Jejak Kejayaan Audio Tape Bandung: Puluhan Kios Masih Setia di Cibeunying
Muhamad Syarif Abdussalam February 14, 2026 10:11 PM

Laporan Wartawan Tribun Jabar, Nappisah

TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Di Jalan Cibeunying, Kota Bandung, deretan kios sederhana berdiri di tepi trotoar, beratapkan seng dengan cat warna-warni yang mulai pudar dimakan cuaca.

Salah satu yang mencolok di bundaran ini adalah kios aksesori audio mobil atau audio tape. Papan namanya membentang di bagian atas, menawarkan jasa pasang dan servis. 

Rak-rak kayu yang dicat kuning dan biru dipenuhi head unit berbagai merek, tersusun rapi dalam kotak-kotak kecil. 

Di bagian depan, tumpukan kardus speaker, subwoofer, dan perangkat multimedia mobil ditata hingga hampir menutup etalase.

Beberapa speaker masih terbungkus plastik, diletakkan di atas boks besar di pinggir trotoar. 

Di sisi lain, head unit model layar sentuh berjajar memenuhi dinding rak, sebagian sudah terlihat usang. 

Dua pria duduk santai di bangku kayu kecil di depan kios, satu sibuk memeriksa barang, satu lagi menatap ponsel.

Di antara orang tersebut, berdiri Yadi warga asal Kota Tahu yang telah beradu nasib di Kota Bandung sejak 1987. 

Yadi mengatakan, kawasan Cibeunying memang tersohor dengan lapak audio tape yang menjamur. Bahkan, lanjut dia, para penjual bisa terjaga hingga buka 24 jam saking ramainya. 

Hingga kini, eksistensinya masih terjaga. Sekitar 50 penjual yang menyediakan aneka audio tape di sini. 

Berkaca pada tahun 80-an, Yadi menuturkan, jumlah lapak jauh lebih banyak membentang mengikuti cekungan jalanan. 

“Dulu mah rame, cari uang gampang. Sekarang sudah menurun, penjualnya juga berkurang," katanya, saat ditemui di Tribunjabar.id, Sabtu (14/2/2026). 

Yadi menuturkan, dahulu lapak para penjual terbilang sederhana. Namun saat Mantan Walikota Dada Rosada menjabat, kawasan tersebut ditata hingga para penjual memiliki kios bangunan tetap. 

Ukurannya memang sederhana, hanya 2×3 meter. Namun cukup untuk berteduh dari panas dan hujan. Bahkan, di sana bisa untuk rebahan sejenak. 

Di lapaknya, berbagai head unit Android, speaker, hingga perangkat audio standar mobil tersusun di rak.

Ia melayani pemasangan untuk berbagai tipe mobil, mulai dari CRV, Avanza, hingga Innova. Soal harga, ia tak mematok angka pasti. 

“Tergantung barangnya,” ujarnya.

Di kiri kanan kiosnya, puluhan pedagang menjual barang serupa. Menurutnya, jumlah kios audio di kawasan itu memang puluhan. Namun ia tak merasa tersaingi.

“Enggak merasa bersaing. Kita sehat saja yang penting. Rezeki enggak kemana," katanya.

Justru yang paling terasa baginya adalah perubahan pola belanja. Banyak pelanggan kini memilih membeli lewat toko online.

“Masalahnya persaingan dengan online. Ada yang tinggal duduk di rumah, langsung jualan. Kalau saya pedagang tetap, buka dari jam 07.00 pagi,” tuturnya.

Yadi mengaku terjun ke usaha audio bukan karena hobi mengutak-atik sejak awal. 

Ia hanya ikut-ikut teman, lalu bertahan sampai sekarang. 

“Alami aja. Senang kesibukan,” ucapnya.

Meski zaman berubah, barang lama maupun model terbaru tetap ia sediakan. 

Paling banyak dicari saat ini adalah model Android dan paket full audio dengan power tambahan.

Untuk perawatan, ia punya tips sederhana agar audio mobil awet. 

“Kalau mau awet, audionya dimatikan dulu sebelum starter. Nanti kalau sudah hidup, baru dinyalakan lagi,” jelasnya.

Yadi lahir di Jakarta, namun sejak kecil sudah tinggal di Bandung. Ia menyebut dirinya hanya “numpang lahir” di ibu kota karena orang tuanya dulu berdinas di sana. 

Kini, ia bolak-balik Bandung–Sumedang karena sang istri berasal dari Sumedang. Biasanya seminggu sekali ia pulang.

Buah dari berjualan sejak tahub 80-an itu mampu menafkahi enam anaknya. Kini mereka sudah dewasa dan bekerja, tersebar di Cikeas, Cikarang, Purwakarta, hingga Jatinangor. 

“Alhamdulillah sudah pada kerja,” katanya.

Ia tak menampik kondisi ekonomi sekarang berbeda dengan dulu.

“Sekarang ekonomi menurun. Dulu enggak kayak gini. Sekarang dapat Rp100 ribu saja mesti keringatan dulu,” ujarnya. 

Meski begitu, kiosnya tetap buka setiap hari. Bahkan kawasan itu dijaga keamanan 24 jam. Ia tak pernah merasa khawatir berlebihan soal pencurian.

Soal rasa jenuh, ia mengaku ada. Namun kebutuhan keluarga membuatnya tetap bertahan. 

“Kalau kebutuhan mah enggak bisa dibilang bosan. Harus dipenuhi,” katanya.

Dalam sehari, menurutnya, tetap ada saja transaksi. Tidak pernah benar-benar kosong. 

Ia pun tak terlalu memikirkan minimal pendapatan. Baginya, yang penting usaha tetap jalan.

“Mau sepi, mau ramai, harus dinikmati. Namanya usaha,” ucap Yadi. (*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.