TRIBUNJATIM.COM, JOMBANG - Tanggal kelahiran Presiden pertama Republik Indonesia, Soekarno, yakni 6 Juni 1902, kembali dipastikan berkat temuan sejumlah arsip resmi.
Penelusuran dokumen pendidikan dan catatan keluarga yang dilakukan sejarawan asal Jombang, Binhad Nurrohmat, mengungkap kepastian tersebut.
Sejarawan asal Jombang tersebut megungkap dokumen lawas yang memuat Bung Karno lahir 6 Juni 1902.
Baca juga: Anak Tukang Becak Penderita Epilepsi Digolongkan Sejahtera, Ibu Bolak-balik Urus Reaktivasi BPJS PBI
Binhad menyebut, salah satu sumber paling awal yang memuat data tersebut terdapat dalam Buku Induk Mahasiswa Technische Hoogeschool te Bandoeng (THS) tahun 1921 silam.
Kampus teknik tersebut kini dikenal sebagai Institut Teknologi Bandung (ITB).
Dalam arsip tersebut, tercantum nama Raden Soekarno dengan keterangan lahir 6 Juni 1902 di Surabaya.
Menurut Binhad, penulisan Surabaya tidak bisa dilepaskan dari sistem administrasi pemerintahan kolonial saat itu.
"Di buku induk THS tahun 1921 tertulis jelas Raden Soekarno lahir 6 Juni 1902 di Surabaya. Itu dokumen resmi pendidikan, bukan cerita lisan," ucap Binhad saat dikonfirmasi terpisah oleh TribunJatim.com pada Sabtu (14/2/2026).
Ia menjelaskan, Ploso tempat ayah Soekarno bertugas pada masa itu masih berada dalam wilayah Karesidenan Surabaya.
Karena itu, pencatatan Surabaya dinilai wajar secara administratif.
"Secara wilayah pemerintahan, Ploso masuk Karesidenan Surabaya. Jadi kalau ditulis Surabaya, itu merujuk pada wilayah administratif saat itu," ujar Binhad melanjutkan.
Binhad juga memaparkan, Soekarno tercatat sebagai mahasiswa angkatan kedua di THS.
Ia memulai kuliahnya pada 1921 dan menyelesaikan studinya pada 1926 dengan gelar insinyur.
Selain arsip akademik, penguatan tanggal kelahiran juga ditemukan dalam stamboek atau buku riwayat keluarga.
Buku tersebut disusun pada 1933 di Blitar oleh ayahnya, Raden Soekeni Sosrodihardjo, setelah pensiun sebagai guru.
"Dalam stamboek tulisan tangan ayahnya sendiri, tercatat bahwa putranya lahir pada 6 Juni 1902. Ini sumber primer dari keluarga," tegas Binhad.
Ia juga menyoroti konsistensi penulisan nama ayah Soekarno dalam berbagai arsip resmi yang ia telusuri.
"Semua dokumen resmi yang saya temukan menuliskan Soekeni, bukan Soekemi. Ini penting untuk meluruskan kekeliruan yang selama ini beredar," katanya.
Data lain yang ditemukan adalah surat keputusan pemindahan tugas tertanggal 28 Desember 1901 yang menyebut Raden Soekeni dipindahkan dari Surabaya ke Ploso sebagai guru Sekolah Ongko 2 (Tweede Klasse Inlandsche School).
Beberapa bulan setelah kepindahan tersebut, Soekarno lahir.
"SK penugasan itu menunjukkan ayah Bung Karno sudah berada di Ploso sejak akhir 1901. Enam bulan kemudian, tepat 6 Juni 1902, Bung Karno lahir," ungkapnya.
Baca juga: Jembatan Kayu di Desanya Nyaris Ambruk, Warga Sindir DPRD Lebih Sibuk Urus MBG: Ngasih Rp20 Ribu
Soekarno diketahui merupakan anak kedua dari pasangan Raden Soekeni Sosrodihardjo dan Njoman Rai Srimben.
Anak pertama mereka, Soekarmini, lahir pada 1898 di Bali.
Semasa kecil, Soekarno dikenal dengan nama Koesno, sementara kakaknya bernama kecil Karsinah.
Menurut Binhad, rangkaian arsip tersebut bukan hanya menegaskan tanggal kelahiran sang proklamator, tetapi juga memperkaya rekam jejak keluarganya.
"Dokumen autentik seperti ini menjadi pijakan penting untuk menjaga akurasi sejarah nasional," pungkasnya.
Penegasan serupa disampaikan pemerhati sejarah Jombang sekaligus anggota Tenaga Ahli Cagar Budaya (TACB) Jombang, Arif Yulianto atau Cak Arif.
Ia menyatakan, Soekarno lahir pada 6 Juni 1902 di Ploso yang saat itu masuk wilayah Karesidenan Surabaya dan kini menjadi bagian Kabupaten Jombang.
"Kalau merujuk data administrasi dan arsip kolonial, sangat logis jika kelahiran Bung Karno ditulis Surabaya."
"Karena Ploso saat itu memang bagian dari Karesidenan Surabaya," ujar Cak Arif saat dikonfirmasi terpisah di hari yang sama.
Ia juga menunjukkan laporan pekerjaan sipil era Hindia Belanda tahun 1894 yang menyebut sejumlah desa di wilayah kanan Sungai Brantas sebagai bagian dari Surabaya.
"Itu bukti tertulis bahwa desa-desa yang kini masuk Jombang dulu tercatat sebagai wilayah Surabaya. Jadi tidak ada kontradiksi," terangnya.
Cak Arif turut mengaitkan temuan itu dengan narasi dalam buku biografi 'Bung Karno Penyambung Lidah Rakjat Indonesia' karya Cindy Adams yang terbit pada 1966.
Dengan demikian, berbagai arsip resmi dan dokumen keluarga secara konsisten menyebut tanggal 6 Juni 1902 sebagai hari kelahiran Bung Karno, dengan konteks wilayah Surabaya yang merujuk pada Ploso di masa pemerintahan kolonial.
"Dalam buku itu disebut, ayah Bung Karno dipindahkan ke Surabaya dan di sanalah putranya dilahirkan. Surabaya yang dimaksud tentu wilayah administratif saat itu, yakni Ploso," tandas Cak Arif.