Lontarkan Kritik Terhadap Pemerintah, Ketua BEM UGM Dapat Teror, Ada Pesan WA Penculikan
Januar February 15, 2026 02:14 PM

 


 
TRIBUNJATIM.COM- Ketua BEM UGM, Tiyo Ardianto mendapatkan ancaman teror.
 
Itu setelah dirinya melontarkan kritk terhadap pemerintah.
 
Dilansir dari Trribunnews, kasus teror dialami Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta bernama Tiyo Ardianto, setelah menyampaikan kritik terhadap berbagai persoalan nasional.

Ancaman teror ini, memunculkan kekhawatiran terkait sempitnya ruang kebebasan berpendapat, serta perlindungan mahasiswa yang menyuarakan aspirasi.


Mahasiswa UGM, Tiyo Ardianto, mengaku mendapatkan teror setelah menyuarakan soal kebijakan Presiden Prabowo Subianto hingga kasus anak akhiri hidup di Nusa Tenggara Timur (NTT).

Ketua BEM UGM itu, menerima pesan WhatsApp bernada ancaman penculikan.

Baca juga: Tulis Pengalaman Jadi Korban Grooming dalam Buku Broken Strings, Aurelie Moeremans Dapat Teror

Merespons hal tersebut, Ketua Pusat Studi Agama dan Demokrasi (PSAD) Universitas Islam Indonesia (UII), Prof. Masduki, menilai kritik yang disampaikan Ketua BEM UGM terhadap pemerintahan Presiden Prabowo didasari oleh nurani dan kondisi bangsa. 

Menurutnya, tindakan yang dialami Tiyo Ardianto ini, harusnya mendapatkan perlindungan dan pembelaan, terutama dari kampusnya. 

"Ketika kemudian ini terjadi represi, teror, ini juga menjadi test the water, apakah kampusnya memberikan pembelaan." 

"Jadi saya ingin melihat dari sisi ini, selalu kami akan memahami sekaligus prihatin kritik dari akademisi, mahasiswa mengalami tekanan. Represi," kata Prof Masduki, Jumat (13/2026), dilansir TribunJogja.com.

Guru Besar dalam bidang Media Science dan Journalism ini berpendapat, represi yang terjadi terhadap mahasiswa kritis sebenarnya sudah bisa diprediksi sejak awal.

Namun, skala represinya kemungkinan juga akan semakin meningkat.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), represi memiliki arti penekanan; pengekangan; penahanan; penindasan.

Masduki pun menilai, lembaga pendidikan tinggi kampus Tiyo seharusnya memberikan pembelaan ke mahasiswanya.

Menurutnya, ini bukan hal yang normal, sehingga harus dilawan. Tetapi perlawanan tersebut, seharusnya muncul lebih awal dari kampusnya.

"Karena yang disampaikan mahasiswa ini berangkat dari nurani mereka, sebagai warga negara. Kita juga merasakan hal yang sama," jelas Prof Masduki. 

Peristiwa ini, lantas diakui Masduki menjadi tamparan keras bagi negara yang seharusnya mencari solusi substantif dari akar permasalahan.

Apresiasi Keberanian Mahasiswa

Masduki menambahkan, apa yang disampaikan Ketua BEM UGM seharusnya menjadi masukan positif bagi pemerintah. 

"Perubahan kebijakan terutama yang hari ini menjadi perhatian banyak orang, bagaimana ceritanya anggaran pendidikan itu dialihkan semua ke makan bergizi, itu tidak rasional. Nah anak ini menjadi contoh korban tidak langsung dari kebijakan 'keliru' ini," ucapnya. 

Ia pun mengapresiasi keberanian Ketua BEM UGM, yang memberikan kritikan kepada pemerintah,

"Keberanian ini seharusnya menjadi sentilan, senggolan, kenapa justru datang dari mahasiswa dan tidak dilakukan oleh dosen maupun akademisi UGM," imbuh Guru Besar UII itu. 

Komisi X DPR Kecam Tindakan Teror terhadap Ketua BEM UGM

Sementara itu, Anggota DPR RI turut mengecam keras tindakan teror yang dialami Ketua BEM UGM. 

Anggota Komisi X DPR RI, Hilman Mufidi, menyayangkan adanya teror yang ditujukan ke mahasiswa yang menyuarakan kritik tersebut.

"Tindakan teror kepada adinda Tiyo, Ketua BEM UGM tentu sangat tidak sepatutnya dilakukan. Saya sangat menyayangkan aksi itu, itu sama saja dengan praktik pembungkaman," katanya dalam keterangan tertulis kepada Parlementaria di Jakarta, Jumat (13/2/2026).

Politisi Fraksi PKB itu, mendesak aparat kepolisian mengusut tuntas siapa dalang di balik aksi teror terhadap Tiyo. 

Menurutnya, suara Tiyo adalah wujud kebebasan berpendapat dan dilindungi hukum.

"Saya minta aparat mengusut tuntas siapa dalam aksi teror ke adinda Tiyo. Bagaimanapun suara Tiyo itu adalah wujud keterbukaan, wujud kebebasan berpendapat yang sangat perlu dihormati," ungkapnya, dikutip dari situs DPR.

Hilman juga mengingatkan, agar semua pihak untuk menahan diri terhadap setiap dinamika yang terjadi, termasuk terkait kasus anak SD di NTT akhir hidup.

Sebagai informasi, Ketua BEM UGM Tiyo Ardianto mengaku mendapatkan teror setelah memprotes pemerintahan Presiden Prabowo Subianto yang dinilai gagal menjamin hak dasar anak karena tragedi anak akhiri hidup di NTT.

Tiyo menerima pesan WhatsApp bernada ancaman penculikan dari nomor dengan kode Inggris empat hari setelah BEM mengkritik Prabowo.

Selain ancaman penculikan, peneror mengirimkan pesan yang menuduh Tiyo sebagai agen asing dan mencari panggung.

“Agen asing. Jangan cari panggung jual narasi sampah,” bunyi pesan tersebut.

Tiyo mengaku, pertama kali, teror itu diterimanya pada Senin (9/2/2026).

Ada sekitar enam nomor asing yang terus menghubunginya, namun tidak ditanggapi.

Tidak hanya teror pesan, mahasiswa Fakultas Filsafat UGM itu, dikuntit oleh dua orang tidak dikenal dan difoto dari kejauhan.

Tiyo menceritakan, teror tersebut, diterima paska BEM UGM mengirimkan surat ke Nations Children’s Fund (UNICEF), Jumat (6/2/2026).

Masih mengutip Tribun Jogja, surat tersebut, kata Tiyo, dikirimkan karena melihat ironi Tanah Air. Seperti kasus anak yang mengakhiri hidup di NTT setelah sempat meminta orang tuanya membelikan pena dan buku.

Melalui surat itu, Tiyo ingin mengajak dunia untuk ikut menegur pemerintah Indonesia yang dinilai harus mengedepankan prioritas, yakni meningkatan pendidikan dan kesehatan.

Pascapengiriman surat, Tiyo mengaku telah dihubungi oleh pensiunan UNICEF dan akan membantu menyampaikan langsung ke Direktur Eksekutif UNICEF, Chaterine Russell.

Ia menilai, teror yang diterima merupakan bahasa kekuasaan. Menurutnya, apapun ekspresi rakyat yang cinta pada bangsanya harus dilindungi.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.