TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG — Meriam Bellina menjalani syuting film Titip Bunda di Surga-Mu dengan setting tempat Semarang dan Bandungan dengan pengalaman yang ia sebut tak sekadar bekerja.
Mariam merasakan Kota Semarang memiliki atmosfer yang berbeda, selama menjalani syuting dia merasa seperti hidup bersama keluarga sendiri.
Baca juga: Jelang Final Liga 4 Jateng Persak dan Persibangga Komitmen Jaga Sportivitas
Baca juga: 10 Guru Besar UIN Walisongo Serukan Cinta Negeri dan Kemanusiaan di Era Disrupsi demi Indonesia Maju
Berperan sebagai ibu yang menjadi pusat keluarga, Meriam mengaku suasana kota, keramahan warga, hingga ritme syuting yang hangat membuat emosinya mudah menyatu dengan karakter yang ia mainkan.
“Syutingnya berasa kayak piknik keluarga,” ujar Meriam sambil tertawa di XXI Ciputra, Sabtu (14/2/2026) malam.
Di sela pengambilan gambar di Simpang Lima dan juga di Bandungan yang udaranya sejuk, ia mengaku sering keluyuran untuk menyapa masyarakat.
"Saya naik andong, makan jajanan, saya juga antri tahu susu juga sampai 45 menit bayangkan terus iseng menyapa warga yang sedang live media sosial di alun-alun (Bandungan),” tuturnya.
Pengalaman itu, katanya, bikin peran bundanya terasa hidup hangat, dekat, dan sangat manusiawi.
Rekomendasi Film Ramadan
Film Titip Bunda di Surga-Mu sendiri bercerita tentang keluarga sederhana penjual soto, yang awalnya tampak aman-aman saja.
Namun perubahan zaman, mimpi anak-anak, dan komunikasi yang mulai retak pelan-pelan menghadirkan konflik.
Di titik itulah sosok ibu menjadi poros: pengikat, penenang, sekaligus korban dari sunyinya jarak emosional.
Bagi Ikang Fawzi, cerita ini terasa dekat dengan realitas banyak keluarga.
“Kita sering merasa keluarga kita baik-baik saja. Padahal, setiap keluarga pasti punya masalah, terutama soal komunikasi,” tuturnya.
Ikang menyebut perubahan sebagai satu-satunya hal yang pasti anak tumbuh, dunia luar masuk, dan rumah tak lagi sesederhana dulu.
Drama keluarga, katanya, lahir dari situ.
Proses syuting film ini berlangsung sekitar 18 hari, mengambil lokasi di Semarang dan Bandungan.
Menurut Ikang, chemistry antar pemain terbangun alami.
“Rasanya kayak keluarga asli. Semua saling jaga, saling dengar,” ujarnya.
Cerita film ini juga punya lapisan personal dari sang penulis sekaligus produser, Dono Indarto.
Ia menyebut naskah ini sebagai “surat cinta” untuk ibunya.
“Ini pengingat bahwa cinta ibu sering kita anggap abadi, padahal waktu selalu berjalan,” ucapnya saat rangkaian roadshow.
Usai gala premiere di Jakarta, film ini menyapa penonton Jawa Tengah lewat special screening di Semarang, Pekalongan.
Respons penonton terasa emosional. Tangis muncul, pelukan dibayangkan. Ada yang mengaku langsung ingin pulang dan memeluk ibu.
Menjelang Ramadan, film ini datang seperti jeda yang menenangkan bukan dengan ceramah, tapi lewat drama yang pelan dan jujur.
Tentang keluarga yang retak bukan karena benci, melainkan karena lupa bicara. Tentang ibu yang sering kita titipi segalanya, termasuk kesabaran. (Rad)