Bekap Anak Pakai Bantal Hingga Tewas, Ibu Lampiaskan Kesal Gegara Suami, Terjadi Kala Korban Rewel
Murhan February 15, 2026 02:52 PM

BANJARMASINPOST.CO.ID - Kisah seorang ibu membunuh anaknya kembali terjadi. Kini, seorang ibu membekap anaknya dengan bantal hingga tewas.

Peristiwa ini terjadi di sebuah kontrakan di Jalan Pelabuhan Kelurahan Sukamelang Subang, Jum'at (13/2/2026) terungkap. 

Menurut Kapolres Subang AKBP Dony Eko Wicaksono, melalui Kanit PPA Aiptu Nenden Nur Fatimah, berdasarkan hasil pemeriksaan terhadap pelaku yang juga ibu korban, kejadian bermula dari rasa kesal pelaku ke suami korban.

Adanya rasa kesal itu tak sengaja ia lampiaskan ke anaknya hingga meninggal.

"Saat itu pelaku atau ibu korban KN (29) baru saja bertengkar di telepon dengan suaminya yang saat ini bekerja di Cirebon. Pertengkaran tersebut sering terjadi di kehidupan pasutri tersebut," kata Nenden, saat dihubungi Kompas.com, Minggu (15/2/2026) siang.

Baca juga: Bu Polwan Bunuh Suami yang Juga Polisi, Briptu Rizka Ucap Ini pada Anaknya yang Saksikan Aksi Sadis

Pelaku sering bertengkar dengan Suaminya

Menurutnya, saat pertengkaran via telepon di hari Jumat itu, anaknya sedang rewel dan menangis. 

Tanpa sengaja, mulut korban MA (6) dibekap pelaku dengan bantal agar diam dan tidak rewel.

Namun bekapan tersebut ternyata berujung maut.

"Jadi pelaku saat itu lagi bertengkar dengan suaminya via telepon selular, tiba-tiba korban menangis hingga ibu korban kesal dan akhirnya membekap mulut menggunakan bantal hingga menyebabkan korban tewas kehabisan napas," katanya.

Lanjut Nenden, setelah korban meninggal, pelaku membawa korban ke tempat tidur untuk ditidurkan seperti layaknya anak kecil tidur.

"Korban ditidurkan oleh pelaku sedang memeluk guling, padahal posisinya sudah meninggal," ucapnya.

Kemudian pelaku pergi ke Polsek Subang untuk melaporkan kejadian tersebut dan mengaku dirinya telah membunuh anaknya secara tidak sengaja.

"Jajaran Polsek Subang saat itu langsung menuju TKP untuk memastikan kebenaran informasi dari ibu korban tersebut dan ternyata benar, korban sudah ditemukan dalam keadaan meninggal ditidurkan di kasur sambil memeluk guling," katanya.

Saat peristiwa maut tersebut terjadi, pelaku hanya tinggal bersama ketiga anaknya termasuk korban, sementara suaminya bekerja di Cirebon.

"Pelaku hanya tinggal bersama ketiga anaknya yang masih kecil, anak pertama usia 7 tahun, anak kedua atau korban (MA) usia 6 tahun, dan anak ketiga usia 5 tahun," ungkapnya.

Korban Memiliki Keterbelakangan Mental

Berdasarkan keterangan pelaku, korban atau anaknya yang kedua tersebut memiliki keterbelakangan mental.

"Korban MA ini mengalami keterbelakangan mental atau autis sejak usia 2 tahun," katanya.

Akibat perbuatannya, kata Nenden pelaku KN (29) terancam Pasal 458 ayat (1) dan (2) KUHP tentang pembunuhan juncto Pasal 44 ayat (3) UU No. 23 Tahun 2004 tentang Pelaku KDRT.

"Ancaman pidananya penjara maksimal 15 tahun atau denda maksimal Rp 45 juta bagi pelaku kekerasan fisik dalam rumah tangga yang mengakibatkan korban meninggal dunia," pungkasnya.

Mendampingi Anak Disabilitas

Kesadaran orangtua terhadap kondisi anak dengan disabilitas adalah langkah pertama yang krusial dalam mendukung tumbuh kembang mereka.

