Oleh: Pastor John Lewar, SVD
TRIBUNFLORES.COM, MAUMERE - Mari simak renungan Katolik hari Sabtu 14 Februari 2026.
Tema renungan Katolik hari ini "berapa roti yang ada padamu?.
Renungan Katolik hari ini untuk hari Sabtu, Perayaan Wajib Santo Syrilius dan Metodius, Uskup dan Rahib, Santo Valentinus, Martir, Santo Maro, Abbas, Beato Yohanes dari Aldomovar, Pengaku Iman, dengan warna liturgi putih.
Adapun bacaan liturgi Katolik hari Sabtu 14 Februari 2026 adalah sebagai berikut:
Baca juga: Teks Misa Minggu 15 Februari 2026 Lengkap Renungan Harian Katolik
"Raja Yerobeam membuat dua anak lembu emas."
Setelah menjadi raja, berkatalah Yerobeam dalam hatinya, “Kini mungkin kerajaan ini kembali kepada keluarga Daud. Jika bangsa itu tetap pergi mempersembahkan kurban sembelihan di rumah Tuhan di Yerusalem, maka pastilah hati bangsa ini akan berbalik kepada tuan mereka, yaitu Rehabeam, raja Yehuda, kemudian mereka akan membunuh aku dan akan kembali kepada Rehabeam, raja Yehuda.”
Sesudah menimbang-nimbang, raja membuat dua anak lembu jantan dari emas. Lalu ia berkata kepada mereka, “Sudah cukup kamu pergi ke Yerusalem! Hai Israel, lihatlah sekarang allah-allahmu, yang telah menuntun engkau keluar dari tanah Mesir.” Lalu ia menaruh lembu yang satu di Betel dan yang lain ditempatkannya di Dan.
Maka hal itu menyebabkan orang berdosa. Sebab rakyat pergi ke Betel menyembah patung yang satu dan ke Dan menyembah patung yang lain.
Yerobeam membuat juga kuil-kuil di atas bukit-bukit pengurbanan, dan mengangkat imam-imam dari kalangan rakyat yang bukan dari bani Lewi.
Kemudian Yerobeam menentukan suatu hari raya pada hari yang kelima belas bulan kedelapan, sama seperti hari raya yang di Yehuda, dan raja sendiri naik tangga mezbah itu.
Begitulah dibuatnya di Betel: ia mempersembahkan kurban kepada anak-anak lembu yang telah dibuatnya itu, dan ia menugaskan di Betel imam-imam bukit pengurbanan yang telah diangkatnya.
Raja Yerobeam tidak berbalik dari kelakuannya yang jahat itu, tetapi mengangkat pula imam-imam dari kalangan rakyat untuk bukit-bukit pengurbanan.
Siapa saja yang mau ditahbiskannya menjadi imam untuk bukit-bukit pengurbanan. Dan tindakan itu menjadi dosa bagi keluarga Yerobeam, sehingga mereka dilenyapkan dan dipunahkan dari muka bumi.
Demikianlah Sabda Tuhan.
Syukur Kepada Allah.
Mazmur Tanggapan Mzm 106:6-7a.19-22
Ref. Ingatlah akan daku, ya Tuhan, demi kemurahan-Mu terhadap umat.
Kami dan nenek moyang kami telah berbuat dosa, kami telah bersalah, kami telah berbuat fasik. Nenek moyang kami di Mesir tidak memahami perbuatan-perbuatan-Mu yang ajaib.
Mereka membuat anak lembu di Horeb, dan sujud menyembah kepada patung tuangan; mereka menukar Yang Mulia dengan patung sapi jantan yang makan rumput.
Mereka melupakan Allah yang telah menyelamatkan mereka, yang telah melakukan hal-hal besar di tanah Mesir; yang melakukan karya-karya ajaib di tanah Ham, dan perbuatan-perbuatan dahsyat di tepi Laut Teberau.
Bait Pengantar Injil Alleluya
Ref. Alleluya
Ayat. Manusia hidup bukan saja dari makanan, melainkan juga dari setiap sabda Allah
Bacaan Injil Markus 8:1-10
"Mereka semua makan sampai kenyang."
Sekali peristiwa sejumlah besar orang mengikuti Yesus. Karena mereka tidak mempunyai makanan, Yesus memanggil murid-murid-Nya dan berkata, “Hatiku tergerak oleh belas kasihan kepada orang banyak ini.
