Yu Beruk Tutup Usia, Tinggalkan Warisan Humor dan Keteguhan di Dunia Seni Ketoprak Yogyakarta
Eko Sutriyanto February 15, 2026 03:38 PM

TRIBUNNEWS.COM, YOGYAKARTA – Dunia seni tradisi Yogyakarta berduka atas kepergian Suminingsih Yuningish, yang lebih dikenal dengan sapaan Yu Beruk.

Seniman ketoprak legendaris, Sabtu pagi (14/2/2026) pukul 08.00 WIB di RSUP Dr Sardjito, Yogyakarta, pada usia 76 tahun.

Kesehatan Yu Beruk menurun drastis sepuluh hari sebelum wafat, setelah menjalani ritual ngapem, membuat kue apem sebagai simbol permohonan ampunan.

Putrinya, Lisa Pawestriningsih, menceritakan kondisi terakhir sang ibu.

“Ibu sempat sakit dan sesak napas setelah ngapem. Dua hari kemudian, kondisinya ambruk, dan kami langsung membawanya ke rumah sakit,” katanya.

Ia menambahkan, Yu Beruk sempat dirawat di RS PKU Muhammadiyah dan menunjukkan tanda-tanda pemulihan, namun komplikasi infeksi pada usia lanjut memaksa rujukan ke RSUP Dr Sardjito, hingga akhirnya ia meninggal dunia.

Baca juga: Bamsoet Apresiasi Pagelaran Ketoprak Retno Kencana Mantan Panglima TNI Yudo Margono

Warisan Keluarga dan Seni

Yu Beruk meninggalkan tujuh anak dan dikenang sebagai sosok yang kuat, disiplin, dan berdedikasi tinggi pada seni.

Ulang tahunnya yang ke-76 pada Januari 2026 menjadi momen emosional terakhir, diwarnai tari Gambyong dan tawa sahabat serta seniman muda, yang kini menjadi kenangan abadi bagi keluarga dan komunitas seni Yogyakarta.

Jenazah disemayamkan di Sanggar Busana Nawangsih sebelum dimakamkan di Makam Dongkelan, meninggalkan warisan abadi bagi dunia ketoprak dan karawitan Yogyakarta.

Maestro Komedi Spontan

Yu Beruk dikenal sebagai maestro komedi spontan berbahasa Jawa, bukan pelawak naskah.

Lewat karakter “Yu Beruk” di program Angkringan TVRI Yogyakarta dan “Mbangun Deso”, ia menghadirkan humor rakyat yang membumi, sederhana, namun sarat pesan sosial.

Kontribusinya di dunia seni diakui secara resmi melalui Anugerah Budaya dari Gubernur DIY pada 2019, penghargaan yang mencerminkan dedikasinya dalam melestarikan seni tradisi Yogyakarta.

Rekan panggung sekaligus sahabatnya, Susilo Nugroho atau Den Baguse Ngarso, mengenang Yu Beruk bukan sekadar pelawak, melainkan pribadi yang profesional dan rela menutupi kondisi demi kebaikan orang lain.

Susilo menceritakan pengalaman ketika Yu Beruk tampil kurang prima karena lawakannya hambar, timing komedi meleset, dan penonton tak tergelitik. 

Baca juga: Ayu Azhari Ketagihan Usai Ikut Main Ketoprak Damarwulan feat. Minak Jinggo, Senang Bareng Mahfud MD

Ia sempat kecewa, namun belakangan mengetahui bahwa saat itu Yu Beruk baru menjalani pengobatan. 

 “Ternyata beliau habis pengobatan, kondisi fisiknya lemah, tapi tetap tampil. Wah, keliru gede. Aku salah besar,” kenang Susilo.

Peristiwa itu menyingkap karakter Yu Beruk: memilih menyembunyikan rapuhnya raga demi menuntaskan kewajiban. 

Kehormatan dari Keraton Yogyakarta

GKR Hemas, anggota DPD RI sekaligus Permaisuri Keraton Yogyakarta, bersama GKBRAA Paku Alam, melayat ke rumah duka di Sanggar Busana Nawangsih, Mantrijeron.

Kehadiran mereka menjadi bentuk penghormatan atas pengabdian Yu Beruk dalam melestarikan seni ketoprak.

“Hari ini Yogyakarta kehilangan sosok seniman ketoprak senior. Semoga segala amal kebaikan beliau diterima Tuhan Yang Maha Esa dan ditempatkan di sisi-Nya.”

Penyanyi dan seniman Soimah Pancawati mengenang awal pertemuannya dengan Yu Beruk sekitar tahun 1995.

“Mbok Beruk bukan hanya senior, tapi saya sudah menganggapnya sebagai ibu. Banyak belajar, banyak ilmu yang saya dapat dari Mbok Beruk.”

Kepergian Yu Beruk meninggalkan jejak mendalam tidak hanya di panggung ketoprak dan karawitan, tetapi juga di hati para murid, sahabat, dan komunitas seni yang selama ini menimba ilmu dari sosoknya.

Warisan humor, keteguhan, dan dedikasinya akan terus dikenang sebagai bagian penting budaya Yogyakarta. (Tribun Jogja/Hanif Suryo)

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.