Kekuatan Batik dan Sarung: Identitas Pengenal Sesama WNI di Luar Negeri
Endra Kurniawan February 15, 2026 05:29 AM

 

TRIBUNNEWS.COM, TIMUR TENGAH -  Berada di luar negeri menghadirkan pengalaman sosial yang unik, terutama bagi mereka yang berasal dari Indonesia. 

Di tengah keragaman wajah dan budaya, ada satu penanda yang sering kali memudahkan sesama Warga Negara Indonesia (WNI) untuk saling tahu, tanpa perlu mengawalinya dengan perkenalan. 

Penanda itu adalah busana batik dan sarung. Pakaian bermotif khas yang diakui UNESCO sejak tahun 2009 sebagai Warisan Budaya Takbenda dari Indonesia ini, menjadi identitas nyata bagi WNI ketika berada di luar negeri.

Sementara sarung yang identik dengan lingkungan kaum santri, yang notabene pakaian penutup bagian bawah untuk laki-laki beribadah, juga menjadi penanda 'orang Indonesia'.

Tanpa perlu percakapan atau perkenalan, batik dan sarung menjadi isyarat visual yang langsung terbaca.

Pengalaman itu terasa nyata ketika saya Danang Triatmojo selaku jurnalis Tribunnews.com berkesempatan mengunjungi Abu Dhabi - Uni Emirat Arab (UEA), Madinah dan Makkah - Arab Saudi, pada awal bulan Februari 2026.

Di antara lalu lalang orang dengan gaya berpakaian khas negara dan selera individu, busana batik dan sarung tampil menonjol serta berbeda. 

Baca juga: Tiba di Jeddah, Megawati Hendak Doakan Kemajuan RI dari Masjidil Haram Makkah

Pengenalan ini terjadi secara alami, hanya dari pengamatan singkat, tanpa perlu memastikan lewat dialog.

Sebagai contoh, saya pernah mengalaminya secara langsung saat menginap di sebuah hotel di Abu Dhabi. Ketika sarapan pagi saya mengenakan batik, kemudian seorang pelayan tiba-tiba menyapa menggunakan bahasa Indonesia. 

"Selamat pagi Pak," ucap pramusaji tersebut seraya membukakan pintu resto menuju sisi semi outdoor.

Tidak ada percakapan sebelumnya, tidak ada pertanyaan tentang asal negara. Sapaan itu muncul spontan, seolah sudah ada kesepahaman. Terlihat jelas bahwa batik yang saya kenakan menjadi dasar pengenalannya.

Hal serupa juga kerap terjadi di tempat-tempat publik lainnya. Seperti pusat perbelanjaan di Masjid Nabawi - Madinah maupun kawasan Masjidil Haram - Makkah.

Ketika saya mengenakan sarung, beberapa orang Indonesia meminta bantuan saya untuk mengabadikan momen dari ponselnya.

"Mas, boleh minta tolong fotoin?" tanya mereka tiba-tiba.

"Oh boleh - boleh mas," jawab saya.

Batik dan sarung seakan menjadi tanda tak tertulis yang langsung menghubungkan satu sama lain sesama WNI, menciptakan rasa 'satu kampung' saat berada di negeri orang.

Pengalaman-pengalaman tersebut menunjukkan bahwa busana ini bukan sekadar pilihan berpakaian, melainkan identitas yang hidup dan berfungsi. 

Saya merasakan kekuatan batik dan sarung sebagai simbol bangsa Indonesia justru terasa paling kuat ketika dibawa ke luar negeri. 

Di sana, busana ini bekerja sebagai pengenal dan penegas jati diri, membuktikan identitas budaya Indonesia tetap melekat dan mudah dikenali di negara mana pun kita berpijak.

Baca juga: Instruksi Megawati, PDIP Beri Penghargaan untuk Relawan Kesehatan yang Bertugas di Sumatera

Dalam kesempatan tersebut, saya bersama sejumlah jurnalis nasional ikut meliput kegiatan Presiden ke-5 RI Megawati Soekarnoputri selama di UEA dan Arab Saudi. 

Dalam setiap kegiatan, Megawati nyaris selalu mengenakan pakaian batik. Seperti ketika menghadiri pertemuan meja bundar yang digelar Zayed Award For Human Fraternity (ZAHF), saat mendapat penganugerahan Doktor Honoris Causa atau gelar doktor kehormatan dari Princess Nourah Bint Abdulrahman University, hingga ketika bertemu dengan Putra Mahkota Abu Dhabi, Sheikh Khaled Bin Mohamed Bin Zayed Al Nahyan.(*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.