Diah Tak Menyesal Jual Rumah untuk Bangun Sekolah, Tetap Berjuang Meski Wali Murid Bayar Semampunya
Ani Susanti February 15, 2026 02:14 PM

TRIBUNJATIM.COM - Sekolah Luar Biasa (SLB) Nabighah, adalah sekolah bagi Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) yang didirikan oleh Diah Maria Asih.

Sekolah yang berada di sudut Perum Larangan Mega Asri, Kecamatan Candi, Kabupaten Sidoarjo ini dibangun dari hasil Diah menjual rumah.

Padahal sebelumnya, Diah berkarier di sebuah rumah sakit swasta di Surabaya.

Namun sejak tahun 2008, ia membuat keputusan besar.

Baca juga: Sosok Zubaedah Bisa Bangun Sekolah Gratis Meski Tak Lulus SD, Aset dari Bisnis UMKM Miliaran Rupiah

Ia rela meninggalkan kenyamanan pekerjaannya demi mendirikan sekolah bagi anak-anak berkebutuhan khusus dari keluarga prasejahtera.

Saat melakukan penelitian terhadap anak-anak berkebutuhan khusus di Sidoarjo, Diah mendapati kenyataan yang membuat hatinya terenyuh.

Banyak anak telantar tanpa penanganan dan pendidikan yang layak, hanya karena orangtua mereka tak sanggup membayar biaya sekolah.

“Sayang kalau anak-anak itu sampai tidak bisa mendapatkan pendidikan, karena keterbatasan ekonomi orangtuanya,” ungkap Diah saat ditemui di sekolahnya, Kamis (12/2/2026), melansir dari Kompas.com.

Berangkat dari kegelisahan itu lahir tekad. Ia bahkan menjual rumahnya di Surabaya demi merintis sekolah tersebut. 

“Kalau tidak ada yang peduli, gimana nasib mereka,” tuturnya.

Bolehkan Bayar Semampunya

Sejak awal, Diah menanamkan satu prinsip sederhana, yakni jangan sampai biaya menjadi penghalang anak untuk belajar.

“Saya memang dari awal niatnya ingin membantu anak-anak supaya jangan terbelenggu. Mari kita sekolahkan anak, untuk masalah biaya bisa bayar semampunya,” ujar dia.

Kebijakan di SLB Nabighah pun tak biasa.

Orangtua diberi kebebasan menentukan sendiri nominal yang mampu mereka bayar. 

“Dulu pernah ada yang gratis, tidak membayar sepeser pun. Kalau sekarang ada yang bayar Rp 25 ribu per bulan. Jangan sampai ada anak tidak sekolah karena biaya,” ungkap dia.

Kini, sekolah itu mengasuh 41 murid.

Masing-masing datang membawa cerita dan tantangan yang berbeda.

Salah satu kisah yang paling membekas bagi Diah adalah seorang siswa usia SMP yang mengalami trauma berat akibat perundungan di sekolah inklusi sebelumnya.

“Dia dulu merasa di-bully sampai tidak mau sekolah. Lihat gerbang sekolah itu dia sudah berontak,” ujar Diah.

Dengan pendekatan personal dan terapi emosi yang konsisten, perlahan rasa takut anak itu mencair.

Di lingkungan yang dipenuhi kesabaran dan kasih sayang, ia kembali menemukan keberanian.

“Sekarang dia sudah mau menulis dan punya teman. Dia sampai bilang sama saya, seandainya kenal dia kenal saya dari dulu, dia mungkin tidak akan merasa malu,” ujar Diah dengan mata berkaca-kaca.

Di tengah segala keterbatasan fasilitas, SLB Nabighah juga mencatatkan capaian membanggakan. Tiga alumninya berhasil menembus perguruan tinggi negeri bergengsi.

“Alhamdulillah, ada satu yang diterima di Teknik Pembangunan UGM (Universitas Gajah Mada), dan dua di UB (Universitas Brawijaya) Malang jurusan Pertanian dan Psikologi."

"Itu membuktikan mereka mampu jika diberi kesempatan,” tutur dia.

Baca juga: Pemkab Madiun Siap Bangun Sekolah Rakyat, Target Tampung 2.000 Anak, Dibangun di Lahan 5,8 Hektar

Perjuangan tentu belum usai.

Diah masih harus memutar otak demi kesejahteraan 14 guru yang mengabdi di sekolah itu, melalui sistem subsidi silang dari layanan terapi mandiri.

Namun keyakinannya tak pernah goyah.

Ia masih menyimpan mimpi untuk memperluas gedung sekolah, agar lebih banyak anak berkebutuhan khusus bisa merasakan pendidikan tanpa rasa takut dan tanpa beban biaya.

“Harapan saya, kalau ada rezeki, saya ingin kembangkan gedung ini," ujar dia. 

"Saya yakin Tuhan akan memberikan jalan supaya orangtua tidak takut lagi menyekolahkan anaknya karena biaya yang mahal,” sambung Diah. 

Berita Lain

Presiden Prabowo Subianto merencanakan sekolah gratis untuk masyarakat desil 2 hingga desil 5 dari Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN).

Sekolah tersebut bakal melengkapi Sekolah Rakyat (SR) yang ditujukan untuk masyarakat dalam kategori Desil 1 dan 2 dari DTSEN.

"Saya sedang juga merencanakan untuk desil 2, 3, 4, dan 5. Nah, ini sedang kita rencanakan supaya semua anak-anak kita harus mengalami pendidikan dengan fasilitas yang bagus," kata Prabowo  usai Sekolah Rakyat Menengah Atas (SRMA) 10 di Margaguna, Jakarta Selatan, Kamis (11/9/2025).

Kepala Negara menyatakan, Indonesia tidak boleh tertinggal dengan bangsa lain, utamanya dalam bidang pendidikan.

Ia bercita-cita menjadikan masyarakat mendapatkan pendidikan yang setara.

"Itu cita-cita kita. Insya Allah kita akan sampai ke situ," ucap dia.

Kepala Negara menyatakan, kehadiran SR pun sudah sangat membantu anak-anak yang semula harus putus sekolah karena kendala biaya.

Anak-anak yang tadinya merasa rendah diri karena tidak mendapatkan kesempatan belajar, kembali merawat mimpinya.

"Mungkin merasa rendah diri karena orang tuanya sangat susah hidupnya, kita tarik keluar, kita beri lingkungan yang sebaik-baiknya supaya dia percaya diri dan dia dapat pendidikan yang terbaik, yang bisa kita berikan," kata Prabowo.

Prabowo tidak ingin membiarkan anak-anak itu meneruskan kemiskinan.

Menurut rencana, pemerintah akan menambah 100 unit Sekolah Rakyat pada tahun 2026.

Sekolah itu akan dibangun di wilayah yang paling tertinggal dan membutuhkan sarana pendidikan.

"Jadi kita tidak mau membiarkan dan berharap ada perbaikan alamiah itu harapan kita. Tapi kalau bisa kita, kalau perlu kita intervensi, kita bantu, kita bantu, kita bantu, gitu," kata Prabowo.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.