Kisah Jimmy Nasroen Dirikan Ponpes Fatimah Azzahra Tanjung Selor, Dorong Kampung Bahasa Mandarin
Amiruddin February 15, 2026 12:14 PM

 

TRIBUNKALTARA.COM, TANJUNG SELOR – Jalan menuju Desa Gunungsari, Kilometer 12, Tanjung Selor, Kabupaten Bulungan, Provinsi Kalimantan Utara ( Kaltara), tampak lengang.

Di kawasan yang dikelilingi pepohonan dan jauh dari hiruk pikuk pusat kota itulah berdiri Pondok Pesantren Fatimah Azzahra, lembaga pendidikan yang telah mencetak generasi muda selama hampir satu dekade terakhir.

Pesantren yang berdiri sejak 2016 itu, kini menaungi hampir 100 santri dan santriwati dari berbagai wilayah di Kaltara.

Di balik berdirinya pondok tersebut, ada sosok sederhana yang akrab disapa Abah oleh para santri bernama Jimmy Nasroen.

Pria kelahiran Tanjung Selor itu mengisahkan, perjalanan hidupnya tak lepas dari dinamika pendidikan di pedalaman.

Masa kecilnya dihabiskan di Desa Long Beluah, Hulu Sungai Kayan.

Pendidikan dasar hingga menengah pertama ditempuh di kampung halaman, sebelum melanjutkan SMA di Tanjung Selor dan kemudian merantau ke Samarinda.

“Kalau di pondok, saya biasa dipanggil Abah atau Abah Guru,” ujarnya saat berbincang dengan salah satu awak TribunKaltara.com dalam sebuah podcast beberapa waktu lalu di Tanjung Selor.

Selain mengasuh pesantren, Jimmy juga berprofesi sebagai dosen di Universitas Kaltara, tepatnya di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik. 

 

Pendiri Ponpes Fatimah Azzahra, Jimmy Nasroen, saat berbincang dengan awak TribunKaltara.com
SOSOK JIMMY NASROEN - Pendiri Ponpes Fatimah Azzahra, Jimmy Nasroen, saat berbincang dengan awak TribunKaltara.com belum lama ini. Berikut ini kkisah Jimmy Nasroen saat mendirikan Ponpes Fatimah Azzahra Tanjung Selor, kini tengah mendorong Kampung Bahasa Mandarin. (TRIBUNKALTARA.COM/CHOIRIL)  (TRIBUNKALTARA.COM/CHOIRIL)

 

Baca juga: Maulid Akbar di Pesantren Alkhairaat Tanjung Selor Kaltara: Bukti Kecintaan yang Semakin Besar

 

Berangkat dari Keresahan

Gagasan mendirikan pesantren muncul saat ia kembali ke kampung halaman pada 2002–2003.

Ketika itu, belum banyak pondok pesantren berdiri di Kabupaten Bulungan.

Ia menginginkan adanya pendidikan berbasis asrama, khususnya bagi santri putri.

Awalnya, pesantren ini bernama Pondok Pesantren Putri Fatimah Azzahra.

Namun dalam perjalanannya, santri putra pun turut bergabung.

“Waktu pertama buka tahun 2016, santrinya sekitar 15 orang.

Sebagian besar anak transmigrasi dari Jawa Timur dan Jawa Tengah, ada juga dari Sekatak,” kenang Jimmy Nasroen

Perjalanan spiritual turut menguatkan niatnya.

Mendekati usia 40 tahun, Jimmy Nasroen mengaku mengalami proses pencarian jati diri.

Ia belajar kepada sejumlah kiai di Kalimantan Selatan dan Jawa Timur, termasuk kepada Ibnu Sulaiman di Kota Malang.

Dari para guru itulah, ia mendapat dorongan untuk membangun pesantren di wilayah Kaltara

Lokasi pesantren di Desa Gunungsari bukan tanpa alasan.

Awalnya, seorang sahabat menghibahkan lahan atas nama orang tuanya.

