Aktivitas vulkanik Gunung Semeru kembali meningkat. Gunung tertinggi di Pulau Jawa itu meluncurkan awan panas guguran hingga sejauh enam kilometer dari puncak kawah, Sabtu (14/2/2026) pagi.
Erupsi terjadi beruntun dengan kolom abu membumbung tinggi dan sebaran material vulkanik yang meluas ke sejumlah sektor aliran sungai berhulu di Semeru.
Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Lumajang Isnugroho menjelaskan, awan panas pertama terekam pada pukul 05.54 WIB berdasarkan laporan Pos Pengamatan Gunung Api (PPGA) Semeru.
Seismograf mencatat amplitudo maksimum 25 milimeter saat awan panas meluncur, dengan durasi getaran selama 39 menit 48 detik sebelum berhenti pada pukul 06.42 WIB.
“Awan panas terjadi dua kali pagi tadi dengan jarak luncur 6.000 meter dan 4.500 meter,” ujar Isnugroho saat dihubungi, Sabtu.
Selain luncuran awan panas, erupsi juga memuntahkan kolom abu tebal setinggi sekitar 2.000 meter di atas puncak kawah.
Pada erupsi berikutnya pukul 07.25 WIB, kolom abu teramati setinggi ±1.500 meter di atas puncak atau mencapai elevasi ±5.176 meter di atas permukaan laut.
Abu berwarna kelabu dengan intensitas tebal dilaporkan mengarah ke utara dan timur laut.
Data seismograf mencatat amplitudo maksimum 20 milimeter dengan durasi erupsi 4 menit 35 detik.
Aktivitas ini turut disertai fenomena Awan Panas Guguran (APG) yang meluncur sejauh 4,5 kilometer menuju sektor tenggara atau ke arah Besuk Kobokan.
Menurut Isnugroho, jarak luncur terjauh enam kilometer masih berada dalam radius aman dan jauh dari permukiman warga.
Meski demikian, masyarakat diminta tetap tenang namun meningkatkan kewaspadaan.
“Harapannya tidak terjadi hujan deras yang bisa memicu banjir lahar,” katanya.
Status Semeru hingga kini masih berada pada Level III atau Siaga.
Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) mengeluarkan sejumlah rekomendasi untuk meminimalkan risiko bencana.
Warga dilarang melakukan aktivitas di sektor tenggara sepanjang Besuk Kobokan hingga jarak 13 kilometer dari puncak.
Di luar radius tersebut, masyarakat juga tidak diperkenankan beraktivitas dalam jarak 500 meter dari tepi sungai di sepanjang Besuk Kobokan karena potensi perluasan awan panas dan aliran lahar dapat menjangkau hingga 17 kilometer dari puncak.
Selain Besuk Kobokan, potensi bahaya juga mengintai aliran sungai lain yang berhulu di Semeru, seperti Besuk Bang, Besuk Kembar, dan Besuk Sat, termasuk anak-anak sungainya.
Sebaran abu vulkanik yang mengarah ke utara dan timur laut memperlihatkan adanya peningkatan intensitas aktivitas vulkanik.
Masyarakat di sekitar lereng dan aliran sungai hulu diminta mewaspadai potensi hujan abu, guguran lava, serta aliran lahar yang dapat terjadi sewaktu-waktu, terutama jika turun hujan dengan intensitas tinggi.
Pemerintah daerah menegaskan koordinasi terus dilakukan dengan aparat desa dan relawan kebencanaan untuk memastikan kesiapsiagaan warga.
Informasi resmi diminta hanya bersumber dari Pos Pengamatan Gunung Api Semeru dan otoritas terkait guna menghindari kepanikan akibat kabar yang tidak terverifikasi.
Hingga laporan ini diturunkan, tidak ada laporan korban jiwa maupun kerusakan permukiman akibat erupsi tersebut.
Namun, peningkatan aktivitas vulkanik Gunung Semeru kembali menjadi pengingat bahwa ancaman bencana di kawasan cincin api Indonesia selalu mengintai dan membutuhkan kewaspadaan kolektif.