TRIBUNMANADO.CO.ID - Pusat Penyelamatan Satwa (PPS) Tasikoki di Desa Watudambo, Kecamatan Kauditan, Minahasa Utara (Minut), Sulawesi Utara (Sulut) menawarkan pengalaman wisata berbeda di Sulawesi Utara.
PPS Tasikoki merupakan lembaga konservasi yang berfokus pada penyelamatan, rehabilitasi, dan pelepasliaran satwa liar, terutama satwa endemik Sulawesi.
PPS Tasikoki berada di Desa Watudambo, Kauditan, Minut.
Jarak Kota Bitung dengan dan PPS Tasikoki 15,7 km yang bisa ditempuh dengan 29 menit dengan menggunakan kendaraan bermotor lewat Jl. Likupang - Bitung dan Girian - Kema.
Sementara jarak PPS Tasikoki ke Kota Manado Ibu Kota Provinsi Sulut adalah 40-41 kilometer.
Waktu Tempuh dari pusat kota Manado ke Tasikoki sekitar 50 menit hingga 1 jam 15 menit dengan kendaraan bermotor, tergantung kondisi lalu lintas dan rute yang diambil biasanya melalui Jl. Tol Manado - Bitung.
Kembali satwa, data terbaru mencatat, 274 ekor satwa liar sedang direhabilitasi di Tasikoki.
Di Tasikoki, Senin 9 Februari 2026 siang, wartawan Tribunmanado.co.id, Indri Panigoro, bukan hanya melihat satwa, ia da juga pengunjung lainnya diajak memahami langsung proses penyelamatan dan rehabilitasi hewan liar korban perdagangan ilegal.
Kawasan seluas 55 hektar ini menjadi satu-satunya pusat penyelamatan satwa di Pulau Sulawesi yang aktif menangani satwa liar.
Andrew Leonardo Donsu (29), staf sekaligus pemandu di Tasikoki, menyebut konsep wisata di sini lebih menekankan edukasi dan kesadaran konservasi.
“Pengunjung datang bukan hanya untuk melihat satwa, tetapi juga belajar tentang pentingnya menjaga mereka tetap di habitat aslinya,” ujar Andrew, lulusan Fakultas Pertanian Program Studi Ilmu Kehutanan Universitas Sam Ratulangi yang bergabung di Tasikoki sejak 2024.
Tasikoki menampung berbagai satwa hasil sitaan, mulai dari burung, primata, hingga mamalia seperti beruang madu.
Banyak satwa tiba dalam kondisi stres, luka, bahkan tidak mengenali pakan alaminya akibat perlakuan tidak layak selama diperdagangkan.
Di area kunjungan yang telah ditentukan, wisatawan dapat melihat langsung beberapa satwa yang sedang menjalani rehabilitasi.
Selain satwa dari luar Sulawesi seperti orangutan dan kasuari, pengunjung juga dapat menyaksikan satwa endemik seperti monyet hitam Sulawesi dan babirusa.
Andrew menjelaskan, setiap kunjungan biasanya diawali di Education Centre, tempat rombongan pelajar maupun wisatawan umum mendapatkan pemaparan tentang konservasi, perdagangan satwa liar, dan peran masyarakat dalam menjaga ekosistem.
“Biasanya sekolah-sekolah dari SD sampai universitas datang untuk belajar. Kami juga sering melakukan sosialisasi ke luar,” katanya.
Karena merupakan pusat rehabilitasi, kunjungan ke Tasikoki harus melalui permohonan terlebih dahulu.
Interaksi langsung dengan satwa sangat dibatasi demi keamanan dan kesejahteraan hewan.
Setiap satwa yang baru tiba wajib menjalani karantina dan pemeriksaan kesehatan.
Staf menggunakan alat pelindung diri seperti masker, sarung tangan, dan sepatu khusus saat melakukan perawatan.
Menurut Andrew, wisata edukasi seperti ini penting karena Sulawesi masih menjadi jalur perdagangan satwa liar. “Kesadaran harus dibangun bersama. Kalau masyarakat paham dampaknya, angka perburuan dan perdagangan bisa ditekan,” ujarnya.
Dari Manado, lokasi Tasikoki dapat ditempuh sekitar satu jam perjalanan darat ke arah Kema.
Pengunjung disarankan menggunakan kendaraan pribadi atau sewaan karena tidak tersedia angkutan umum langsung menuju lokasi.
Ratusan satwa liar korban perdagangan dan perburuan ilegal kini menjalani perawatan intensif di Pusat Penyelamatan Satwa (PPS) Tasikoki, Kabupaten Minahasa Utara (Minut), Sulawesi Utara.
Jumlah tersebut terdiri dari:
Angka ini menunjukkan masih tingginya praktik perdagangan dan kepemilikan satwa liar di wilayah Sulawesi dan Indonesia Timur.
Satwa yang masuk ke Tasikoki umumnya merupakan hasil sitaan aparat penegak hukum, penyerahan sukarela masyarakat, hingga korban penyelundupan lintas daerah maupun lintas negara.
Setiap satwa yang tiba tidak langsung ditempatkan di kandang rehabilitasi.