Meskipun tantangan yang dihadapi sering kali terasa berat, penerimaan keluarga menjadi kunci utama agar anak-anak ini dapat berkembang dengan optimal.

Menurut dr. Agung Priambodo Kusumo, Sp.K.F.R, spesialis fisiatri dari Rumah Sakit Sardjito, pendampingan anak disabilitas harus dimulai dari rumah, dengan perhatian dan pemahaman yang tepat sejak dini.

"Penerimaan dari keluarga adalah kunci utama. Jika orangtua bisa menerima kondisi anak dengan segala keterbatasannya, anak pun akan merasakan dukungan yang kuat untuk berkembang," ujarnya dalam talkshow Instagram Kementerian Kesehatan RI, Rabu (3/12/2025).

Kesadaran dimulai dari rumah

Agung menjelaskan bahwa peran orangtua sangat penting dalam mendampingi anak dengan disabilitas.

Langkah pertama yang harus dilakukan orangtua adalah melakukan skrining dini selama masa kehamilan dan pasca-persalinan.

Skrining ini membantu mendeteksi potensi gangguan sejak dini, sehingga perawatan dan terapi bisa segera dilakukan jika diperlukan.

Pemeriksaan secara rutin juga harus dilakukan setelah kelahiran untuk memantau perkembangan fisik dan kognitif anak.

"Kami sangat menganjurkan orangtua untuk segera melakukan pemeriksaan jika melihat ada keterlambatan dalam gerakan atau perkembangan motorik anak," lanjut Agung.

Perhatian khusus pada dua tahun pertama kehidupan anak sangatlah penting, karena pada periode ini terjadi perkembangan otak yang pesat, yang dapat memengaruhi kemampuan motorik dan sensorik anak.

Penerimaan keluarga

Penerimaan dari keluarga adalah fondasi yang sangat menentukan dalam mendampingi anak-anak dengan disabilitas.

Ia menekankan bahwa banyak orangtua yang mengalami denial atau penolakan saat mengetahui bahwa anak mereka memiliki disabilitas.

Padahal, penerimaan orangtua adalah langkah pertama untuk memberikan dukungan emosional yang dibutuhkan anak untuk berkembang.

“Denial hanya akan memperburuk keadaan. orangtua yang menerima kenyataan akan lebih siap untuk memberikan dukungan yang optimal kepada anak,” jelasnya.

Selain itu, keterlibatan keluarga besar juga sangat penting. Keluarga yang lebih luas perlu diberikan pemahaman mengenai disabilitas agar mereka dapat memberikan dukungan yang sesuai dengan kebutuhan anak.

Tanpa dukungan dari keluarga, anak dengan disabilitas akan kesulitan untuk berkembang sesuai dengan potensinya.

Peran komunitas dan teknologi

Dukungan orangtua tidak hanya datang dari keluarga, tetapi juga dari komunitas disabilitas.

Agung menyarankan agar orangtua bergabung dengan komunitas disabilitas untuk saling berbagi pengalaman, informasi tentang terapi, serta alat bantu yang dibutuhkan anak.

“Komunitas sangat membantu dalam memberikan informasi terkait terapi, alat bantu, dan juga dukungan moral. orangtua yang memiliki anak dengan disabilitas akan merasa tidak sendirian,” katanya.

Selain itu, di era digital ini, teknologi juga memainkan peran penting dalam meningkatkan kesadaran dan memberikan akses kepada orangtua mengenai perkembangan terbaru tentang perawatan anak disabilitas.

Namun, meskipun teknologi sangat berguna, ia mengingatkan bahwa interaksi langsung dengan tenaga medis tetap penting untuk mendapatkan pendampingan yang lebih personal.

Hari Disabilitas Internasional bukan hanya sekadar perayaan, tetapi juga pengingat bahwa anak-anak dengan disabilitas berhak untuk mendapatkan kesempatan yang setara dalam hidup.

Agung menegaskan bahwa kesadaran mengenai disabilitas harus dimulai dari rumah dan terus berkembang di masyarakat.

“Mari kita mulai dari rumah, dari keluarga, dan menciptakan lingkungan yang inklusif bagi mereka,” ujarnya.

(Banjarmasinpost.co.id/Kompas.com)

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.