kasih sayang tanpa batas.
Di tempat itu, pendidikan bagi Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) tak pernah diukur dengan angka rupiah, melainkan dengan empati dan keyakinan bahwa setiap anak berhak atas masa depan.
Bangunan itu adalah Sekolah Luar Biasa (SLB) Nabighah.
Sosok di baliknya, Diah Maria Asih, memilih jalan yang tak banyak orang berani tempuh.
Sejak 2008, perempuan yang sebelumnya berkarier di sebuah rumah sakit swasta di Surabaya itu memutuskan “banting setir”.
Ia meninggalkan kenyamanan pekerjaannya demi mendirikan sekolah bagi anak-anak berkebutuhan khusus dari keluarga prasejahtera.
Keputusan itu bukan tanpa alasan.
Saat melakukan penelitian terhadap anak-anak berkebutuhan khusus di Sidoarjo, Diah mendapati kenyataan yang membuat hatinya terenyuh.
Banyak anak telantar tanpa penanganan dan pendidikan yang layak, hanya karena orangtua mereka tak sanggup membayar biaya sekolah.
“Sayang kalau anak-anak itu sampai tidak bisa mendapatkan pendidikan, karena keterbatasan ekonomi orangtuanya,” ungkap Diah saat ditemui di sekolahnya, Kamis (12/2/2026).
Berangkat dari kegelisahan itu lahir tekad. Ia bahkan menjual rumahnya di Surabaya demi merintis sekolah tersebut.
“Kalau tidak ada yang peduli, gimana nasib mereka,” tuturnya.
Sejak awal, Diah menanamkan satu prinsip sederhana, yakni jangan sampai biaya menjadi penghalang anak untuk belajar.
“Saya memang dari awal niatnya ingin membantu anak-anak supaya jangan terbelenggu. Mari kita sekolahkan anak, untuk masalah biaya bisa bayar semampunya,” ujar dia.
Baca juga: Halimah Siswa SLB Pasuruan Cari Rongsokan Sepulang Sekolah Demi Bantu Ibu, Polisi Beri Modal Usaha
Di tengah segala keterbatasan fasilitas, SLB Nabighah juga mencatatkan capaian membanggakan.
Tiga alumninya berhasil menembus perguruan tinggi negeri bergengsi.
“Alhamdulillah, ada satu yang diterima di Teknik Pembangunan UGM (Universitas Gajah Mada), dan dua di UB (Universitas Brawijaya) Malang jurusan Pertanian dan Psikologi."
"Itu membuktikan mereka mampu jika diberi kesempatan,” tutur dia.
Baca juga: Kiprah Qorry Nurul Hidayah, Wanita Bondowoso 19 Tahun Jadi Guru SLB dan Mahir Bahasa Isyarat: Ikhlas
Kebijakan di SLB Nabighah pun tak biasa.
Orangtua diberi kebebasan menentukan sendiri nominal yang mampu mereka bayar.
“Dulu pernah ada yang gratis, tidak membayar sepeser pun. Kalau sekarang ada yang bayar Rp 25 ribu per bulan. Jangan sampai ada anak tidak sekolah karena biaya,” ungkap dia.
Kini, sekolah itu mengasuh 41 murid.
Masing-masing datang membawa cerita dan tantangan yang berbeda.
Salah satu kisah yang paling membekas bagi Diah adalah seorang siswa usia SMP yang mengalami trauma berat akibat perundungan di sekolah inklusi sebelumnya.
“Dia dulu merasa di-bully sampai tidak mau sekolah. Lihat gerbang sekolah itu dia sudah berontak,” ujar Diah.
Dengan pendekatan personal dan terapi emosi yang konsisten, perlahan rasa takut anak itu mencair. Di lingkungan yang dipenuhi kesabaran dan kasih sayang, ia kembali menemukan keberanian.
“Sekarang dia sudah mau menulis dan punya teman. Dia sampai bilang sama saya, seandainya kenal dia kenal saya dari dulu, dia mungkin tidak akan merasa malu,” ujar Diah dengan mata berkaca-kaca.
Perjuangan tentu belum usai.
Diah masih harus memutar otak demi kesejahteraan 14 guru yang mengabdi di sekolah itu, melalui sistem subsidi silang dari layanan terapi mandiri.
Namun keyakinannya tak pernah goyah.
Ia masih menyimpan mimpi untuk memperluas gedung sekolah, agar lebih banyak anak berkebutuhan khusus bisa merasakan pendidikan tanpa rasa takut dan tanpa beban biaya.
“Harapan saya, kalau ada rezeki, saya ingin kembangkan gedung ini," ujar dia.
"Saya yakin Tuhan akan memberikan jalan supaya orangtua tidak takut lagi menyekolahkan anaknya karena biaya yang mahal,” sambung Diah.