TRBUNTRENDS.COM - Di tengah keresahan banyak lulusan perguruan tinggi yang gamang menatap dunia kerja, Purbaya Yudhi Sadewa justru mengungkapkan pengalaman berbeda.
Menteri Keuangan Republik Indonesia itu mengaku tidak pernah merasakan fase “galau” setelah menyelesaikan pendidikan sarjana.
Pengalaman tersebut ia sampaikan usai menghadiri prosesi wisuda Sarjana dan Vokasi di Universitas Indonesia, Kampus UI Depok, Jawa Barat, Sabtu (14/2/2026).
Baca juga: Menkeu Purbaya Akhirnya Kirim Rp 20 Triliun ke BPJS, Siap-siap Tunggakan Kelas 3 Diputihkan Total
Purbaya bercerita, keberuntungannya bermula sejak masih menempuh pendidikan S1 di Institut Teknologi Bandung, Jurusan Teknik Elektro.
Ia mengungkapkan bahwa dirinya telah lebih dulu bekerja sebelum resmi menyandang gelar sarjana.
"Saya untung sebelum lulus sudah kerja dulu. Jadi perusahaannya yang nunggu saya. Jadi saya untung dulu," kata Purbaya.
Menurutnya, kondisi tersebut membuat masa transisi dari dunia kampus ke dunia kerja berjalan mulus, tanpa kegelisahan yang kerap dirasakan lulusan baru.
Meski demikian, Purbaya menyadari bahwa pengalaman hidup setiap orang berbeda.
Ia memahami bahwa tidak semua mahasiswa memiliki kesempatan bekerja sebelum lulus kuliah.
Karena itu, ia menyampaikan pesan khusus kepada para lulusan UI agar tidak gentar menghadapi kenyataan dunia kerja yang kerap jauh berbeda dari kehidupan akademik.
Di hadapan ribuan wisudawan, Purbaya menekankan pentingnya keberanian, keyakinan, dan keteguhan mental saat memasuki fase baru kehidupan.
Menurutnya, bekal ilmu yang diperoleh selama masa perkuliahan seharusnya menjadi fondasi kuat untuk menghadapi berbagai tantangan.
"Tapi teman-teman jangan takut, teman-teman semua yang baru lulus, karena harusnya pondasi pengetahuan Anda sudah cukup untuk mengatasi segala tantangan yang ada, selama tetap fokus dan semangat," ucap Purbaya.
Ia menegaskan bahwa rasa takut hanya akan menghambat langkah, sementara fokus dan semangat akan membuka banyak peluang.
Baca juga: Bela MBG! Menkeu Purbaya Sebut Tanpa Makan Bergizi Gratis Stabilitas Indonesia Bisa Terancam!
Pada kesempatan tersebut, UI mewisuda total 4.428 mahasiswa dari jenjang Sarjana dan Pendidikan Vokasi. Prosesi wisuda dibagi ke dalam dua sesi, yakni pagi dan siang.
Rektor UI, Heri Hermansyah, menyampaikan bahwa pada sesi pertama saja, sebanyak 2.057 lulusan terbaik telah dikukuhkan.
"Di wisuda sesi pertama ini, kita meluluskan 2.057 lulusan terbaik dari program Sarjana dan program Pendidikan Vokasi.
Yang membanggakannya lagi, 658 lulusan meraih predikat Cumlaude dan 77 lulusan Summa Cumlaude," kata Heri.
Heri Hermansyah mengingatkan para wisudawan bahwa mereka adalah kelompok terpilih.
Dari total sekitar 286 juta penduduk Indonesia, hanya 7 juta orang yang sedang mengenyam pendidikan tinggi, dan hanya sekitar 50.000 mahasiswa yang berkuliah di UI.
"Succes rate masuk UI berkisar hanya 1-3 persen," ujarnya.
Angka tersebut, menurut Heri, bukan sekadar statistik, melainkan cerminan perjuangan panjang dan daya tahan mental para mahasiswa.
Baca juga: Menteri KP Trenggono Irit Bicara Usai Perang Dingin dengan Menkeu Purbaya, Sempat Lapor ke Prabowo?
Lebih lanjut, Heri menegaskan bahwa keberhasilan para lulusan bukan semata soal kecerdasan intelektual.
"Angka ini menunjukkan bahwa Ananda sekalian adalah manusia Indonesia yang terpilih.
Bukan hanya karena kecerdasan, tetapi karena ketekunan dan daya juang," ungkapnya.
Ia berharap, ilmu yang diperoleh selama masa studi dapat diterapkan secara nyata di dunia kerja maupun dalam berwirausaha.
Menutup sambutannya, Heri menekankan pentingnya keseimbangan antara kemampuan akademik dan keterampilan nonteknis.
Menurutnya, lulusan UI harus mampu tampil unggul tidak hanya dalam bidang keilmuan, tetapi juga dalam karakter dan kemampuan sosial.
"Sehingga lulusan UI ini selain dia mumpuni di bidang disiplin utamanya, juga memiliki softskill di jaring dan karakter yang menunjang untuk mereka keluar berkarier," pungkas Heri.
Pesan tersebut menjadi penegasan bahwa dunia kerja membutuhkan lebih dari sekadar nilai akademik ia menuntut ketangguhan, etika, dan kesiapan mental untuk terus belajar dan beradaptasi.
***