Banyak orang menyimpan roti di freezer hanya untuk membuatnya lebih awet. Namun, lebih dari itu, praktik ini bisa memengaruhi struktur nutrisi roti sehingga memberikan manfaat tertentu bagi kesehatan.
Dilansir dari HuffPost (13/2), saat roti dibekukan dan kemudian dicairkan, lalu dipanggang, struktur pati di dalamnya berubah melalui proses yang disebut retrogradasi.
Dalam proses ini, sebagian pati dalam roti mengalami reorganisasi sehingga membentuk pati resisten (resistant starch). Pati ini berbeda dengan pati biasa karena lebih sulit dicerna di usus kecil, sehingga sebagian besar tetap utuh sampai mencapai usus besar.
Pati resisten tidak cepat dipecah menjadi gula oleh tubuh, karena zat ini mirip seperti serat makanan. Artinya, setelah makan roti yang sudah melalui proses pembekuan dan pencairan, penyerapan glukosa (gula darah) cenderung lebih lambat dibandingkan ketika makan roti segar.
Roti. Foto: Getty Images/iStockphoto/
|
Hal ini memberi tubuh waktu lebih panjang untuk memproses karbohidrat, tanpa menciptakan lonjakan drastis pada gula darah. Konsumsinya pun lebih ramah untuk pasien diabetes atau pradiabetes.
Tidak hanya itu, pati resisten juga menjadi makanan bagi bakteri baik di usus besar, yang membantu menjaga kesehatan sistem pencernaan. Bakteri ini memfermentasi pati resisten dan menghasilkan zat bernama asam lemak rantai pendek (short-chain fatty acids) yang baik untuk fungsi usus.
Jumlah pati resisten yang terbentuk dapat berbeda-beda tergantung pada jenis roti, bahan yang digunakan, dan cara pembekuan serta pencairannya.
Misalnya, roti yang dibekukan lalu langsung dipanggang bisa meningkatkan kandungan pati resisten lebih banyak dibandingkan hanya dicairkan saja.
Meski demikian, perubahan ini tidak otomatis menjadikan roti sebagai makanan super sehat. Efek dari pembentukan pati resisten relatif kecil. Artinya, efek tersebut hanya meningkatkan nutrisi saja, bukan pengganti pola makan sehat secara keseluruhan.