Sudah tiga hari mereka mengikuti Aku dan mereka tidak mempunyai makanan. Jika mereka Kusuruh pulang ke rumahnya dengan lapar, mereka akan rebah di jalan, sebab ada yang datang dari jauh.”
Murid-murid-Nya menjawab, “Bagaimana di tempat yang sunyi ini orang dapat memberi mereka roti sampai kenyang?” Yesus bertanya kepada mereka, “Berapa roti yang ada padamu?” Jawab mereka, “Tujuh.”
Lalu Yesus menyuruh orang banyak itu duduk di tanah. Sesudah itu Yesus mengambil ketujuh roti itu, mengucap syukur, lalu memecah-mecahkannya dan memberikannya kepada murid-murid-Nya untuk dibagi-bagikan.
Dan mereka memberikannya kepada orang banyak. Mereka mempunyai juga beberapa ikan. Sesudah mengucap berkat atasnya, Yesus menyuruh supaya ikan itu juga dibagi-bagikan. Dan mereka makan sampai kenyang.
Kemudian orang mengumpulkan potongan-potongan roti yang sisa, sebanyak tujuh bakul. Mereka itu ada kira-kira empat ribu orang. Lalu Yesus menyuruh mereka pulang. Akhirnya Yesus segera naik ke perahu dengan murid-murid-Nya dan bertolak ke daerah Dalmanuta.
Demikianlah Injil Tuhan.
U. Terpujilah Kristus.
Renungan Harian Katolik
"Berapa Roti yang Ada Padamu?"
Dalam Injil hari ini dikisahkan bahwa sejumlah besar orang mengikuti Yesus.
Sudah tiga hari mereka mengikuti-Nya dan karena itu makanan yang mereka
bawa sudah habis. Situasi darurat ini Yesus komunikasikan kepada para murid
Nya, kata-Nya: “: “Hati-Ku tergerak oleh belas kasihan kepada orang banyak ini.
Sudah tiga hari mereka mengikuti Aku dan mereka tidak mempunyai makanan.
Dan jika mereka Kusuruh pulang ke rumahnya dengan lapar, mereka akan rebah
di jalan, sebab ada yang datang dari jauh” (MRK 8:2-3).
Tampak di sini bahwa Yesus sangat manusiawi dan peduli terhadap nasib hidup
orang banyak. Namun, para murid merespons dengan pertanyaan, Bagaimana di
tempat yang sunyi ini orang dapat memberi mereka roti sampai kenyang? (ay.
4). Atas pertanyaan tersebut, Yesus tidak menjawabnya, malah Dia ganti
bertanya, Berapa roti yang ada padamu? (ay. 5). Wow seru, pertanyaan dibalas
pertanyaan dan pertanyaan Yesus ini berkaitan dengan matematika sederhana,
maka mereka langsung menjawab, Tujuh (ay. 5b).
Para murid memiliki tujuh roti dan jumlah ini sudah cukup untuk memberi
makan kepada sejumlah besar orang yang sudah tidak mempunyai makanan.
Apakah jumlah tersebut cukup untuk mengenyangkan orang sebanyak itu? Dari
logika manusia, pasti tidak cukup. Tetapi, cukup atau tidak cukup, sebenarnya
bukanlah urusan para murid. Soal mencukupi kebutuhan mereka bukanlah
bagian yang harus dilakukan oleh para murid. Urusan dan bagian mereka adalah
memberi dari apa yang mereka miliki, yakni tujuh roti dan beberapa ikan.
Selanjutnya adalah urusan dan bagian Yesus untuk mencukupkan apa yang di
mata manusia hanya sedikit dan dianggap tidak mencukupi.
Saat itu, Yesus mengambil ketujuh roti itu, mengucap syukur, lalu memecah-mecahkannya dan
memberikannya kepada murid-murid-Nya untuk dibagi-bagikan. Setelah roti
dibagi-bagikan, mereka makan sampai kenyang. Bahkan, potongan-potongan
yang sisa (lebih) masih ada sebanyak tujuh bakul. Padahal, jumlah orang yang
makan ada sekitar empat ribu orang. Luar biasa bukan? Itulah karya Tuhan, dari
yang sedikit bisa menjadi berlimpah. Luar biasa!
