Awal Puasa di Arab Saudi dan Penyebab Ramadan 2026 di Indonesia Berpotensi Jatuh 19 Februari
Sarah Elnyora Rumaropen February 15, 2026 09:35 AM

SURYAMALANG.COM, - Kerajaan Arab Saudi bersiap menggelar pemantauan hilal pada Selasa, (17/2/2026), untuk menentukan awal Ramadan 1447 H yang diprediksi berlangsung dalam suasana musim dingin. 

Di sisi lain, masyarakat Indonesia perlu bersiap menghadapi potensi perbedaan awal puasa.

Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) memproyeksikan awal Ramadan di tanah air berpeluang besar jatuh pada Kamis, 19 Februari 2026 karena beberapa sebab. 

Awal Puasa di Arab Saudi

Penentuan awal puasa di Arab Saudi dilakukan dengan pemantauan hilal atau rukyatul hilal secara langsung, yang dijadwalkan pada Selasa, 17 Februari 2026.

Berdasarkan laporan dari The Islamic Information, Mahkamah Agung Arab Saudi nantinya akan menyerukan kepada seluruh umat Muslim di wilayah Kerajaan untuk ikut serta memantau munculnya hilal pada Selasa petang.

Baca juga: 6 Bacaan Doa Menjelang Puasa Ramadan 2026, Mulai Sehari Sebelum Ramadan dan Saat Melihat Hilal

Jika hilal terlihat pada petang tersebut, maka malam itu akan menjadi malam pertama tarawih dan puasa dimulai keesokan harinya, yakni Rabu, 18 Februari 2026. 

Namun, apabila bulan tidak terlihat karena faktor cuaca atau posisi astronomis, maka bulan Sya'ban akan digenapkan menjadi 30 hari (istikmal), dan Ramadan akan dimulai pada Kamis, 19 Februari 2026.

Suasana Ramadan Musim Dingin di Arab Saudi

Ramadan 2026 diprediksi akan berlangsung dalam suasana musim dingin di Arab Saudi.

Hal ini memberikan durasi puasa yang sedikit lebih pendek dan cuaca yang lebih sejuk bagi para jemaah yang menjalankan ibadah umrah.

Pakar astronomi menyebutkan, posisi bulan pada Selasa 17 Februari mendatang kemungkinan besar memungkinkan untuk dilihat menggunakan alat optik, meskipun kondisi atmosfer di lokasi pengamatan tetap memegang peranan kunci.

Proyeksi Awal Puasa dan Idul Fitri di Uni Emirat Arab

Sementara itu, Dewan Fatwa Uni Emirat Arab (UEA) mengumumkan bahwa Selasa, 20 Januari 2026, menandai dimulainya bulan Sya'ban.

Mengutip Middle East Briefing, bulan dalam kalender Islam berlangsung selama 29 atau 30 hari, tergantung pada pengamatan penampakan bulan.

Berdasarkan kerangka kerja ini, Ramadan di UEA diperkirakan akan dimulai pada hari Rabu, 18 Februari atau Kamis, 19 Februari 2026.

Baca juga: Skema Sekolah Ramadan 2026: Belajar Mandiri Mulai 18 Februari, Masuk Normal Kembali 30 Maret

Proyeksi astronomi saat ini cenderung mengarah pada hari Kamis, 19 Februari sebagai hari pertama puasa, meskipun hal ini masih bergantung pada pengamatan lokal.

Untuk Hari Raya Idul Fitri, UEA memproyeksikan jatuh antara pada tanggal 19 Maret dan 21 Maret 2026, tergantung pada awal dan lamanya Ramadan.

Rentang potensial ini penting untuk tenggat waktu proyek, periode pelaporan keuangan, dan perencanaan cuti terkait liburan di kantor-kantor regional di UEA, Arab Saudi, Qatar, Kuwait, Bahrain, dan Oman.

Penyebab Ramadan di Indonesia Berpotensi Jatuh 19 Februari

Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) telah memberikan gambaran awal terkait pelaksanaan ibadah puasa Ramadan tahun 2026.

Peneliti Senior Pusat Riset Antariksa BRIN, Prof. Thomas Djamaluddin, mengungkapkan adanya potensi perbedaan dalam penetapan awal Ramadan 1447 H di Indonesia.

Perbedaan ini terjadi akibat keberagaman kriteria yang digunakan oleh berbagai organisasi Islam dan pemerintah.

Melalui akun YouTube tdjamaluddin, Thomas menjelaskan bahwa 1 Ramadan 1447 H di Indonesia berpotensi jatuh pada Kamis, 19 Februari 2026.

Baca juga: Jangan Sampai Berlebihan, Segini Batas Aman Makan Kurma Saat Ramadan 2026

Thomas kemudian menerangkan penyebab mengapa awal Ramadan kemungkinan besar jatuh di hari Kamis tersebut.

Hal ini dikarenakan pada saat magrib tanggal 17 Februari 2026, posisi hilal di wilayah Asia Tenggara, termasuk Indonesia, belum memenuhi kriteria Menteri Agama Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, dan Singapura (MABIMS).

