Profesor Kyoto Ungkap Dampak Jangka Panjang Gempa Dahsyat 2011, Ubah Struktur Geologi Jepang
Eko Sutriyanto February 15, 2026 05:29 AM

Laporan Koresponden Tribunnews.com, Richard Susilo dari Jepang

TRIBUNNEWS.COM, TOKYO –  Belakangan ini, gempa bumi terjadi silih berganti di berbagai wilayah Jepang. Dari Semenanjung Noto, lepas pantai Tohoku, hingga wilayah Kanto, guncangan dengan berbagai skala terus terjadi dan memunculkan kekhawatiran di masyarakat.

Menurut Profesor Emeritus Universitas Kyoto, Kamata Hiroki, fenomena ini mungkin masih berkaitan dengan dampak jangka panjang Higashi Nihon Daishinsai yang terjadi pada 11 Maret 2011.

"Gempa dahsyat tersebut bukan hanya bencana sesaat, tetapi juga mengubah struktur geologi Jepang secara besar-besaran," kata Kamata dalam keterangannya.

Secara global pun, gempa ini tergolong sangat besar.

Di antara gempa-gempa yang terjadi sejak abad ke-20, gempa tersebut merupakan salah satu yang terbesar, setelah Gempa Cile tahun 1960 (M9,5), Gempa Alaska tahun 1964 (M9,2), dan Gempa Samudra Hindia lepas pantai Sumatera, Indonesia, tahun 2004 (M9,1).

Baca juga: Gempa Bumi 5,5 M Guncang Pacitan, Jawa Timur Hari Ini, 27 Januari 2026

Gempa Sekali dalam 1000 Tahun

Pada 11 Maret 2011 pukul 14.46 waktu Jepang, gempa berkekuatan Magnitudo 9,0 terjadi di lepas pantai Sanriku. Ini merupakan gempa terbesar dalam sejarah pengamatan Jepang.

Wilayah patahan yang pecah membentang sekitar 500 kilometer dengan lebar 200 kilometer. 

Gempa terjadi di batas lempeng tempat Lempeng Pasifik menunjam ke bawah Lempeng Amerika Utara.

Guncangan mencapai intensitas maksimum 7 (skala Jepang) di Kota Kurihara, Prefektur Miyagi, dan terasa dari Hokkaido hingga Kyushu.

Pergerakan dasar laut yang besar memicu tsunami raksasa. 

Di Soma, Prefektur Fukushima, gelombang mencapai lebih dari 9 meter.

Di Pelabuhan Onagawa, Miyagi, ditemukan jejak tsunami setinggi 14,8 meter.

Korban jiwa dan hilang lebih dari 18.000 orang, menjadikannya bencana alam terburuk di Jepang pascaperang. Sekitar 90 persen korban meninggal akibat tenggelam oleh tsunami.

Gempa Susulan yang Tidak Biasa

Karena gempa utama berkekuatan M9, gempa susulan juga luar biasa besar. Gempa berkekuatan M7 sering terjadi setelahnya.

Tidak hanya di zona sumber gempa utama, gempa juga terpicu di wilayah daratan yang jauh. 

Sehari setelah gempa utama, terjadi gempa M6,7 di perbatasan Prefektur Niigata dan Nagano.

Sekitar 30 menit setelah gempa utama, terjadi pula gempa tipe “outer rise” di sisi luar palung laut, menunjukkan perubahan besar pada tekanan kerak bumi.

Baca juga: Dampak Gempa Bumi Aomori Jepang, Banyak Stasiun Jalur Kereta  Ditutup, Murid Sekolah Jadi Kesulitan

Awal Era Perubahan Bumi

Profesor Kamata menyebut bahwa Jepang memasuki “era perubahan bumi” setelah 3.11.

Sebelum gempa 2011, wilayah Tohoku mengalami tekanan kompresi dari arah timur-barat. 

Namun setelah gempa besar tersebut, gaya yang bekerja justru berubah menjadi gaya tarik ke arah timur-barat.

Perubahan tekanan ini berpotensi membuat gempa dan letusan gunung api lebih mudah terjadi.

Gempa dan aktivitas vulkanik sama-sama dipicu oleh pergerakan lempeng tektonik. 

Ketika tekanan besar berubah secara drastis, maka kemungkinan terpicunya aktivitas baru menjadi lebih tinggi.

Apakah Terkait dengan Gempa Nankai Trough?

Meski demikian, tidak semua gempa saling berkaitan.

Misalnya, gempa besar di lepas pantai Sanriku tidak terbukti secara langsung mempercepat terjadinya gempa Nankai Trough yang selama ini dikhawatirkan akan terjadi di Jepang bagian selatan.

Kedua zona gempa tersebut memiliki mekanisme dan siklus yang relatif independen.

Jepang memang sejak awal merupakan salah satu negara paling aktif secara seismik dan vulkanik di dunia.

Olehkarena itu, gempa yang terjadi berdekatan waktunya belum tentu memiliki hubungan sebab-akibat langsung.

Setiap kasus harus dianalisis secara ilmiah dan terpisah.

Waspada untuk Beberapa Dekade ke Depan

Tekanan dan deformasi kerak bumi akibat gempa 2011 kemungkinan memerlukan waktu puluhan tahun untuk benar-benar stabil kembali.

Artinya, dalam beberapa dekade ke depan, aktivitas gempa dan vulkanik di Jepang bisa tetap berada pada tingkat yang tinggi.

Empat belas tahun telah berlalu sejak tragedi 3.11, namun dampaknya terhadap struktur geologi Jepang mungkin masih terus berlangsung, tambah Kamata.

Jepang hari ini bukan lagi Jepang sebelum 2011. Negeri ini masih hidup dalam bayang-bayang perubahan besar yang ditinggalkan gempa dahsyat tersebut.

Diskusi  gempa bumi   di Jepang dilakukan Pencinta Jepang gratis bergabung. Kirimkan nama alamat dan nomor whatsapp ke email: tkyjepang@gmail.com

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.