TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Indonesia resmi memasuki babak baru dalam tata kelola pangan nasional.
Berkat deregulasi dan penguatan anggaran sektor pertanian yang ditempuh Presiden Prabowo Subianto, Indonesia tidak hanya berhasil menekan impor pangan, tetapi juga mulai bertransformasi menjadi negara pengekspor beras.
Dalam kurun satu tahun, kebijakan penyederhanaan regulasi dan percepatan distribusi input pertanian mendorong lonjakan produksi pangan nasional.
Salah satu langkah krusial adalah memangkas aturan distribusi pupuk subsidi yang sebelumnya tersebar dalam 145 regulasi dan membutuhkan persetujuan lintas kementerian serta pemerintah daerah.
Kini, proses tersebut cukup melalui persetujuan Kementerian Pertanian, Pupuk Indonesia Holding Company, dan gabungan kelompok tani (Gapoktan).
Kebijakan ini membuat pupuk sampai tepat waktu ke petani saat musim tanam. Produksi pangan pun melonjak, kesejahteraan petani meningkat, dan Indonesia berhasil mencapai swasembada beras serta jagung pakan ternak. Dampaknya, impor komoditas pangan strategis dapat ditekan secara signifikan.
Baca juga: Zulhas Klaim Indonesia Surplus 4,2 Juta Ton Beras Pada 2025, Target Kini Diperluas
Menteri Pertanian Amran Sulaiman mengungkapkan, ekspor pertanian Indonesia sepanjang Januari–Oktober 2025 mencapai Rp629,76 triliun.
Angka tersebut naik Rp158,38 triliun atau 33,6 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Pada saat yang sama, impor pangan justru mengalami penurunan tajam.
Sepanjang Januari–Oktober 2025, nilai impor pangan tercatat Rp321,14 triliun, turun Rp34,08 triliun atau 9,49 persen dibandingkan periode yang sama tahun 2024.
“Karena deregulasi yang dikeluarkan Bapak Presiden, ekspor pertanian kita naik Rp158 triliun, sementara impor turun Rp34 triliun,” ujar Amran dalam acara Indonesia Economic Outlook di Jakarta, Jumat (13/2/2026).
Penurunan impor tersebut terutama ditopang oleh keberhasilan swasembada beras dan jagung.
Sepanjang 2025, Indonesia tidak lagi mengimpor jagung pakan ternak. Bahkan, berkurangnya impor beras Indonesia turut menekan harga beras dunia, mengingat sebelumnya Indonesia mengimpor sekitar 7 juta ton beras per tahun dengan nilai mendekati Rp100 triliun.
Keberhasilan ini juga tercermin pada peningkatan kesejahteraan petani. Nilai Tukar Petani (NTP) tercatat naik hingga 125, sementara stok beras nasional mencapai level tertinggi sepanjang sejarah.
Memasuki awal 2026, produksi beras nasional terus menunjukkan tren positif.
Sepanjang 2025, produksi beras Indonesia mencapai 34,71 juta ton, membuat Cadangan Beras Pemerintah (CBP) yang dikelola Perum BULOG per Februari 2026 mencapai 3,3 juta ton.
Amran memperkirakan, dalam tiga bulan ke depan stok beras Bulog berpotensi menembus 6 juta ton. Namun, kapasitas gudang Bulog di seluruh Indonesia saat ini hanya sekitar 3 juta ton.
“Dalam tiga bulan ke depan stok bisa mencapai 6 juta ton, sementara kapasitas gudang kita hanya 3 juta ton,” ujarnya.
Baca juga: Bulog Jajaki Ekspor Beras Premium ke Arab Saudi untuk Pasokan Jemaah Haji
Untuk mengantisipasi lonjakan stok, Bulog telah menyewa tambahan gudang dengan kapasitas 1 juta ton.
Meski demikian, peningkatan produksi yang sangat cepat membuat kebutuhan ruang penyimpanan diperkirakan masih akan bertambah dan memerlukan dukungan anggaran tambahan.
Melimpahnya stok beras nasional membuka peluang baru bagi Indonesia untuk masuk ke pasar ekspor.
Bulog mulai menjajaki ekspor beras premium melalui produk Beras Haji Nusantara ke Arab Saudi, khususnya untuk memenuhi kebutuhan jemaah Haji dan Umrah.
Penjajakan pasar dilakukan melalui kegiatan business matching di Jeddah yang mempertemukan Bulog dengan importir serta penyedia katering haji.
Produk beras premium Indonesia mendapat respons positif karena dinilai memiliki tekstur pulen, aroma yang baik, dan cita rasa yang sesuai dengan preferensi konsumen setempat.
Pemerintah pun telah menetapkan rencana pengiriman awal sebanyak 2.280 ton beras premium pada minggu ketiga Februari 2026.
Pengiriman ini akan menjadi langkah awal Indonesia memasuki rantai pasok pangan untuk sektor Haji dan Umrah di Arab Saudi.
Dengan swasembada yang telah tercapai, impor yang ditekan, serta ekspor yang mulai dibuka, sektor pangan nasional kini tidak hanya menjadi penopang ketahanan dalam negeri, tetapi juga berpotensi menjadi sumber pertumbuhan ekonomi baru bagi Indonesia di pasar global.