Laporan Wartawan Tribuncirebon.com, Eki Yulianto
TRIBUNJABAR.ID, CIREBON- Disorot DPR soal kondisi ranjang penyok dan antrean mandi sejak pukul 03.00, Kepala Sekolah Rakyat Terintegrasi I Kota Cirebon, Khaerunisa, akhirnya angkat bicara.
Ia mengakui adanya ranjang reot di asrama dan menyebut pihak sekolah telah melakukan penanganan sementara dengan mengikatnya menggunakan kawat.
“Terkait ranjang reot yang berada di asrama, kami sudah melakukan upaya sementara dengan mengikat ranjang tersebut dengan kawat,” ujar Khaerunisa saat dimintai tanggapan, Sabtu (14/2/2026).
Menurutnya, langkah tersebut bersifat sementara sambil menunggu penguatan struktur ranjang dengan plat besi agar lebih kokoh dan aman digunakan siswa.
“Kami sudah berencana akan memasang plat besi supaya kokoh saat kepulangan siswa awal Ramadan ini agar prosesnya lebih aman dan tidak mengganggu aktivitas anak-anak,” ucapnya.
Baca juga: Selly Gantina Soroti Sekolah Rakyat di Cirebon, 3 Kamar Mandi untuk 100 Anak, Ranjang Penyok
Ia menegaskan, keselamatan siswa menjadi prioritas utama dalam pengelolaan asrama.
Kondisi ranjang yang penyok disebutnya tak lepas dari aktivitas siswa yang cukup dinamis.
“Kami selalu mengedepankan keselamatan siswa-siswi kami. Ranjang reot memang karena siswa kami yang sangat aktif seperti melompat ke ranjang teman atau bercanda beramai-ramai di atas satu ranjang,” jelas dia.
Pihak sekolah, lanjut dia, terus melakukan pembinaan agar siswa lebih tertib dan menjaga fasilitas bersama.
“Kami berusaha terus membina kebiasaan siswa kami agar lebih tertib dan aman di asrama. Sesuai dengan nilai-nilai sekolah kami yaitu: be safe, be respectful, be responsible,” katanya.
Terkait keterbatasan kamar mandi yang juga menjadi sorotan, Khaerunisa memastikan sudah ada langkah lanjutan.
“Kami sudah mengajukan dan sudah ada rencana penambahan,” ujarnya, singkat.
Sekolah Rakyat di Kota Cirebon sendiri menerapkan sistem asrama (boarding school) bagi siswa dari keluarga kurang mampu.
Seluruh kebutuhan dasar seperti tempat tinggal, seragam, buku dan fasilitas pendidikan disediakan secara gratis sebagai bagian dari program nasional pemerataan akses pendidikan.
Jadi Temuan Anggota DPR
Baca juga: Bukan Sekadar Klinik Hewan, Puskeswan Jadi Mesin PAD Baru Kota Cirebon
“Kami meninjau sarana dan fasilitas Sekolah Rakyat di Kota Cirebon,” ujar Selly kepada media.
Legislator dari Daerah Pemilihan Jawa Barat VIII yang meliputi Kota dan Kabupaten Cirebon serta Indramayu itu mengaku prihatin karena kondisi di lapangan dinilai belum sepenuhnya selaras dengan visi Presiden Prabowo Subianto, baik dari sisi aturan maupun pelaksanaan Standar Operasional Prosedur (SOP).
“Ada beberapa catatan yang harusnya bisa ditingkatkan serta dilengkapi,” ucapnya.
Sekolah Rakyat tersebut beroperasi di kompleks SMP Negeri 18 Kota Cirebon, Jalan Pronggol, Kelurahan Pegambiran, Kecamatan Lemahwungkuk.
Saat mengecek asrama, Selly menemukan ranjang bertingkat dengan kondisi besi yang tampak penyok dan dinilai berpotensi membahayakan siswa.
“Saat saya mengecek kamar, saya lihat kondisi ranjang dengan besi yang penyok. Saya khawatir ranjang tingkat itu tidak kokoh hingga menimpa anak di bawah,” jelasnya.
Tak hanya itu, keterbatasan kamar mandi juga menjadi perhatian.
Dari sekitar 100 siswa tingkat SD dan SMP yang tinggal di asrama, hanya tersedia tiga kamar mandi yang digunakan bersama oleh siswa laki-laki dan perempuan.
“Guru di sana bercerita anak-anak harus mengantri mandi sejak pukul 3 pagi,” katanya.
Seluruh temuan tersebut, lanjut Selly, akan dibawanya dalam Rapat Dengar Pendapat Umum (RDPU) bersama Kementerian Sosial untuk ditindaklanjuti.
“Semua temuan itu akan saya sampaikan saat RDPU dengan Kemensos. Bagaimanapun perbaikan yang ada akan saya kawal untuk masyarakat Kota Cirebon lebih baik,” ujarnya. (*)