Banda Aceh (ANTARA) - Mahasiswa Universitas Ubudiyah Indonesia (UUI) Aceh melatih masyarakat penyintas bencana banjir di Desa Manyang Cut, Kecamatan Meureudu, Kabupaten Pidie Jaya, Aceh cara membuat antinyamuk alami dari bunga kecombrang (boh kala).
“Kalau masyarakat tidak diajarkan mengolah bahan yang ada di desa menjadi antinyamuk alami, tentu ini bisa menjadi masalah bagi kesehatan,” kata Ketua Tim Dosen UUI, Chairanisa Anwar, di Pidie Jaya, Sabtu.
Kegiatan tersebut merupakan bagian dari Program Mahasiswa Berdampak 2026 yang didanai oleh Kementerian Riset, Sains, dan Teknologi Republik Indonesia (Kemendiktisaintek).
Program yang melibatkan 50 mahasiswa ini berlangsung sejak 2 Februari hingga 21 Februari 2026, dengan fokus pada upaya mitigasi risiko penyakit pascabanjir melalui inovasi berbasis kearifan lokal.
Para mahasiswa yang terlibat dalam kegiatan ini berasal dari empat program studi di bawah Fakultas Ilmu Kesehatan, yakni S1 Farmasi, S1 Kesehatan Masyarakat, S1 Kebidanan, dan S1 Ilmu Gizi.
Selama 20 hari, mereka melakukan pendampingan, memberikan bahan dan peralatan produksi, serta melatih masyarakat agar mampu memproduksi secara mandiri.
Karena itu, mereka menghadirkan solusi nyata atas persoalan yang dihadapi masyarakat, khususnya di wilayah terdampak bencana. Di lapangan, mahasiswa ini didampingi langsung oleh tiga dosen, yakni Chairanisa Anwar, Siti Samaniyah dan Nuzulul Rahmi.
Dalam kegiatan edukasi yang bertajuk “Boh Kala untuk Aceh Tangguh: Inovasi Anti-Nyamuk Alami Berbasis Kearifan Lokal dalam Mitigasi Risiko Penyakit Pasca Banjir”, itu, para mahasiswa menghadirkan pelatihan pembuatan antinyamuk dari boh kala.

Inovasi ini menjadi langkah preventif untuk menekan risiko penyebaran penyakit seperti malaria, chikungunya, dan demam berdarah dengue (DBD) yang kerap meningkat setelah banjir.
Chairanisa mengatakan, kondisi daerah bencana banyak menimbulkan genangan air, tumpukan barang, dan saluran air yang tersumbat, sehingga menjadi sumber munculnya jentik nyamuk. Jika tidak diantisipasi bisa memicu peningkatan penyakit berbasis vektor.
"Dengan keterbatasan warga terdampak, maka salah satu solusinya adalah memperkenalkan obat antinyamuk berbahan alami. Apalagi, Boh kala relatif masih mudah didapatkan di lingkungan sekitar," ujarnya.
la menjelaskan, pelatihan ini menyasar dua kelompok masyarakat, yakni kelompok tani dan peternak. Pemilihan mereka atas pertimbangan dampak banjir yang cukup besar pada sektor pertanian dan peternakan.
Di mana, banyak sawah yang gagal panen dan hewan ternak mati akibat banjir bandang. Maka, melalui inovasi ini, kedua kelompok tersebut diharapkan memiliki alternatif produk yang dapat dikembangkan sebagai usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
“Kami memberikan pelatihan kepada kelompok tani dan kelompok ternak. Harapannya, ini bisa menjadi produk UMKM unggulan desa ke depan,” katanya.
Chairanisa menyampaikan, produk antinyamuk berbahan kecombrang ini bebas bahan kimia repellent, sehingga lebih aman, minim iritasi, dan dapat digunakan oleh berbagai kelompok usia.
"Setelah ini, kampus juga membuka peluang pendampingan lanjutan apabila masyarakat membutuhkan," ujar Chairanisa.
Sementara itu, salah seorang warga Desa Manyang Cut, Asnidar mengaku senang dengan kehadiran program tersebut di desanya. Mengingat, nyamuk semakin banyak dan cukup meresahkan masyarakat di sana pascabencana banjir.
“Memang setelah banjir nyamuk semakin banyak. Jadi produk ini cukup membantu masyarakat di sini,” kata Asnidar.
Dirinya menambahkan, untuk bahan baku bunga kecombrang tersebut, sangat mudah dicari atau banyak tersedia di desanya, sehingga inovasi ini berpotensi untuk dapat dikembangkan lebih lanjut nantinya.
“Kalau bisa nanti dipromosikan lagi, mungkin bisa dijual. Bahannya juga ada di desa kami,” demikian Asnidar.







