Laporan Wartawan TribunPapuaTengah.com, Calvin Louis Erari
TRIBUN-PAPUA.COM, KEEROM - Persatuan Karya Dharma Kesehatan Indonesia (Perdhaki) melalui Sub Sub Recipient (SSR) Dekenat Keerom 2 mengawali langkah proaktif di tahun 2026 dengan memperkuat kesadaran kesehatan masyarakat.
Langkah ini diwujudkan melalui diskusi terbuka yang digelar bersama warga Kampung Pyawi, Distrik Mannem, Kabupaten Keerom, Provinsi Papua.
Baca juga: Targetkan 1 Juta Pemeriksaan, Kasus Postif Malaria di Kabupaten Jayapura Terus Melonjak
Distrik Mannem adalah salah satu distrik di Kabupaten Keerom, Provinsi Papua, yang terdiri dari beberapa kampung, antara lain Yamara, Pyawi, Sawyatami, Wambes, Uskwar, dan Wonorejo (Pir IV).
Wilayah ini berfokus pada pengembangan pertanian dan perdesaan serta memiliki potensi sumber air dari Kampung Wambes.
Warga di Distrik Mannem masih menghadapi kendala terbatasnya infrastruktur air bersih, dengan pemanfaatan air hujan dan sumur, serta potensi mata air dari Kampung Wambes yang potensial.
Adapun jarak dari kampung ini ke ibu kota Kabupaten Keerom, Provinsi Papua sejauh 19 kilometer dengan akses jalan yang beraspal.
Baca juga: Identik Malaria Namun Kasus ISPA Justru Dominan di Distrik Mimika Tengah
Sementara dalam diskusi yang dipusatkan di balai kampung itu, bukan sekadar pertemuan formal, melainkan ruang dialogis untuk membedah persoalan kesehatan lokal.
Fokus utama dalam diskusi ini mendorong perubahan perilaku hidup sehat di tengah masyarakat guna memutus mata rantai penularan penyakit endemik, terutama malaria.
Baca juga: Dinkes Mimika Gencarkan 2 Juta Tes Malaria di Tahun 2026
Kepala Kampung Pyawi, Yanuarius Puaga mengatakan, apresiasi mendalam kepada Perdhaki atas inisiasi kegiatan tersebut.
Menurut dia, pemahaman warga mengenai risiko kesehatan masih perlu ditingkatkan agar mereka tidak lagi menganggap remeh gejala-gejala penyakit.
"Warga memang sangat membutuhkan sosialisasi berkelanjutan seperti ini. Edukasi adalah langkah awal yang paling krusial supaya masyarakat tidak mudah terpapar malaria," ujar Yanuarius Puaga kepada Tribun-Papua.com, Minggu (15/2/2026).
Baca juga: Peneliti Dari Universitas Oxford Dorong Penggunaan Drone Untuk Deteksi Malaria di Papua
Yanuarius Puaga memaparkan kondisi geografis Kampung Pyawi yang didominasi oleh kawasan hutan dan rawa sagu.
Kondisi lingkungan yang lembab itu, secara alami menjadi tempat perkembangbiakan nyamuk Anopheles yang sangat ideal.
Oleh karena itu, menjaga kebersihan lingkungan dan memahami bahaya malaria menjadi harga mati bagi warga setempat.
Dia pun menegaskan dukungannya terhadap program percepatan eliminasi malaria yang dicanangkan oleh Pemerintah, Perdhaki dan Dinas Kesehatan.
Menurut dia, kehadiran kader malaria di tingkat kampung sangat membantu pemantauan kondisi kesehatan warga secara langsung.
“Mengingat ada beberapa sumber rawa sagu di sekitar pemukiman, saya selaku kepala kampung siap mendukung penuh program ini. Kami sangat terbuka dan senang jika program kesehatan masuk secara intensif ke kampung kami,” katanya.
Baca juga: Jumlah Penderita Malaria di Kabupaten Jayapura Tembus 41.191 Kasus
Senada dengan Relawan Eliminasi Malaria (REM) dari SSR Dekenat Keerom 2 Giovanus Suhardi bahwa, kunci keberhasilan program ini terletak pada partisipasi aktif masyarakat.
Dia berharap, kiranya diskusi ini dapat memicu kesadaran kolektif untuk menerapkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) dalam keseharian.
Baca juga: Kasus Malaria di Papua Tengah Harus Ditangani Bersama
"Kami berharap melalui kegiatan ini, masyarakat tidak hanya menjadi objek program, tetapi subjek yang terlibat aktif dalam pencegahan. Mulai dari penggunaan kelambu hingga menjaga kebersihan sanitasi di sekitar rumah," Ujarnya Giovanus.
Giovanus berharap, melalui kolaborasi antara perangkat kampung, relawan, dan lembaga kesehatan, Kampung Pyawi dapat mampu menekan kasus malaria secara signifikan.
"Semoga kedepan kampung ini menjadi contoh bagi kampung-kampung lain di Keerom," pungkasnya. (*)