Menarik untuk dicermati, bahwa dari antara sejumlah besar orang yang
mengikuti Yesus tersebut ada yang datang dari jauh. Yesus tahu bahwa ada
yang datang dari jauh (ay. 3). Seorang penafsir Injil Markus berpendapat bahwa
peristiwa Yesus memberi makan empat ribu orang ini terjadi di daerah
Dekapolis, yaitu di luar negeri Palestina. Dengan demikian, dapat dipastikan
bahwa peristiwa penggandaan roti tersebut disaksikan, bahkan dialami oleh
sejumlah orang bukan Yahudi yang memang datang dan/atau tinggal di daerah
itu. Salah satu petunjuk ke arah itu ialah ungkapan sebab ada yang datang dari
jauh (ay. 3). Singkat kata, Yesus memberi makan roti bukan hanya kepada
orang-orang Yahudi tetapi juga kepada orang-orang bukan Yahudi. Ia memberi
makan kepada siapa saja; karya-Nya terbuka bagi semua orang tanpa kecuali.
Begitulah hendaknya karya pelayanan Gereja. Karya Gereja, juga dalam hal
memberi makan kepada mereka yang lapar, hendaknya terbuka kepada siapa
saja, sebab mereka semua memiliki martabat yang sama di hadapan Allah. Pintu
pelayanan Gereja mesti menjangkau semua orang. Perihal keterbukaan Gereja
ini juga disinggung oleh Paus Fransiskus dalam Seruan Apostolik Evangelii
Gaudium (Sukacita Injil). Paus Fransiskus mengatakan, Gereja yang bergerak
keluar adalah Gereja yang pintu-pintunya terbuka. Bergerak keluar menjumpai
sesama pada pinggir kemanusiaan tidak berarti bergegas tanpa arah dan tujuan
ke dunia… Kadang-kadang kita harus seperti bapak dari anak yang hilang itu,
yang selalu membuka pintunya sehingga ketika si anak hilang kembali, ia dapat
dengan mudah memasukinya (EG, No. 46).
Selain itu, Paus Fransiskus juga mengingatkan Gereja akan panggilannya,
katanya, Gereja dipanggil untuk menjadi rumah Bapa, dengan pintu-pintu yang
selalu terbuka lebar. Satu tanda nyata dari keterbukaan seperti itu adalah
bahwa pintu-pintu gereja kita hendaknya selalu terbuka, sehingga jika
seseorang, digerakkan oleh Roh, datang ke sana mencari Allah, ia tidak akan
mendapati sebuah pintu yang tertutup… Gereja bukanlah pabean, melainkan
rumah Bapa, di mana ada tempat untuk setiap orang dengan segala
permasalahan hidup mereka (EG, No. 47). Jadi, selain pintu gereja harus selalu
terbuka sehingga orang yang mencari Allah bisa datang dan mengalami
kehadiran-Nya, Gereja juga mesti bersikap terbuka, keluar dari dirinya untuk
menjangkau setiap orang dan memberi mereka makan.
Mari kita menghidupi semangat Yesus yang pelayanan-Nya terbuka kepada
semua orang tanpa pandang bulu. Semua yang lapar diberi-Nya makan. Kita
menjadi perpanjangan tangan Yesus, seperti dilakukan oleh kedua belas rasul
Nya, untuk memberi makan kepada mereka yang lapar dengan roti atau
makanan yang ada pada kita, yang adalah berkat yang telah kita terima dari
Tuhan. Sang bijak berkata, Orang yang baik hati akan diberkati, karena ia
membagi rezekinya dengan si miskin (Ams 22:9). Selamat menjadi orang yang
baik hati seperti pemberi tujuh roti.
Doa: Tuhan Yesus, terima kasih atas belas kasihan-Mu yang peduli akan
hidupku. Ajarilah aku untuk memiliki hati yang peka, berbagi apa yang kumiliki
dengan tulus, dan senantiasa bersandar pada pemeliharaan-Mu. Amin..
Sahabatku yang terkasih. Selamat Hari Jumat. Salam doa dan berkatku
untukmu dan keluarga di mana saja berada: Dalam nama Bapa dan Putera dan
Roh Kudus...Amin. (Sumber the katolik.com/kgg).