Menurut kriteria MABIMS sendiri, hilal baru dapat dinyatakan terlihat (imkanur rukyat) jika memiliki tinggi minimal 3 derajat dan elongasi 6,4 derajat secara geosentrik.

"Di wilayah Asia Tenggara, posisi hilal belum memenuhi kriteria tersebut. Dengan demikian, menurut kriteria MABIMS yang digunakan oleh pemerintah dan sebagian besar ormas Islam di Indonesia, 1 Ramadan 1447 kemungkinan besar akan jatuh pada hari Kamis, 19 Februari 2026," kata Thomas.

Perbandingan Kriteria MABIMS dan Kriteria Turki

Di sisi lain, terdapat ormas Islam yang menggunakan kriteria Turki dalam penetapan awal bulan Hijriah.

Kriteria ini memiliki standar yang berbeda, yakni tinggi hilal minimal 5 derajat dan elongasi 8 derajat.

Menariknya, pada tanggal 17 Februari 2026 tersebut, kriteria ini sudah terpenuhi di wilayah Amerika dan Alaska.

"Menurut kriteria Turki, jika di suatu wilayah di belahan bumi manapun kriteria tersebut terpenuhi, maka awal bulan sudah dimulai. Karena di Amerika dan Alaska sudah memenuhi syarat, maka menurut penganut kriteria ini, 1 Ramadan 1447 akan jatuh pada Rabu, 18 Februari 2026," tambah Thomas.

Baca juga: DAFTAR Amalan Baik Menyambut Puasa Ramadhan 2026 Sesuai Anjuran Ulama

Dengan adanya potensi perbedaan ini, Thomas kembali menekankan pentingnya sikap saling menghormati dan toleransi di tengah masyarakat. 

Thomas berharap, ulasan astronomi ini dapat memberikan pencerahan dan inspirasi bagi umat Muslim dalam mempersiapkan diri menyambut bulan suci Ramadan dengan tetap menjaga persatuan dan kebersamaan, terlepas dari perbedaan metode yang digunakan. 

Penetapan resmi awal Ramadan oleh pemerintah nantinya tetap akan menunggu hasil sidang isbat yang biasanya digelar oleh Kementerian Agama dengan mempertimbangkan hasil hisab dan rukyatul hilal di seluruh titik di Indonesia.

Potensi Awal Ramadan di Malaysia

Sementara itu di negara tetangga, Pemerintah Malaysia melalui Pejabat Pemegang Segel atau Mohor Kerajaan mengumumkan sidang isbat guna menentukan awal Ramadan akan digelar pada Selasa, 17 Februari 2026, dengan metode pencarian hilal.

Dikutip dari Bernama, pernyataan tersebut disampaikan Sekretariat Majelis Kerajaan Malaysia pada hari Kamis, (12/2/2026).

Adapun pihak pejabat pemegang segel atau mohor Kerajaan tersebut, telah menyetujui awal Ramadan akan ditentukan dengan menggunakan dua metode, yakni rukyat atau pengamatan visual, serta hisab atau perhitungan astronomi.

Melalui hasil sidang tersebut, nantinya Pemerintah Malaysia akan mengumumkan secara resmi awal pelaksanaan ibadah puasa pada Selasa malam mendatang melalui radio dan televisi.

Sejumlah komite akan berupaya memantau hilal di 29 lokasi di seluruh Malaysia termasuk Baitul Hilal, Gedung Sultan Ismail, Pontian di Johor; serta Kompleks Astronomi Al-Khawarizmi, Kampung Balik Batu, Tanjung Bidara di Melaka.

Baca juga: Jadwal Sidang Isbat Penetapan Awal Puasa 2026 1 Ramadhan 1447 H oleh Kementerian Agama

Sementara untuk wilayah Sabah, titik pengamatan meliputi Observatorium Al-Biruni (Tanjung Dumpil, Putatan), Menara Universiti Malaysia Sabah, dan Kampus Internasional Labuan.

Beberapa lokasi penting lainnya mencakup Bukit Tanjong Batu (Nenasi), Gunung Berincang (Cameron Highlands), Menara Kuantan 188 (Pahang), Menara Kuala Lumpur, Pusat Konvensi Internasional Putrajaya, serta Menara Pandang Masjid Al-Hussain (Kuala Perlis).

Berdasarkan prediksi astronomi global, konjungsi (ijtimak) bulan baru terjadi pada 17 Februari 2026 sekitar pukul 19:00 WIB.

Namun demikian, hilal diprediksi sulit terlihat di banyak wilayah Asia Tenggara pada hari itu karena posisi bulan yang rendah di ufuk barat dan waktu terbenamnya yang singkat setelah matahari.

Oleh karena itu, banyak prediksi menyebut, kemungkinan awal Ramadan jatuh pada Kamis, 19 Februari 2026.

Jika hilal tidak terlihat pada 17 Februari, maka 18 Februari akan menjadi 30 Sya'ban. Namun, keputusan final tetap bergantung pada hasil rukyat aktual di Malaysia.

(Tribunnews.com/Tribunnews.com)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.