Dukung Transisi Energi Industri, Wamen ESDM Resmikan Pabrik Mini LNG Milik Jababeka
Feryanto Hadi February 14, 2026 11:29 PM

 

WARTAKOTALIVE COM – PT Jababeka Tbk (KIJA) melalui entitas anaknya PT Likuid Nusantara Gas (PT LNG) resmi mengoperasikan pabrik mini gas alam cair (liquefied natural gas/LNG) di kawasan Pasuruan Industrial Estate Rembang (PIER), Pasuruan, Jawa Timur.

Peresmian dilakukan oleh Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Republik Indonesia, Yuliot Tanjung

Proyek ini dikembangkan melalui PT Likuid Nusantara Gas, yang merupakan perusahaan patungan (joint venture/JV).

Dalam struktur kepemilikannya, PT Jababeka Infrastruktur, entitas anak KIJA, menguasai 60 persen saham, sementara PT Fortius Development Asia dan pemegang saham perorangan masing-masing memiliki 20 % saham. Total nilai investasi pabrik mini LNG ini sekitar US$16,9 juta.

Acara peresmian turut dihadiri oleh Sentot Harijady Bradjanto Tri Putro selaku Direktur Pembinaan Usaha Hilir Minyak dan Gas Bumi Kementerian ESDM, yang mewakili Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Kementerian ESDM, Laode Sulaeman

Turut hadir Noor Arifin Muhammad selaku Direktur Teknik dan Lingkungan Migas, Muhammad Mahmud Azhar Lubis selaku Staf Khusus Menteri ESDM Bidang Investasi dan Ekonomi, serta Gustavo Ricardo Coppa selaku Duta Besar Argentina untuk Indonesia.

 Selain itu, acara ini juga dihadiri oleh jajaran manajemen PT Jababeka Tbk dan PT Likuid Nusantara Gas, serta jajaran direksi PT Fortius Development Asia.

Baca juga: Lengkapi Gaya Hidup Urban, Living Plaza Jababeka Hadirkan Suasana dan Tenant Baru

Dukung energi industri yang lebih efisien dan rendah emisi

Dalam sambutannya, Wakil Menteri ESDM Yuliot Tanjung menyampaikan bahwa kehadiran pabrik mini LNG PT Likuid Nusantara Gas sejalan dengan upaya pemerintah dalam memperluas akses energi yang lebih bersih dan efisien bagi sektor industri. 

Ia menegaskan bahwa fasilitas ini merupakan kilang mini LNG pertama di Pulau Jawa yang diharapkan dapat mengoptimalkan pemanfaatan gas domestik untuk industri, pembangkit listrik, serta berbagai kegiatan ekonomi lainnya, bahkan berpotensi didistribusikan ke berbagai wilayah Indonesia.

Yuliot juga berharap kehadiran kilang mini LNG dapat menjadi benchmark pengembangan infrastruktur energi modular di berbagai daerah. 

Ia menyoroti bahwa subsidi LPG nasional diperkirakan mencapai Rp87 triliun pada 2025, sehingga fasilitas ini diharapkan dapat mendorong substitusi konsumsi LPG dengan LNG, mengurangi ketergantungan impor, sekaligus meningkatkan efisiensi anggaran

 “Pada akhirnya akan terjadi efisiensi dan dalam jangka panjang masyarakat bisa mendapatkan energi yang cukup dengan harga yang lebih terjangkau,” ujar Yuliot.

Senada dengan hal tersebut, Duta Besar Argentina untuk Indonesia, Gustavo Ricardo Coppa, menyampaikan apresiasi atas beroperasinya fasilitas ini sebagai wujud kolaborasi teknologi antara Indonesia dan Argentina melalui Galileo Technologies.

Menurutnya, proyek ini bukan hanya pembangunan fasilitas baru, tetapi juga langkah nyata dalam memperkuat ketahanan energi, memperluas pemanfaatan bahan bakar bersih, serta mengembangkan infrastruktur energi modern di wilayah kepulauan. Ia berharap kerja sama kedua negara dapat terus berlanjut dalam jangka panjang.

Fasilitas mini LNG perkuat bisnis infrastruktur KIJA

Wakil Direktur Utama PT Jababeka Tbk, Budianto Liman, menyampaikan apresiasi atas dukungan pemerintah pusat maupun daerah terhadap proyek ini.

“Kami merasa terhormat atas kehadiran Bapak Wakil Menteri ESDM dalam peresmian ini. Pabrik ini merupakan pabrik mini LNG pertama yang dikelola swasta di Pulau Jawa. Kami juga mengapresiasi dukungan pemerintah dalam menciptakan iklim yang kondusif bagi pengembangan infrastruktur energi. Kami yakin fasilitas ini dapat berkontribusi pada penyediaan energi yang lebih rendah emisi dan kompetitif bagi pelaku industri, khususnya di Pulau Jawa dan sekitarnya,” ujarnya.

Pabrik yang berdiri di atas lahan sekitar 1 hektar ini beroperasi sebagai pusat pengolahan dan distribusi LNG dengan kapasitas produksi saat ini 2,5 MMSCFD per hari (dengan potensi ekspansi hingga 4 MMSCFD per hari).

Budianto menambahkan bahwa operasional pabrik mini LNG ini diharapkan dapat menambah kontribusi bisnis infrastruktur yang bersifat recurring terhadap pendapatan usaha KIJA, seiring meningkatnya kebutuhan energi industri yang lebih kompetitif secara harga dan rendah emisi.

Solusi energi kompetitif untuk pelaku industri

CEO PT LNG, Wira Rahardja, menambahkan bahwa pihaknya siap bekerja sama dengan perusahaan atau pelaku usaha yang ingin melakukan transisi ke energi yang lebih rendah emisi. Saat ini, pabrik mini LNG didukung armada distribusi menggunakan iso tank berukuran 20 dan 40 kaki untuk melayani kebutuhan konsumen, baik ritel maupun perusahaan distributor.

“Pada tahap awal operasional, kami telah berhasil menyediakan dan menyalurkan gas alam cair ke wilayah Jawa Timur dan Bali secara andal, baik dari sisi kualitas maupun distribusi. Capaian ini memperkuat keyakinan kami bahwa fasilitas ini dapat mendukung perusahaan yang ingin beralih ke energi yang lebih ramah lingkungan,” ujar Wira Rahardja.

Ia menambahkan bahwa sejumlah konsumen telah merasakan manfaat langsung setelah beralih menggunakan LNG, terutama dari sisi efisiensi biaya energi.

“Saat ini kami telah bekerja sama dengan beberapa konsumen, termasuk PGN Gagas” tutupnya.
Targetkan peningkatan kapasitas produksi

Untuk tahap selanjutnya, PT LNG menargetkan peningkatan kapasitas produksi dari 2,5 MMSCFD per hari menjadi 4 MMSCFD per hari melalui penambahan dua unit mesin pengolahan LNG.

Langkah ini diambil untuk memenuhi permintaan energi industri yang terus meningkat, khususnya di wilayah Jawa Timur, Bali, dan sekitarnya. Perusahaan menargetkan ekspansi kapasitas tersebut pada paruh kedua tahun 2027.

“Dengan kapasitas yang lebih besar, kami optimistis dapat menjangkau lebih banyak konsumen sekaligus memperkuat peran kami dalam mendukung transisi energi di sektor industri,” tutup Wira Rahardja.

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.