BANJARMASINPOST.CO.ID - Sosok Youtuber Taqy Malik kembali jadi sorotan publik.
Bukan lagi soal sengketa lahan, kali ini Ia disorot imbas program wakaf Al-Qur'an yang dijalankannya.
Program tersebut menuai sorotan publik setelah mantan sahabat Taqy, Randy Permana buka suara di media sosial.
Randy mengaku tahu betul bagaimana Taqy menjalankan program tersebut.
Tak selalu mulus, Ia membeberkan dinamika yang terjadi di lapangan seiring program tersebut dilakukan.
Aktivitas tersebut ujar Randy sempat memancing perhatian aparat di Arab Saudi.
"Jadi saya kenal Taqy Malik memang sudah lama, dan saya sendiri memang pekerjaan saya di Saudi, ya di Mekah dan Madinah, karena saya sehari-hari memang melayani tamu-tamu jemaah umrah seperti itu," ujar Randy, dikutip dalam YouTube Reyben Entertainment, Sabtu (14/2/2026).
Ia menjelaskan, program wakaf tersebut mulai berjalan pada 2023, ketika Taqy mulai membuka donasi wakaf Al-Qur’an yang dibeli langsung dari percetakan resmi di Madinah.
"Nah, singkat cerita, di tahun pertama kalau enggak salah, waktu itu 2023, A Taqy mulai membuka wakaf Quran, yang di mana saat itu ketika kita berwakaf Quran, kita itu masih bisa satu orang membeli dua tiga karton di pabrik percetakannya di Madinah, yang harga memang harga pabrik itu sekitar 25 riyal di sana," terangnya.
Menurut Randy, saat itu jumlah mushaf yang dibeli mencapai ribuan eksemplar.
Namun, pembelian dalam jumlah besar itu kemudian memicu perhatian pihak otoritas.
"Nah, ketika Taqy membuka itu, masuklah kurang lebih ada yang menitipkan amanah wakaf itu hampir sekitar 3.000 mushaf saat itu, 3.000 Quran. Belilah dia di sana."
"Dan singkat cerita, ketika dia beli banyak sekali di sana, selang beberapa minggu, kita sudah tidak bisa lagi membeli banyak di pabrik percetakan itu. Karena dari pihak otoritas keamanan masjid atau apa melihat atau menilai bahwa mushaf ini diperjualbelikan oleh jemaah secara online, dan itu secara aturan dilarang," paparnya.
Baca juga: Perlakuan Irwan Mussry pada Mulan Jameela dan Ahmad Dhani Disorot, Suami Maia Estianty Tuai Pujian
Randy menjelaskan bahwa mushaf wakaf di Masjidil Haram maupun Masjid Nabawi umumnya berasal dari percetakan resmi pemerintah Arab Saudi.
"Saudi memperbolehkan. Memang banyak toko-toko di area masjid, terus di sekitar Makkah atau Madinah itu menjual mushaf yang memang diperuntukkan untuk wakaf. Karena di dalam masjid itu mushaf yang diperuntukkan untuk wakaf itu hanya diperbolehkan keluaran dari pabrik tersebut yang ada di Madinah, namanya percetakan Malik Fahad," jelas Randy.
Setelah adanya pembatasan, pembelian mushaf dalam jumlah besar menjadi sulit dilakukan, terutama bagi jemaah yang datang menggunakan visa umrah.
"Nah, kemudian akhirnya dari situ kita sudah tidak bisa membeli ketika saya mendapat titipan dari jemaah. Misal saya membawa jemaah satu bis, biasanya titip untuk wakaf. Saya membeli itu untuk 200–300 itu enggak bisa, sudah dibatasi. Karena ada indikasi bahwa banyak jemaah, khususnya yang mereka datang untuk umrah, dalam arti mereka datang menggunakan visa umrah, bukan visa kerja, menjual Quran ini sebagai bisnis. Akhirnya itu yang dibatasi, yang pertama," tuturnya.
Meski demikian, Randy mengaku telah mengingatkan Taqy agar lebih berhati-hati dalam menjalankan program tersebut.
"Nah, singkat cerita, tahun kedua dia melakukan itu lagi. Saya sudah bilangin, 'Bro, hati-hati ya. Jangan terang-terangan. Jangan. Saya sendiri juga melakukan untuk menyalurkan wakaf, tapi saya memang dari jemaah yang saya bawa, dan itu jemaah kadang saya ajak belanja juga di tempatnya.'"," katanya.
Ia bahkan menyarankan agar distribusi mushaf dilakukan secara bertahap untuk menghindari kecurigaan otoritas.
"Nah, karena tahun kedua saya sudah bilangin, 'Bro, kalau kamu mewakafkan mushaf, menyalurkan mushaf, dicicil saja 50, 100 antar ke masjid. Jangan langsung ribuan seperti itu. Polisi melihat itu yang kena teman-teman yang ada di Makkah Madinah yang stay."