Mereka harus melalui proses karantina dan pemeriksaan medis menyeluruh, guna memastikan bebas penyakit dan layak menjalani rehabilitasi perilaku liar.
Luas kawasan PPS Tasikoki mencapai 55 hektar.
Sekitar 10 hektar di antaranya dimanfaatkan untuk kandang karantina, kandang rehabilitasi, klinik, dapur pakan, serta fasilitas pendukung lainnya.
Area pelepasliaran dilakukan di kawasan hutan yang telah ditentukan bekerja sama dengan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA).
Terkait kapasitas ideal, Andrew Leonardo Donsu (29), penjaga sekaligus guide di PPS Tasikoki, menyebut jumlah penampungan sangat bergantung pada jenis satwa dan kebutuhan spesifiknya.
Evaluasi rutin dilakukan untuk mencegah kepadatan yang bisa berdampak pada kesejahteraan satwa.
Lonjakan satwa sitaan pernah terjadi, terutama saat operasi penegakan hukum besar-besaran.
Dalam kondisi tersebut, Tasikoki menyiapkan kandang sementara dan menerapkan protokol darurat.
"Sebagian besar satwa yang masuk berasal dari wilayah Sulawesi Utara dan Indonesia Timur," kata Andrew kepada wartawan Tribunmanado.co.id, Indri Panigoro via WhatsApp, Jumat 13 Februari 2026 malam.
Kasus paling umum meliputi:
Sulawesi Utara disebut menjadi titik transit terakhir sebelum satwa diselundupkan ke Filipina maupun wilayah Jawa.
"Jadi polanya Sulawesi Utara hanya titik point transit terakhir sebelum Satwanya akan di selundupkan ke Filipin adapun juga untuk ke daerah Jawa," jelas Andrew.
Dalam beberapa tahun terakhir, tren perdagangan digital meningkat, meski penindakan aparat juga semakin aktif.
"Secara umum, tren perdagangan masih menjadi ancaman serius. Peningkatan terdeteksi terutama pada platform digital, meskipun penindakan juga semakin aktif dilakukan aparat," terang Andrew.
Sebagian besar satwa yang tiba di Tasikoki dalam kondisi memprihatinkan, mulai dari:
Lebih lanjut kata lulusan Fakultas Pertanian Program Studi Ilmu Kehutanan Universitas Sam Ratulangi, lulus tahun 2022 itu, tantangan terbesar adalah mengembalikan perilaku liar (wild behavior), memastikan satwa bebas penyakit, dan menjamin habitat pelepasliaran aman dari ancaman perburuan.
"Tidak semua satwa bisa dilepasliarkan. Satwa dengan cacat permanen atau terlalu lama bergantung pada manusia akan dirawat jangka panjang sebagai satwa edukasi," kata Andrew Leonardo Donsu.
Dalam kurun waktu 3-5 tahun terakhir, puluhan satwa endemik Sulawesi berhasil dilepasliarkan, termasuk primata, burung, dan reptil.
Monitoring pasca-lepasliar dilakukan melalui observasi lapangan bersama mitra konservasi.
Sebagian besar satwa mampu beradaptasi dengan baik, meski ancaman deforestasi dan perburuan tetap menjadi tantangan jangka panjang.
Beberapa spesies yang populasinya kini mengkhawatirkan antara lain yaki (Macaca nigra) dan sejumlah burung paruh bengkok.
Saat ini PPS Tasikoki didukung oleh 2 dokter hewan 9 keeper 2 staf administrasi dan relawan yang jumlahnya tidak menentu.
Pendanaan berasal dari donasi individu, dukungan lembaga mitra, program CSR perusahaan, serta kerja sama konservasi.
Andrew Leonardo Donsu juga membeber jika biaya terbesar operasional Tasikoki adalah pakan dan perawatan medis.
Pemeriksaan laboratorium dinilai cukup mahal, sementara fasilitas pengujian sampel di Sulawesi Utara masih terbatas.
Meski koordinasi regulatif dilakukan bersama pemerintah melalui BKSDA, operasional harian sebagian besar bergantung pada dukungan donatur dan mitra.
Tasikoki menerapkan karantina ketat, pemeriksaan kesehatan rutin, penggunaan alat pelindung diri oleh staf, serta pembatasan interaksi langsung antara manusia dan satwa.
Kunjungan masyarakat dibatasi dan harus mengajukan permohonan minimal 72 jam sebelumnya.
Kebijakan ini bertujuan menjaga keamanan satwa, mencegah stres, dan memastikan biosekuriti.
Selain rehabilitasi, PPS Tasikoki aktif menggelar kunjungan edukatif terjadwal, penyuluhan ke sekolah, kampanye digital, program konservasi berbasis komunitas.
"Masyarakat berperan penting melalui pelaporan perdagangan ilegal, penyerahan satwa secara sukarela, serta partisipasi dalam kampanye lingkungan. Pendekatan kolaboratif bersama aparat desa dan tokoh masyarakat juga dilakukan untuk mencegah perburuan liar," jelas Andrew.
(Tribunmanado.co.id/Indri Panigoro)