BOP: Pertemuan Prabowo-Trump dan Ancaman Ilusi Dunia
Glery Lazuardi February 15, 2026 12:38 PM
profile tribunners
PROFIL PENULIS
Dr. Eko Wahyuanto
Penulis adalah Pengamat Kebijakan Publik

DUNIA saat ini bukan lagi orkestra harmoni, tapi rimba raya, dikepung berbagai kepentingan. Berlin memberi sinyal, tatanan berbasis aturan (rules-based order) sudah tamat. Setiap bangsa harus mempersenjatai dirinya sendiri.

Realisme geopolitik kembali ke titik nol, teori homo homini lupus, “manusia serigala bagi sesama”, semakin tak terhindarkan.

​Presiden Prabowo Subianto membaca realitas ini. Lawatan ke Washington pekan depan bukan kunjungan “pengibaan” ke Amerika, sebab posisi  diplomasi Indonesia setara. Baginya, nilai tawar negara bukan hasil rekayasa di balik meja perundingan, melainkan kekuatan diplomasi dari kokohnya kedaulatan domestik. 

“Berkali-kali presiden menegaskan, Indonesia sudah berhenti mengekor. Kita pemain kunci pada titik koordinat sendiri.”

​Diplomasi Parang

​Presiden Prabowo memperkenalkan "Diplomasi Parang". Bukan ancaman fisik, tetapi simbol instrumen fungsional. Penebas semak belukar gangguan global penjerat leher ekonomi. Fokus utama pada keterlibatan Balance of Payments (BOP). Untuk neraca pembayaran lebih sehat.

​Puluhan tahun BOP Indonesia didikte pasar global tidak adil. Indonesia dikunci sebagai penyedia bahan mentah murah, sekaligus pasar bagi produk mereka. Ideologi Prabowo tegas, permainan eksploitatif ini harus dihentikan. 

BOP bukan soal urusan teknokratik bank sentral, melainkan marwah kedaulatan ekonomi. Jika neraca pembayaran rapuh membuat kebijakan nasional mudah disetir asing. 

Ketergantungan utang luar negeri harus dijaga untuk menutup celah intervensi. Sebab Indonesia negara berdaulat, memiliki ketahanan ekonomi mandiri.

​“Diplomasi Parang” memastikan arus modal internasional memberi nilai tambah rakyat. Ekspor tinggi tak bermakna jika isinya hanya tanah batu kerukan perut bumi. Prabowo mewajibkan industri pengolahan hilir, menjadi sumber penghidupan rakyat, mensejahterakan buruh lokal, bukan mempercantik angka perdagangan negara lain.

​Jihad Hilirisasi

​Logika nilai Rupiah sederhana, uang keluar lebih banyak dari masuk, maka rupiah ambruk. Dampaknya harga barang impor melonjak. rakyat susah. Hilirisasi adalah kunci, agar tidak menjual bahan mentah baterai murah, lalu membeli kembali bentuk baterai mahal. Bangsa tekor.

​Lewat hilirisasi, uang masuk kantong Indonesia jauh lebih besar. Belum lagi ditopang iklim BOP sehat, Rupiah akan menguat. Indonesia punya nyali untuk mengatakan "Tidak" pada kebijakan global merugikan. Berdiri tegak tanpa meminta investasi bermotif mencekik.

​Konstruksi gagasan ini didukung kekuatan moral NU, Muhammadiyah dan MUI. Bukan sekadar transaksi dagang tanpa strategi, tetapi ini “Jihad Kedaulatan". Filosofisnya: kekayaan alam amanah Tuhan—hifzhul maal. Harta bangsa dilarang diserahkan mentah-mentah kepada predator global. Masukan ulama ini memperkuat legitimasi batin Presiden sebelum ke Washington. 

Hilirisasi itu sebuah kewajiban etis. Memutus mata rantai kemiskinan akut dan sistemik. Maka bersandar pada mandat spiritual jutaan rakyat sebuah kebijakan strategis. Keadilan ekonomi harga mati bagi martabat manusia.

​Strategi dan Mitigasi 

​Prabowo menerapkan strategi Double-Track Diplomacy. Tegas pada prinsip, fleksibel pada metode, tidak menggunakan bahasa "memohon", tetapi bahasa "kepentingan bersama". 

Kepada Trump, harus bicara tegas, dalam bahasa transaksi saling menguntungkan (win-win). Indonesia bukan ancaman bagi Amerika, tapi juga bukan “predikat penderita” bagi perekonomian mereka.

Kebijakan publik harus menekankan posisi Indonesia sebagai jembatan emas Indo-Pasifik. Posisi paling strategis bagi kepentingan Barat - Timur.

​Menghadapi ancaman tarif Trump (universal tariff), ada tiga lapis benteng perlindungan. Pertama; Akselerasi Pasar Non-Tradisional dengan membuka akses luas ke Asia Tengah, Afrika, Amerika Latin. Dalam waktu bersamaan mengantisipasi pasar AS jika sewaktu-waktu terjadi kontraksi.

Kedua; Penguatan Konsumsi Domestik, memastikan industri hilir memiliki pasar dalam negeri kuat. Tidak bergantung 100 persen pada ekspor. Ketiga; Resiprositas Tarif, pada saat itu “Diplomasi Parang” bekerja jika tarif ditekan, Indonesia punya instrumen serupa untuk melindungi industri nasional.

​Jembatan Indo-Pasifik

​Indonesia tetap memegang prinsip bertetangga baik. Teman bagi Amerika. Mitra bagi China. Sahabat bagi Rusia. Keramahan bukan kelemahan. Saat kekuatan global memakai hambatan tarif atau tekanan moneter mengerdilkan kita, "Parang" diplomasi dihunus.

​Dunia sedang mempersenjatai diri. Jerman mulai berteriak. Indonesia sudah melangkah lewat hilirisasi. Kita tidak ingin dunia dipenuhi konflik. Tetapi Indonesia tidak boleh menjadi  mangsa bagi kepentingan mereka.

Risalah Kedaulatan

“Indonesia sekarang bukan bangsa yang bisa digertak dengan selembar kertas nota diplomatik.”

​Lawatan ke Washington membawa risalah kedaulatan. Prabowo hadir bukan hanya sebagai presiden Indonesia tetapi juga pemimpin kawasan Asia Tenggara,  sebuah pusaran kekuatan besar yang juga membawa "Parang" kedaulatan.

Maka tegas dalam prinsip perdamaian, kokoh dalam ketahanan ekonomi domestik adalah kunci. Indonesia tidak boleh didikte janji manis diplomatik. Kekuatan hilirisasi sedang tumbuh menjamin napas ekonomi di atas tanah sendiri. 

Indonesia akan menjadi kawan setia jika dihargai, sebaliknya  menjelma menjadi mitra tangguh jika ditekan.

​Presiden Prabowo datang bukan untuk meminta, tapi menawarkan kemitraan setara. Hilirisasi adalah harga mati kedaulatan, bukan ruang negosiasi. Indonesia telah menentukan sikap, menjadi raksasa yang “memantaskan diri”, mandiri tak bisa digertak nota diplomatik. 

Di Washington, "Parang" kedaulatan dihunus, tegas menjaga marwah bangsa, konsisten membela kepentingan rakyat di atas tanah sendiri.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.