"Mereka yang kerja di sini, mereka yang kerjanya benar menyalurkan dari jemaah dipikir mereka jualan.' Dan sudah beberapa kali kasus teman-teman saya itu ketangkap sama polisi, dipenjara 3 hari, 4 hari, perkara niatnya hanya mewakafkan mushaf," ujarnya.
Tak hanya program wakaf mushaf, Randy juga menyinggung program sedekah makanan yang disebut-sebut memiliki selisih harga cukup signifikan.
"Sampai di tahun lalu itu di Madinah itu Taqy memang lagi sama saya. Saya sudah bilangin lagi. Dia buka sedekah makanan juga, yang di mana rata-rata harga sedekah makanan di sana itu kurang lebih sekitar 10 riyal, mungkin ada dari 8 riyal, 10 riyal, sampai 15 riyal. Itu kurang lebih kalau dikurs ke rupiah mungkin dalam Rp50.000-an, tapi dia membuka itu dengan harga Rp100.000 per boks. Akhirnya itu ramai lagi," bebernya.
Situasi tersebut bahkan sempat menarik perhatian aparat setempat.
"Dicarilah dia oleh polisi di sekitar. Sampai yang awalnya dia stay di hotel, dia kabur. Dia cari apartemen yang jauh dari masjid saat itu. Tahun itu dia tahu sendiri, dan itu posisi memang lagi sama saya," ucapnya.
Menurut Randy, program serupa kembali dilakukan oleh Taqy menjelang Ramadan tahun ini.
Namun, upaya komunikasinya kepada Taqy tidak mendapat respons.
"Nah, tahun ini dia membuka lagi. Ramadan masih 2–3 minggu lagi, tapi dia sudah membuka peluang itu lagi. Saya bilangin baik-baik, saya DM, 'Afan, bro, begini, bla bla bla bla bla.'"
"Singkat cerita, saya enggak digubris, dan saya lihat dia menyindir saya di story, dan saya di-unfollow. "
"Nah, itulah yang membuat, ah ini memang enggak bisa. Saya di Tanah Suci menjaga teman-teman agar kerja semua nyaman. Dia yang enggak tinggal di sini, tapi memanfaatkan peluang yang akhirnya merugikan saya dan teman-teman. Itulah alasannya kenapa saya mengangkat isu ini," pungkasnya.
Sebelumnya, Taqy Malik juga menjadi sorotan akibat kasus sengketa lahan di kawasan Bogor, Jawa Barat.
Taqy disebut gagal melunasi 8 lahan kavling yang sebelumnya disepakati untuk dibeli secara mencicil.
Kini kisruh lahan antara Taqy dan pemilik lahan, Sirhan sudah berakhir damai pada Sabtu (11/10/2025).
Selebgram dengan nama lengkap Ahmad Taqiyyudin Malik ini akhirnya telah menyerahkan 7 kavling tanah dari 8 kavling yang jadi persoalan.
Masjid yang sempat didirikan di lokasi tersebut pun akhirnya bakal dibongkar, sedangkan rumah yang dihuni Taqy tetap dibiarkan berdiri.
Keputusan suami Sherel Thalib memilih rumahnya daripada masjid, bukan tanpa alasan.
Setelah kasus sengketa selesai, pria 28 tahun ini mengaku bakal menjual rumah yang ditempatinya itu.
Untuk itu, nanti hasil penjualan rumah akan kembali dibagunkan Masjid Malikal Mulki di tempat lain.
"Jadi saya pilih rumah. Karena rumah masih ada nilainya jadi bisa kita jual," terang Taqy, dikutip dari Instagramnya, @taqy_malik, Senin (13/10/2025).
"Kita akan bikin di tempat yang baru," lanjutnya.
Selain itu, Taqy juga memiliki rencana lain. Ia mengaku bakal menyerahkan uang hasil penjualan rumah untuk masjid atau pondok yang membutuhkan.
Menurut mantan suami Salmafina Sunan ini, niat tersebut agar pahala amal para umat yang berdonasi tidak hilang.
"Atau kita akan bantu pondok atau mesjid yang membutuhkan,"
"Sehingga peruntukannya jelas, amal baik teman-teman tidak hilang," tandasnya.
Dalam video, Pria yang mengaku sebagai CEO Taqychan Group ini turut memikirkan dampak lain jika mempertahankan masjid tersebut.
Termasuk tetangga yang akan terganggu dengan aktivitas di Masjid Malikal Mulki yang sering mengadakan acara outdoor.
Apalagi saat jemaahnya membludak, tentu akan membuat tetangga masjid resah.
"Sehingga kalau saya memilih masjid itu banyak pertimbangan, kegiatan Malikal Mulki selalu banyaknya di outdoor, jamaah membludak, takutnya malah mengganggu tetangga sampingnya, jaraknya terlalu dekat, saya nggak mau" tutupnya.
(Banjarmasinpost.co.id/Tribunnews.com)