Kulineran di Bandung, Cicipi Sate Sineureut Hadori yang Legendaris, Terbatas Hanya 50 Tusuk Perhari
Seli Andina Miranti February 14, 2026 07:25 PM

Laporan Wartawan TribunJabar.id, Nazmi Abdurrahman

TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Aroma asap tipis dari bara arang, menyambut setiap pengunjung yang melangkah masuk ke resto Sate Hadori, di Jalan Natuna, Kota Bandung, Sabtu (13/2/2026).

Di balik kepulan wangi daging kambing yang dipanggang perlahan, deretan meja kayu tertata rapi di ruangan yang kini tampil lebih modern, menjadi wajah baru Sate Hadori, nama yang selama puluhan tahun melekat di ingatan pencinta sate kambing yang kini hadir dengan konsep berbeda. 

Bangunan Sate Hadori di Jalan Natuna itu memiliki dua lantai, memadukan sentuhan tradisional dan desain kontemporer. 

Baca juga: Rasa Juara Market Resmi Dibuka di Jakarta Barat, Hadirkan Pengalaman Kuliner Otentik Nusantara

Lantai satu, dijadikan area khusus dapur dengan konsep terbuka, memperlihatkan proses pembakaran sate secara langsung. Di lantai dua, deretan meja kayu memanjang menyambut para tamu, dengan pencahayaan hangat, memberi kesan hangat.

Pemilik Sate Hadori generasi ke tiga, Vitta Sukmawatie, mengatakan konsep ini bagian dari upaya menjangkau pasar yang lebih luas, dengan tagline “Legend Naik Kelas” dengan tetap menjaga warisan rasa.

BAKAR SATE - Agung Purnama, salah satu cucu atau generasi ketiga pemilik Sate Hadori bersama saudarinya, Vitta Sukmawatie (kedua kiri) saat mengiris daging kambing di Sate Hadori, Jalan Natuna, Kota Bandung, Sabtu (14/2/2026).
BAKAR SATE - Agung Purnama, salah satu cucu atau generasi ketiga pemilik Sate Hadori bersama saudarinya, Vitta Sukmawatie (kedua kiri) saat mengiris daging kambing di Sate Hadori, Jalan Natuna, Kota Bandung, Sabtu (14/2/2026). (Tribun Jabar/Nazmi Abdurrahman)

Menu andalannya tetap sama, yaitu sate sineureut. Potongan daging kambing bagian has dalam bagian bawah punggung yang dikenal paling empuk. 

Sate sineureut ini memiliki serat halus, lemaknya tipis, dan ketika matang, teksturnya lembut tanpa alot. Saat disajikan, dagingnya berkilau tipis oleh lelehan lemak alami, mengeluarkan aroma gurih yang tajam namun bersih.

Sate sineureut disajikan hangat dengan irisan bawang merah, cabai rawit segar dan siraman kecap manis, atau bisa juga dicocol ke bumbu kacang, khas sate pada umumnya. Sate sineureut sudah ada sejak warung tersebut berdiri sekitar 1940. 

“Sineureut itu bagian has dalam, jadi dia bagian paling empuk,” ujar Vitta Sukmawatie, Sabtu (14/2/2026).

Waiting List

Sayangnya, tidak semua pelanggan dapat membeli sate sineureut karena dalam satu hari, hanya menyediakan 40-50 tusuk, dari satu ekor kambing.

Baca juga: Batagor Jadi Gorengan Terenak se-Asia Tenggara versi Taste Atlas 2026, Kuliner Indonesia Mendominasi

“Kalau mau harus waiting list dulu sehari atau dua hari sebelumnya,” katanya.

Sate Hadori mempertahankan metode pengolahan tradisional keluarga. Pengolahan dilakukan langsung di lokasi membuat daging tetap segar dan tidak berbau. Ita menyebut resep yang dipakai masih mengikuti racikan pendiri warung.

“Kami tetap mempertahankan resep dan bumbu yang digunakan kakek,” katanya.

Selain sate sineureut, Sate Hadori juga menjual sate kambing polos, campur lemak, ayam, sapi, hingga gulai kambing. Di cabang Jalan Natuna, mereka menambah menu baru seperti gulai kepala kambing dan nasi goreng kambing.

Cabang tersebut ditargetkan mampu menghabiskan sekitar 80 kilogram daging kambing setiap hari, dengan tetap menjaga kualitas daging dari bagian paha belakang yang dianggap paling empuk.

Sate sineureut sendiri tetap menjadi menu paling dicari pengunjung, meski jumlahnya terbatas setiap hari.

Baca juga: Kuliner Legendaris di Sukabumi, Sop H Mamad di Gang Sempit, Pembeli Antre Sejak Pukul 7 Pagi

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.