TRIBUNBANYUMAS.COM, PURWOKERTO- Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Banyumas menjelaskan kondisi lingkungan di sekitar eks proyek Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Baturaden yang gagal di Lereng Gunung Slamet.
Pengembang proyek tersebut PT Sejahtera Alam Energy (SAE).
Kepala Bidang Pembinaan Pengawasan dan Pengendalian Lingkungan Hidup (P3LH) DLH Banyumas, Ichya mahluqie mengatakan, saat proses PLTP tersebut berhenti sebenarnya masih dalam tahap eksplorasi.
Karena untuk pertambangan, tahapan izinnya pertama eksplorasi kemudian baru eksploitasi.
"Dan itu belum berlanjut. Terakhir di tahun 2019, sampai saat ini tidak ada aktivitas lagi," kata Ichya kepada tribunbanyumas.com, Jumat (6/2/2026).
Ichya mengatakan, dia tidak mengetahui terkait adanya isu proyek gagal tersebut diambil alih oleh perusahaan negara
Menurutnya itu pun bukan ranah DLH Kabupaten Banyumas.
"Memang kita sempat mendengar ada isu mau dilanjutkan, tapi benar atau tidaknya, kita belum melakukan pengecekan," ungkapnya.
Kondisi Saat Ini
Ichya menjelaskan, sepengetahuannya di wilayah eks proyek PLTP sudah dilakukan pemulihan lingkungan atau reklamasi dengan penanaman pohon.
Tetapi DLH Banyumas belum mendapatkan laporan, seperti jumlah pohon yang ditanam dan efektif atau tidak.
Dia menilai, meski kewenangan izin pengawasan lingkungan ada di pemerintah provinsi, semestinya pemerintah kabupaten tetap mendapatkan laporan.
"Sampai saat ini laporan resmi belum ada. Sehingga kami belum bisa menyampaikan bahwa itu belum dilakukan reklamasi.
Tapi di sisi lain, kita belum bisa menyampaikan itu sudah direklamasi," jelasnya.
Menurut Ichya, pihaknya pernah melakukan cek lapangan di lokasi eks proyek PLTP.
Kondisinya memang tidak seperti di awal, sudah ada tanaman-tanaman.
"Tapi itu perlu dikaji apakah sudah cukup efektif dan tumbuh dengan baik. Itu memang belum ada kajian," katanya.
Terkait banjir bandang, menurut Ichya, potensi itu tetap ada karena adanya bukaan lahan di wilayah hutan lindung, terutama di daerah Desa Pandansari.
Tetapi kemungkinan sumbernya dari eks proyek PLTP, dia mengetahui.
"Kita tidak tahu, mudah-mudahan tidak terjadi," ungkapnya.
Dugaan Warga
Sebelumnya, sempat viral di media sosial aliran air di Curug Cipendok di Desa Karangtengah, Kecamatan Cilongok, Kabupaten Banyumas, mengalir deras dan keruh berwarna coklat.
Kejadian itu berlangsung bersamaan dengan banjir bandang di beberapa daerah yang di bawah Gunung Slamet.
Warga menduga keruhnya aliran Curug Cipendok karena dampak di bekas proyek PLTP di lereng Gunung Slamet.
Sekretaris Desa Karangtengah, Agus Sulistyono mengatakan, kejadian aliran Curug Cipendok mengalir deras dan berwarna keruh itu minggu lalu, bersamaan banjir bandang di beberapa daerah lain.
Tetapi di wilayahnya debit air tidak menambah hingga menyebabkan banjir bandang, hanya membuat air keruh.
"Persis kaya di video. Dari hulunya seperti itu, sumbernya ke atas dari Gunung Slamet," katanya.
Saat ditanya kemungkinan keruhnya air akibat proyek PLTP yang gagal, Agus mengungkapkan, tidak tahu persisnya.
Karena menurutnya, untuk mencapai lokasi proyek PT Sejahtera Alam Energy (SAE) yang gagal itu harus melelui akses jalan Kaligua, Kabupaten Brebes.
"Belum ada penjelasan resmi. Belum tahu sumbernya dari mana," ungkapnya.