Murid SD di Demak Diduga Akhiri Hidup Usai Dimaki Ibunya, Ini Pengakuan Orangtua
Erik S February 15, 2026 12:38 AM

TRIBUNNEWS.COM, DEMAK - Polisi membenarkan terkait seorang bocah perempuan (12) meninggal dunia diduga akibat bunuh diri di Kabupaten Demak, Jawa Tengah.

Korban diduga mengakhiri hidupnya karena menerima makian dari ibunya melalui aplilkasi WhatsApp. Sebelum ditemukan meninggal, korban sempat mengunggah tangkapan layar percakapan WhatsApp bernada makian dari ibunya.

"Screenshot chat dari ibu ke korban lalu diunggah oleh korban di WhatsApp beberapa hari sebelum peristiwa terjadi," kata Kasat Reskrim Polres Demak, Iptu Anggah Mardwi Pitriyono, Jumat (13/2/2026).

Unggahan itu kemudian tersebar luas di media sosial, termasuk dibagikan oleh akun Instagram @infodemakraya.

Baca juga: Bom Bunuh Diri di Masjid Islamabad, 30 Tewas saat Salat Jumat, Hizbullah Beri Kecaman

Dalam tangkapan layar tersebut, terlihat sejumlah kata kasar yang dikirimkan kepada korban. Saat membagikan gambar itu, korban juga menuliskan keterangan, "Di balik tawa gua disisi lain aku juga cape".

Kronologi Kejadian Berdasarkan CCTV

Anggah menjelaskan, insiden tersebut pertama kali diketahui oleh ibu korban. Berdasarkan rekaman kamera pengawas, ibu korban pulang ke rumah pada pukul 18.01 WIB.

"Berdasarkan rekaman CCTV, ibu korban naik mobil pulang ke rumah.

Lalu masuk ke rumah pukul 18.01 WIB," jelas Anggah.

Tak lama setelah masuk, sang ibu mendapati anaknya sudah dalam kondisi tergantung. Ia kemudian keluar rumah dan berteriak meminta pertolongan.

"Jam 18.03 WIB, ibu korban keluar dan berteriak.

Jadi ibu korban ini yang pertama mengetahui anaknya gantung diri," ujar Anggah.

Warga yang mendengar teriakan tersebut segera berdatangan. Korban lalu dilarikan ke Rumah Sakit Wongsonegoro Semarang menggunakan mobil milik ibunya yang dikemudikan tetangga, sementara sang ibu menyusul dengan sepeda motor.

"Dibawa ke rumah Rumah Sakit Wongsonegoro Semarang menggunakan mobil ibunya yang dikemudikan oleh tetangganya.

Ibu korban mengikutinya dengan menggunakan sepeda motor," tutur Anggah.

Hasil Pemeriksaan Forensik

Dari hasil visum dokter forensik, ditemukan tanda-tanda yang mengarah pada kematian akibat gantung diri.

"Ada luka akibat kekerasan tumpul berupa jejas atau lecet gantung pada leher.

Didapatkan tanda mati lemas.

Waktu kematian 2-6 jam sebelum pemeriksaan visum dilakukan," beber Anggah.

Polisi menerima laporan kejadian sekitar pukul 21.30 WIB dan langsung melakukan olah tempat kejadian perkara serta pendalaman lebih lanjut.

Berdasarkan hasil pemeriksaan forensik dan rekaman CCTV, kepolisian membantah dugaan bahwa korban dibunuh oleh ibunya.

"Dari hasil pemeriksaan dokter forensik tadi, kemudian kita lihat rekaman CCTV yang menunjukkan ibu korban masuk ke rumah jam 18.01 WIB dan keluar jam 18.03 WIB sambil histeris untuk meminta tolong ke tetangga sebelah.

Dengan rentang waktu sekitar 1,5 - 2 menit, tidak memungkinkan indikasi ibu korban melakukan pembunuhan," kata Anggah.

"Selain itu, aktivitas terakhir di HP korban yaitu pukul 16.25 WIB. Selama rentang waktu itu hingga ibu korban pulang, tidak terlihat ada orang lain yang masuk ke rumah," tambahnya.

Pengakuan Orangtua

Anggah mengakui bahwa sebelumnya sang ibu beberapa kali mengirim pesan bernada marah dan mengandung kata-kata kasar kepada korban. 

Namun, ia menegaskan bahwa penyebab pasti tindakan korban tidak dapat disimpulkan hanya dari percakapan tersebut.

"Memang sebelumnya ibunya itu sempat beberapa kali chat marah-marah dan ada kata-kata kasar.

Tetapi penyebab korban gantung diri tidak bisa kita simpulkan karena hal itu, karena masih banyak faktor-faktor lainnya yang harus dilakukan pendalaman," ujar Anggah.

"Namun dari kejadian ini, kami harap para orang tua bisa lebih bijak dalam berkomunikasi dengan anaknya.

Selain itu, selalu perhatikan dan awasi aktivitas media sosial anak-anaknya sehingga anak merasa bahwa ada orang tua yang selalu hadir dan mendengarkan dirinya," tutupnya. 

Kasus di Ngada NTT

Seorang bocah SD di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT) karena kemiskinan ekstrem. Korban disebut mengakhir hidup karena ibunya tidak sanggup membelikan peralatan sekolah.

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.