Bulog Tulungagung Jamin Ketersediaan MinyaKita dan Beras Jelang Ramadan
Sri Wahyuni February 13, 2026 09:50 PM

TRIBUNMATARAMAN.COM, TULUNGAGUNG - Bulog Cabang Tulungagung memastikan tidak akan ada kelangkaan produk minyak goreng MinyaKita di pasaran.

Hal ini disampaikan Pemimpin Bulog Cabang Tulungagung, Yonas Haryadi Kurniawan, saat Gerakan Pangan Murah (GPM) di Kantor Kecamatan Sumbergempol, Kabupaten Tulungagung, Jumat (13/2/2026).

Ketersediaan sok MinyakKita ini tidak lepas dari Domestik Market Obligation (DMO) 35 persen dari produk minyak sawit.

“Kewajiban DMO ini dikelola 3 BUMN, salah satunya Bulog. Saat ini kami sedang salurkan secara masif ke pasar, GPM, dan outlet yang ditunjuk Disperindag,” jelasnya.

Minyak Kita di Tulungagung dipatok dengan Harga Eceran Tertinggi (HET) Rp 15.700 per liter.

Menurut Yonas, saat ini kondisi pasukan Minyak Kita di Jawa Timur sudah hijau, karena maksimal di HET dan banyak yang di bawah HET.

Setiap minggu Bulog Cabang Tulungagung mendapat kiriman stok sekitar 2 kontainer.

“Pokoknya begitu produsen siap, langsung kita jemput. Memang ada kecenderungan permintaan naik, tapi stok sangat aman, tidak perlu khawatir,” tambahnya.

Di awal Ramadan 2026, ada kecenderungan masyarakat membeli stok pangan, sehingga membuat harga naik meski tidak signifikan.

Sebab itu Bulog berupaya menjamin produk pangan yang ada di bawah pengelolaannya, seperti Minyak Kita dan beras.

Baca juga: Laksanakan Arahan Presiden, Pemkab Kediri Gelar Gerakan Indonesia Asri di Kawasan SLG

Untuk setiap Gerakan Pasar Murah, Bulog menyiapkan 1-2 ton beras Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP), dan 200 liter minyak kita.

“Stok ini tergantung permintaan pasar. Misalnya beras atau minyaknya habis, kami langsung minta tambahan lagi,” katanya.

Saat ini Bulog Cabang Tulungagung masih menyimpan cadangan bera sebesar 38.000 ton.

Sementara stok Minyak Kita sekitar 18.000 liter, dan akan bertambah lagi sesuai kesiapan DMO minyak sawit.

“Pemerintah hadir untuk memastikan, masyarakat bisa mendapatkan produk pangan yang terjangkau,” pungkasnya.

Kepala Dinas Ketahanan Pangan Kabupaten Tulungagung, Sony Welly Ahmadi, mengatakan GPM dilaksanakan atas instruksi Bapanas.

GPM bentuk intervensi pemerintah untuk menekan inflasi saat menjelang Bulan Ramadan.

Selama Februari 2026, GPM sudah dilaksanakan 5 kali, dan akan terus dilaksanakan di 19 kecamatan.

“Sejauh ini memang ada kenaikan harga, tapi masih bisa kita kendalikan. Yang rawan masih cabai,” ungkap  Sony.

Harga cabai terus berfluktuasi dengan harga pasaran saat ini Rp 85.000 per kg.

Sementara telur juga naik dari Rp 28.000 menjadi Rp 32.000 per kg.

Kenaikan harga ini karena permintaan yang meningkat menjelang Ramadan.

GPM digelar untuk menghadirkan harga pangan yang lebih murah dari pasaran.

Misalnya cabai, di GPM dijual Rp 70.000 per kg saat harga pasar Rp 85.000 per kg.

“Kita memutus distribusi, jadi dari petani langsung kami jual ke konsumen,” tegasnya.

Sony mengatakan, Satgas Pangan akan terus memantau harga selama Ramadan dan menjelang Idul Fitri.

Intervensi pasar akan dilakukan jika harga melonjak tinggi, dan berpotensi memberatkan masyarakat.

(David Yohanes/TribunMataraman.com)

Editor : Sri Wahyunik 

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.