Namun karena letaknya cukup jauh, Jimmy Nasroen kemudian mengajukan permohonan hibah lahan kepada pemerintah desa.

Kini, lahan tersebut berstatus wakaf dan menjadi tempat berdirinya bangunan pesantren.

Selain pendidikan diniyah (madin), pesantren ini juga memiliki jenjang pendidikan formal SMP dan SMA. 

"Di pesantren kita juga ada pendidikan formal dari jenjang SMP hingga SMA," ucapnya.

Hingga kini, sudah lima angkatan SMA yang diluluskan.

Didukung sekitar dua belas guru, pesantren ini terus berkembang, baik dari sisi jumlah santri maupun fasilitas.

 

Membangun Karakter Generasi Muda

Bagi Abah Jimmy tantangan terbesar generasi muda saat ini bukan pada akses fasilitas, melainkan pada lemahnya spirit dan etos juang.

“Anak-anak sekarang fasilitas lengkap, tapi spirit ideologis dan jiwa petarungnya perlu dikuatkan,” ujarnya.

Ia mencontohkan bangsa-bangsa seperti Tiongkok, Jepang, dan Korea yang mampu menjadi bangsa besar karena etos kerja dan semangat perjuangan yang kuat.

Karena itu, Pondok Pesantren Fatimah Azzahra tak hanya fokus pada pendidikan agama.

Setiap bulan, pesantren membuka pasar rakyat untuk memberi ruang bagi warga sekitar berjualan.

"Kalau tentang etos kerja kita harus banyak belajar dari bangsa Tiongkok, Jepang dan Korea.

Mereka mampu menjadi bangsa besar karena etos dan semangat kerjanya luar biasa," sebutnya.

Meski berada di pinggiran kota, pesantren ini tak terpisah dari masyarakat sekitar.

Setiap bulan, halaman pondok berubah menjadi pasar rakyat.

Warga desa diberi ruang untuk berjualan, berinteraksi, dan memutar roda ekonomi.

Menariknya, kini di kawasan pesantren tidak hanya fokus pada gedung-gedung santri tetapi juga telah dikembangkan menjadi arboretum lembah bambu, tempat berbagai jenis kayu dan buah hutan Kalimantan ditanam sebagai sarana edukasi.

Santri belajar mengenal alam, sementara masyarakat dapat memanfaatkannya sebagai ruang pembelajaran terbuka.

“Pesantren ini bukan hanya tempat belajar agama, tapi juga tempat membangun peradaban kecil,” ucapnya.

 

Dorong Kampung Bahasa Mandarin

Sebagai salah satu pesantren yang terus cakap dengan perubahan zaman dan kondisi sekitar.

Kini pesantren ini juga mulai mendorong program kampung bahasa Mandarin.

Menurut Jimmy Nasroen, penguatan bahasa asing penting untuk menyiapkan sumber daya manusia lokal menghadapi perkembangan kawasan industri di Bulungan.

Pasalnya di wilayah Tanjung Palas Timur tepatnya Desa Mangkupadi kini menjadi kawasan proyek strategis nasional (PSN) yang dinilai akan membuka banyak peluang kerja.

“Bahasa menjadi salah satu kunci agar anak-anak kita bisa berkarier lebih baik, apalagi dengan investasi dari luar negeri,” katanya.

Meski berada di pinggiran kota, Jimmy berharap pesantren yang dipimpinnya mendapat dukungan lebih luas, baik dari masyarakat maupun pemerintah daerah.

“Walaupun terlihat jauh, ini masih wilayah Tanjung Selor.

Kami ingin pondok ini menjadi pusat pembinaan karakter dan peningkatan kualitas SDM di Bulungan,” tuturnya.

Dari sebuah niat dan pencarian jati diri, kini Pondok Pesantren Fatimah Azzahra tumbuh menjadi ruang harapan bagi generasi muda di Kalimantan Utara.

(*)

Penulis : Desi Kartika

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.