Terulang Kembali! Seorang Siswi di Demak Meninggal Dunia Karena Bunuh Diri
Joanita Ary February 14, 2026 11:29 PM

WARTAKOTALIVECOM, Jakarta — Kasus meninggalnya seorang siswi sekolah dasar berusia 13 tahun kembali mengguncang publik di Kabupaten Demak, Jawa Tengah.

Remaja berinisial SA itu ditemukan dalam kondisi tak bernyawa di rumahnya di Desa Batursari, Kecamatan Mranggen, Kamis (11/2/2026) petang.

Peristiwa ini menjadi sorotan luas, terutama setelah diketahui bahwa sehari sebelum kejadian, korban sempat mengunggah pesan bernada kelelahan emosional di media sosial.

Unggahan tersebut memantik keprihatinan warganet dan memunculkan diskusi publik mengenai kesehatan mental anak serta pentingnya komunikasi yang aman di dalam keluarga.

Kepolisian Resor Demak masih mendalami peristiwa tersebut guna memastikan latar belakang dan faktor-faktor yang melatarinya.

Kepala Satuan Reserse Kriminal Polres Demak, Iptu Anggah Mardwi Pitriyono, menjelaskan, korban pertama kali ditemukan oleh ibunya sepulang bepergian.

Berdasarkan rekaman kamera pengawas (CCTV), ibu korban masuk ke dalam rumah pada pukul 18.01 WIB.

“Kemudian masuk ke rumah pukul 18.01 WIB,” ujar Anggah dalam keterangannya. 

Dua menit berselang, sang ibu keluar rumah sambil berteriak meminta pertolongan setelah mendapati putrinya dalam kondisi tergantung.

Petugas yang datang ke lokasi kemudian melakukan olah tempat kejadian perkara serta meminta keterangan sejumlah saksi.

Hasil visum dokter forensik menunjukkan adanya tanda mati lemas. 

“Didapatkan tanda mati lemas. Waktu kematian diperkirakan dua hingga enam jam sebelum pemeriksaan visum dilakukan,” kata Anggah.

Polisi menegaskan, dari hasil pemeriksaan sementara tidak ditemukan indikasi adanya tindak kekerasan atau keterlibatan pihak lain.

Rekaman CCTV juga tidak menunjukkan adanya orang lain yang masuk ke rumah dalam rentang waktu tersebut.

Meski demikian, penyelidikan tetap dilakukan untuk memastikan tidak ada faktor lain yang terlewat.

Sehari sebelum kejadian, korban diduga sempat mengunggah tangkapan layar percakapan WhatsApp dengan ibunya yang berisi kata-kata kasar.

Anggah membenarkan adanya percakapan tersebut.

“Memang sebelumnya, ibunya itu sempat beberapa kali chat marah-marah dan ada kata-kata kasar kepada korban,” ujarnya. 

Namun, polisi menekankan bahwa motif pasti belum dapat disimpulkan dan masih dalam tahap pendalaman.

Tragedi ini kembali mengingatkan pentingnya perhatian dan pendampingan terhadap anak, terutama dalam menghadapi tekanan emosional di usia remaja awal.

Pakar psikologi anak kerap menekankan bahwa komunikasi yang terbuka dan empatik di dalam keluarga menjadi benteng pertama dalam menjaga kesehatan mental anak.

Di tengah derasnya arus informasi dan interaksi digital, anak-anak kerap mengekspresikan perasaan melalui media sosial.

Sinyal-sinyal kelelahan emosional yang muncul di ruang digital semestinya menjadi alarm bagi lingkungan terdekat untuk hadir, mendengar, dan memberikan dukungan.

Pihak kepolisian mengimbau masyarakat untuk tidak berspekulasi serta menghormati privasi keluarga korban.

Penanganan kasus ini masih berlangsung, sementara duka mendalam menyelimuti keluarga dan warga sekitar.

Peristiwa ini menjadi refleksi bersama bahwa kesehatan mental anak bukan sekadar isu personal, melainkan tanggung jawab kolektif keluarga, sekolah, dan lingkungan sosial.

Upaya pencegahan memerlukan kepekaan, komunikasi yang aman, serta ruang aman bagi anak untuk menyampaikan beban yang mereka rasakan.

 

 

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.