TRIBUNKALTARA.COM, MALINAU- Kualitas sumber daya manusia (SDM) di Kabupaten Malinau Kalimantan Utara menunjukkan tren positif berdasarkan catatan terbaru Badan Pusat Statistik (BPS) Malinau.
Berdasarkan data BPS Malinau Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Bumi Intimung kini berada di angka 75,21 untuk tahun 2025.
Capaian ini mengukuhkan posisi Kabupaten Malinau sebagai daerah dengan kualitas manusia tertinggi kedua di Kalimantan Utara setelah Tarakan.
Peningkatan signifikan ini didorong oleh angka Harapan Lama Sekolah (HLS) yang kini menyentuh 13,58 tahun.
Baca juga: IPM Kabupaten Tana Tidung Kaltara 2024 Naik Jadi 71,43, BPS Sebut Kualitas Hidup Warga Meningkat
Kepala BPS Malinau, Yanuar Dwi Cristyawan mengatakan, secara teknis angka tersebut menggambarkan proyeksi pendidikan anak-anak di Kabupaten Malinau saat ini.
"Artinya anak-anak yang mulai sekolah tahun ini diproyeksikan tidak lagi berhenti di SMA, tapi berpeluang besar lanjut ke jenjang Diploma atau kuliah," ujarnya saat dikonfirmasi TribunKaltara.com.
Kondisi ini menunjukkan adanya ekspektasi pendidikan yang jauh lebih tinggi dibandingkan generasi sebelumnya.
Sebab, rata-rata lama sekolah penduduk dewasa usia 25 tahun ke atas di Malinau saat ini masih berada di angka 9,64 tahun.
"Kalau penduduk dewasa kita rata-rata setara kelas 1 SMA, sementara generasi baru targetnya sudah ke perguruan tinggi," kata Yanuar.
Baca juga: Dari 71,56 ke 74,53, IPM Bulungan Catat Kemajuan Sejak 5 Tahun Terakhir
Terdapat selisih hampir empat tahun dalam durasi sekolah, yang menandakan lonjakan standar pendidikan di tengah masyarakat..
Selain faktor kesadaran pendidikan, penguatan kapasitas ekonomi warga turut menjadi motor penggerak tren positif ini.
Data BPS Malinau menunjukkan pengeluaran riil per kapita masyarakat naik menjadi Rp11,44 juta per tahun dari sebelumnya Rp11,19 juta.
Kenaikan daya beli ini dinilai menjadi pondasi penting bagi orang tua di Malinau untuk membiayai masa studi anak yang lebih panjang.
Meskipun mayoritas penduduk dewasa saat ini berada di level pendidikan menengah, jalur menuju pendidikan tinggi kini terbuka lebar bagi generasi penerus.
(*)
Penulis : Mohammad Supri