Bocah SD di Demak Akhiri Hidup, Sempat Posting WA Dimarahi Ibu
Kiki Novilia February 14, 2026 09:19 PM

Tribunlampung.co.id, Demak - Bocah berempuan berusia 12 tahun nekat mengakhiri hidupnya di kediamannya sendiri di Kabupaten Demak, Jawa Tengah pada Kamis (12/1/2026).

Dikutip dari Tribun Jateng, korban sempat mengunggah percakapan melalui pesan WhatsApp (WA) yang diduga berisi makian dari ibunya. Tangkapan layar percakapan itu diunggah korban beberapa hari sebelum peristiwa tragis terjadi.

Kasat Reskrim Polres Demak, Iptu Anggah Mardwi Pitriyono, membenarkan adanya unggahan bocah yang duduk di bangku sekolah dasar itu.

"Screenshot chat dari ibu ke korban lalu diunggah oleh korban di WhatsApp beberapa hari sebelum peristiwa terjadi," kata Anggah, Jumat (13/2/2026).

Dalam tangkapan layar itu, tampak sang ibu melontarkan kata makian keras. Unggahan itu kemudian tersebar luas di media sosial, termasuk dibagikan akun Instagram @infodemakraya.

Baca juga: DPR Usut Iuran Sekolah Rp1,2 Juta, Imbas Bocah SD Akhiri Hidup

Anggah menjelaskan, kondisi korban yang telah mengakhiri hidup pertama kali diketahui oleh ibu korban. Berdasarkan rekaman kamera pengawas, ibunya pulang ke rumah pada pukul 18.01 WIB.

"Berdasarkan rekaman CCTV, ibu korban naik mobil pulang ke rumah. Lalu masuk ke rumah pukul 18.01 WIB," jelas Anggah.

Ia kemudian keluar rumah dan berteriak meminta pertolongan.

"Jam 18.03 WIB, ibu korban keluar dan berteriak. Jadi ibu korban ini yang pertama mengetahui anaknya akhiri hidup," ujar Anggah.

Warga yang mendengar teriakan tersebut segera berdatangan.

Korban lalu dilarikan ke Rumah Sakit Wongsonegoro Semarang menggunakan mobil milik ibunya yang dikemudikan tetangga, sementara sang ibu menyusul dengan sepeda motor.

Hasil Pemeriksaan Forensik

Hasil visum dokter forensik menemukan tanda-tanda yang mengarah pada kematian akibat akhiri hidup.

"Ada luka akibat kekerasan tumpul berupa jejas atau lecet gantung pada leher.

Korban diduga meninggal dunia karena lemas. Berdasarkan hasil pemeriksaan forensik dan rekaman CCTV, kepolisian membantah dugaan bahwa korban dibunuh oleh ibunya.

"Dari hasil pemeriksaan dokter forensik tadi, kemudian kita lihat rekaman CCTV yang menunjukkan ibu korban masuk ke rumah jam 18.01 WIB dan keluar jam 18.03 WIB sambil histeris untuk meminta tolong ke tetangga sebelah."

"Dengan rentang waktu sekitar 1,5 - 2 menit, tidak memungkinkan indikasi ibu korban melakukan pembunuhan," kata Anggah.

Selain itu, aktivitas terakhir di HP korban yaitu pukul 16.25 WIB. Selama rentang waktu itu hingga ibu korban pulang, tidak terlihat ada orang lain yang masuk ke rumah.

Anggah mengakui bahwa sebelumnya sang ibu beberapa kali mengirim pesan bernada marah dan mengandung kata-kata kasar kepada korban. 

Namun, ia menegaskan bahwa penyebab pasti tindakan korban tidak dapat disimpulkan hanya dari percakapan tersebut.

"Memang sebelumnya ibunya itu sempat beberapa kali chat marah-marah dan ada kata-kata kasar.

Tetapi penyebab korban akhiri hidup tidak bisa kita simpulkan karena hal itu, karena masih banyak faktor-faktor lainnya yang harus dilakukan pendalaman," ujar Anggah.

"Namun dari kejadian ini, kami harap para orang tua bisa lebih bijak dalam berkomunikasi dengan anaknya.

Selain itu, selalu perhatikan dan awasi aktivitas media sosial anak-anaknya sehingga anak merasa bahwa ada orang tua yang selalu hadir dan mendengarkan dirinya," tutupnya.

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.